Home / Pemuda / Cerpen / Si Pembohong Berdarah Biru

Si Pembohong Berdarah Biru

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (waspada.co.id)
Ilustrasi. (waspada.co.id)

dakwatuna.com Hari ini adalah hari libur bertepatan dengan hari isra’dan Mi’raj. Waktu itu badanku sangat letih karena pulang membawa siswa pulang dari lomba cerdas cermat yang diadakan oleh SMP 1 di kota ini dan Pesantren berbatasan dengan kota ini, saya mengambil sesuatu ke dalam kelas, karena kunci kelas ada padaku sebagai wali kelas. Tiba-tiba di sebelah kelas terdengar suara berisik yang mengagetkan aku dan sahabatku Grafi, Grafipun mengejar dan mencari tahu orang yang berisik tadi ternyata sebagiannya sudah kabur hanya tertinggal satu orang yang masih pusing lalu aku memanggil bomby penjaga keamanan di sekolah, bomby memanggil anak yang pusing tadi.

“ Hei, sini kamu ! Siapa namamu?”

“Akrif bang,”

“Ambil lem itu!”

“Ini Bang”(Akrif mengambil sisa lem yang terletak di samping sekolah dengan merek Lem Cap Kambing)

“Kamu mengisap lem ya! Dengan nada kesal”.

”Tidak bang saya tidak melakukan apa-apa, saya hanya menunggu teman di sini bang”.

“Bomby dengan kesal bertanya kalau menunggu teman mengapa harus di belakang ini. Ini kan komplek sekolah. Di mana rumahmu?”

“Di sana Bang,” anak itu menunjuk ke arah jalan raya.

Bomby dengan gagah perkasa menyeret baju bagian belakang anak itu yang berwarna merah. Dengan balik kanan Bomby mengantar anak ini ke rumahnya, karena jalan ke rumah anak ini melewati gang maka ibu-ibu komplek berdatangan dari rumahnya dan terdengar bisikan dari ibu-ibu kalau anak ini anak orang kaya dan bapaknya disegani oleh masyarakat karena termasuk pejabat di kota ini. Dengan rasa takut, kesal, dan marah kepada Bomby anak ini selalu memberontak. Lalu terlihatlah sebuah rumah yang mewah di depannya ada kolam renang dan air mancur yang indah. Setibanya di rumah anak ini, bertemulah dengan ibunya yang berpakaian seadanya, celana hawai, baju kaos oblong dan rambut ikalnya yang kurang terurus. Bomby menceritakan kepada ibunya kejadian yang sebenarnya. Aku pun menasehati ibunya tadi. Ibunya dengan nada tidak menerima anaknya mengisap lem, mengucapkan terima kasih.

Aku kagum kepada temanku Grafi dan Bombi ternyata masih ada orang yang berhati mulia, perhatian, dan menyelamatkan moral generasi muda. Kami pulang dengan bertanya-tanya, apakah ibu ini betul-betul menerima atau hanya sekadar basa-basi, setibanya di komplek sekolah aku masuk lagi ke dalam kelas untuk mengambil barang yang tadinya belum sempat diambil. Tak lama kemudian terdengar suara motor yang bunyinya tak menentu kadang lunak dan terkadang keras krec…..krec….krec…krec.., disela-sela itu terdengar suara ibu-ibu meraung dan berteriak-teriak yang memekakkan telingaku.

“Kurang ajar, enak saja kamu bilang anakku pengisap lem, anakku orang baik biasanya kalau anakku bilang ya, berarti ya, kalau katanya tidak berarti tidak. Aku yang melahirkan, aku lebih tahu siapa anakku, kalau seandainya terbukti anak saya mengisap lem saya bunuh anak saya sekarang juga.” (ibu itu berteriak sambil melempar lem dari tangannya kepada Bomby.

“Saya tidak bermaksud memiliki tujuan yang tidak baik kepada anak ibu”

“Kamu tahu nggak, orang sekomplek sudah tahu kalau kamu sudah mempermalukan aku dan anakku di depan orang ramai. Kalau semua orang tahu begini “Apa kata Dunia”.”

“Terserah ibu, kalau ibu tidak menerima anak ibu dikatakan yang baik silakan, kita selesaikan dengan baik dan kita tanyakan kepada temannya yang lain yang bernama Gerry.”

“ Saya nggak mau tahu pokoknya harus diselesaikan, kalau seandainya Bapaknya tahu, habis kamu dibuatnya.” (dengan nada kesal super women itu mengancam Si Bomby yang gagah perkasa tadi)

***

Aku termenung, ternyata ibu-ibu sekarang berbeda dengan ibu zaman dulu ketika anak-anaknya berbuat salah atau bertengkar dengan orang lain Ia tidak melindungi dan menyalahi orang lain tapi Ia langsung memarahi anaknya dan memukulnya dengan sapu lidi. Walaupun anaknya sendiri tidak salah.

Aku berusaha dengan lapang dada dan berkepala dingin untuk menyelesaikan masalah ini. Aku memanggil saksi yang lain yang bernama Dodi. Dodi aku panggil ke dalam kafe berdekatan dengan tempat kejadian karena kalau dipanggil dekat Akrif dan mamanya dia tidak akan pernah jujur karena takut.

Dody mengatakan dengan takut dan bermuka merah padam bahwa Gerry dan Akrif mengisap lem di belakang sekolah berdua. “Ya, terima kasih kamu sudah berkata jujur sama bapak, ya! Karena sikap jujur itu merupakan sikap positif yang harus dimiliki setiap orang.”

Namun pada masa sekarang kejujuran merupakan hal yang mulai langka atau hal yang jarang bisa kita jumpai. Padahal, kejujuran dapat menunjukkan jalan kebaikan yang nantinya akan mengantarkan kita ke surga. Seperti arti pada sebuah hadis di bawah ini:

Al-Muwatta’ Ibnu Malik (w. 179 H/795 M)

حَدَّثَنِي مَالِك أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ كَانَ يَقُولُ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَالْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَالْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ أَلَا تَرَى أَنَّهُ يُقَالُ صَدَقَ وَبَرَّ وَكَذَبَ وَفَجَرَ

Artinya:

“Malik menceritakan kepadaku dan disampaikan kepadanya bahwa Abdullah bin Mas’ud pernah mengatakan, “Pegang teguh kejujuran! Sungguh, kejujuran itu menunjukkan jalan kebaikan dan kebaikan itu mengantarkan ke surga. Waspadalah kalian terhadap kebohongan! Sungguh, kebohongan itu menunjukkan jalan kesesatan dan kesesatan itu mengantarkan ke neraka. Tahukah engkau bahwa ia (lalu) dijuluki sebagai orang jujur, pelaku kebaikan, pembohong, dan pelaku kesesatan?”

Tiba-tiba dari luar terdengar ada yang memanggilku, “Pak, ini Gerri datang”. Inilah salah satu bukti Allah menunjukkan bahwa yang bohong itu cepat lambat akan terungkap. Gerry aku panggil dan menanyakan yang sebenarnya. Gerry pun menceritakan yang sebenarnya bahwa Ia mengisap lem dengan Akrif di belakang sekolah dan yang mengajak Akrif.

“Kamu tahu nggak, lem ini lem kambing disebut juga dengan lem kuning, mungkin karena warnanya yang kuning itu. Lem ini dibuat dari karet dengan mencampurkan karet tersebut dengan Zink oksida atau Magnesium oksida menggunakan alat khusus, sehingga terbentuklah karet yang bentuk lembaran tipis. Selanjutnya lapisan tipis tadi dibuat menjadi pasta menggunakan pelarut. Dengan penambahan panas pada proses ini akan menjadi lebih mudah dan lebih efisien. Setelah itu baru dicampur dengan resin, dan diaduk hingga menjadi lem yang sesuai dengan yang diinginkan yang memproduksinya. Lem ini bisa mengakibatkan rusaknya struktur pusat otak kita.” Gerri tertunduk mendengar penjelasanku. Aku nggak sabar ingin memanggil mamanya akrif. Aku ingin mamanya Akrif mendengar langsung dari mulutnya Gerry. Bomby tolong panggil mamanya Akrif biar Ia langsung mendengarnya. Bombi memanggil mamanya Akrif dan Gerry mencerikan semuanya kejadian yang sebenarnya tentang Akrif.

Aku memanggil Akrif dan mengatakan kepada Akrif, seandainya orang tua Akrif meninggal nanti yang diharapkannya adalah doa dari anak yang shalih. “Tolong jujur kepada Bapak walaupun kamu bukan murid bapak sekarang tapi Bapak sudah menganggap kamu sebagaimana anak bapak sendiri.” Air mata Akrif mengalir dengan derasnya, “Ya pak, Akrif mengisap lem di belakang sekolah, maafkan Akrif Pak, Akrif bohong.” Mama Akrif tertunduk malu dan bercampur sedih, sambil menangis mamanya berkata, “Maafkan ibu yang sudah melindungi anak ibu yang selama ini ibu sangka baik ternyata sudah sekian lama membohongi orang tua. Ibu sudah menurutkan emosi dan mengelurkan bahasa kebun binatang kepada Bombi, Graffi dan Pak Guru.”

Aku mulai menasehati semuanya… Mengapa sikap jujur itu ‘penting’? Karena kejujuran dapat membuat hati kita nyaman dan tentram. Ketika kita berkata jujur maka tidak akan ada ketakutan yang mengikuti, atau bahkan kekhawatiran tentang terungkapnya sesuatu yang tidak kita katakan. Seseorang yang terbiasa berkata jujur akan merasa tidak nyaman saat dia berkata bohong walau hanya sekali.

Berbohong adalah sikap negatif yang tidak disukai Allah. Bahkan kebohongan itu bisa membawa kita kepada jalan kesesatan yang akhirnya akan mengantarkan kita ke dalam neraka. Seseorang yang terbiasa berbohong akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan awalnya. Bahkan seseorang yang terbiasa berbohong akan menjadi psikopat. Bohong adalah lingkaran setan yang pasti sulit dihentikan.

Berbohong adalah dosa besar. Karena berbohong berarti menyalahi norma-norma agama. Seorang pembohong biasanya akan sulit dipercaya orang lain, karena ia telah berbohong tentang sesuatu yang ia lakukan atau mengingkari janji yang dibuatnya. Maka dari itu, betapa pentingnya sebuah kejujuran. Walaupun sebenarnya memang tidak mudah untuk bersikap jujur atau menerapkan kejujuran itu dalam kehidupan sehari-hari kita. Tapi mulailah mencoba, dari hal yang kecil saja, misalnya ketika meminta uang kepada ibu dengan alasan membayar buku, tetapi setelah menerima uang itu, malah dipergunakannya untuk membeli baju dan aksesoris. Keesokan harinya ibu bertanya dan tentu saja akan dijawab dengan kebohongan. Beberapa hari kemudian ibu tahu, bahwa uang yang diberinya sebenarnya tidak untuk membeli buku, dan apa yang dikatakan adalah kebohongan. Lalu apa yang akan terjadi? Tentu saja ibu tidak akan memberi uang lagi, walaupun sebenarnya uang itu memang akan dipergunakan untuk membayar buku.

Nah, itulah salah satu akibat dari sikap berbohong. Jadi renungkanlah, betapa ruginya sekali saja berbuat kebohongan. Cobalah untuk memulai berkata jujur dimulai dari lingkungan keluarga hingga ke lingkungan sekitar, dimulai dari orang terdekat hingga orang-orang yang baru kita kenal. Bayangkan, betapa indahnya hidup ini jika tidak ada dusta yang menodainya.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 6,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dasril, M.Pd
Guru SDN 10 Sapiran Kota Bukittinggi. Jl. Sertu kamaruddin kec. Aur Birugo Tigo Baleh Kota Bukittinggi asli sumpur Kudus Kec. Sumpur Kudus Kab. sijunjung. hobi membaca dan menulis serta mencari inspirasi dimana saja, kapan saja dengan siapa saja, dan mendidik dengan sepenuh hati dan sepenuh hari.

Lihat Juga

Sepasang Sepatu Biru