Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Mengenali Emosi Sejak Dini

Mengenali Emosi Sejak Dini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (bowerpowerblog.com)
Ilustrasi. (bowerpowerblog.com)

“Aku suka tiba-tiba sedih, pengen nangis tapi gak tahu kenapa. Gak ada alasannya.”

dakwatuna.com Beberapa orang mengalami seperti apa yang diungkapkan oleh seorang mahasiswa yang sedang konsultasi pada seorang dosen psikologi seperti kalimat di atas. Sedih adalah sebuah emosi, menangis adalah sebuah ekspresi dari emosi. Emosi berasal dari kata emovere yang berarti pergerakan/menggerakan. Emosi menggambarkan adanya kecenderungan untuk bertindak. Seringkali pengertian emosi disempitkan hanya pada amarah, suatu perasaan negatif atau adanya ledakan pada dalam diri. Padahal makna emosi lebih luas dari sekadar perasaan-perasaan negatif. Menurut Watson, emosi dasar pada manusia adalah bahagia, marah, sedih . Emosi berbeda dengan feel/rasa. Rasa tidak ada kecenderungan untuk melakukan tindakan, namun jika rasa sudah mendorong sebuah tindakan maka ia disebut sebagai emosi.

Sedih merupakan sebuah rasa, tetapi jika kesedihan itu mendorong seseorang untuk menangis, maka kesedihan tersebut telah menjadi emosi. Emosi adalah keadaan terangsang (aroused state) yang memiliki komponen fisiologik, situasional, dan komponen kognitif. Saat terjadi sebuah emosi baik itu bahagia maupun marah terjadi sebuah respon di dalam tubuh yang dikenal sebagai respon fisiologis seperti jantung berdebar, meningkatnya tekanan darah, dll, terkait komponen situasional , seringkali emosi muncul pada situasi-situasi tertentu yang kemudian dinilai oleh aspek kognitif kita, maka saat itu munculah penilaian terhadap stimulus, dari penilaian kognitif tersebut memicu sebuah emosi bahagia, sedih, ataupun emosi lainnya. Ada hal penting yang perlu diketahui bahwasanya kita harus mengenali kondisi emosi kita saat situasi apapun. Kejadian “Aku suka tiba-tiba sedih, pengen nangis tapi gak tahu kenapa. Gak ada alasannya” disebabkan perlakuan yang diterimanya saat kecil. Masa kanak-kanak adalah masa pembentuk awal pada setiap pola perilaku individu. Pola perilaku yang terbentuk pada anak-anak dibentuk melalui unit sosial terkecil yakni keluarga inti terdiri dari ayah dan ibu, lebih penting lagi adalah peran pengasuh dalam membentuk pola perilaku anak. Pada beberapa orang tua sering mengajarkan pada anaknya yang terjatuh atau sedang bersedih “hayo jangan nangis, sudah besar kok nangis” ini adalah tindakan yang salah kaprah. Saat seorang ibu mengatakan hal yang demikian pada putri/putranya terutama saat ia masih kecil, sebenarnya yang sedang si ibu ajarkan adalah anak-anak belajar tidak mengenali emosi dan ini bukanlah hal yang positif. Jangan mengajarkan anak bahwa menangis saat terjatuh seakan-akan sebuah ‘dosa besar’.

Ilustrasi. (Ditta Nisa Rofa)
Ilustrasi. (Ditta Nisa Rofa)

Anak perlu disadarkan ‘ia sakit ya nak ? sudah tidak apa-apa’ adalah kata-kata yang lebih baik diucapkan agar anak mampu mengenali apa yang ia rasakan dibandingkan ketika orang tua mengatakan “eh, anak mama ga boleh nangis” hal tersebut akan menumbuhkan sikap tidak mengenali apa yang ia rasakan. Ketika anak tumbuh dewasa ia sudah terbiasa untuk menahan setiap apa yang ia rasakan. Padahal kemampuan mengenali emosi sangatlah penting. Kemampuan mengenali emosi yang ditanamkan sejak dini pada anak akan menstimulasi anak hingga masa dewasa untuk memahami apa yang terjadi pada diri, ketika individu memahami apa yang terjadi pada diri akan menimbulkan kesadaran diri dan akan berkembang menjadi sebuah kondisi penguasaan diri.

Ketika individu mampu memegang kendali atas dirinya maka hal ini akan berdampak pada proses interaksi dengan orang lain, sikap empati, tenggang rasa, mau mengalah pada individu tidak akan muncul jika individu tidak memiliki penguasaan diri yang baik, keterampilan berinteraksi dengan orang lain lebih luas akan berdampak pada keterampilan sosial , jika kendali dalam sosial serta keterampilan sosial individu pada tataran sangat baik maka dapat dipastikan individu tersebut memiliki kecerdasan emosi yang baik. Atas dasar bahwa mengenali emosi seseorang akan dapat memahami dirinya dan tumbuh kesadaran diri sehingga ia mampu memiliki penguasaan diri yang baik, hal ini akan berdampak pada bagaimana ia berhubungan dengan orang lain, sikap hubungan yang baik dengan orang lain akan memunculkan empati pada diri dan hal ini merupakan cikal bakal dari keterampilan sosial, yang merupakan indikator dari kecerdasan emosi sehingga mengenali diri saat sedih, menangislah jika memang ingin menangis, ketika bahagia maka tertawalah, adalah langkah awal dan menjadi hal yang sangat penting.

Sumber: Kuliah Psikologi Emosi , Prof Dr. Sofia Retnowati, M.S Fakultas Psikologi UGM

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,78 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ditta Nisa Rofa
Mahasiswi S1 Psikologi UGM, Peserta Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis Nurul Fikri Regional 3 Yogyakarta. Aktif di BEM KM UGM dan Forum Sahabat PSDM UGM. Sangat tertarik mempelajari perilaku dan proses metal manusia. Selama masih ada jiwa maka selama itu pula eksistensi psikologi ada.

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial