Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mendidik Ala Rasul

Mendidik Ala Rasul

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Anak-anak (Yudi/Primair)
Ilustrasi – Anak-anak (Yudi/Primair)

dakwatuna.com Pagi sabtu, saya tidak mendapat tugas untuk mengajar. Ya, pagi itu siswa kelas tiga akan berolahraga untuk empat jam pelajaran. Dan itu artinya saya free. Bisa mengoreksi hasil ulangan siswa kemarin.

Sejenak saya duduk di kantor. Setelah saya amati guru dari kelas satu hingga kelas enam, ternyata guru kelas satu tidak datang. Ternyata beliau telah izin karena ada urusan keluarga yang tak bisa ditinggalkan. Itu artinya tidak ada guru yang akan mengajar di kelas satu. Menyadari hal ini, saya langsung saja keluar dari majelis guru. Berniat masuk di kelas satu.

Ketika saya keluar dari majelis, ada pemandangan yang menyejukkan hati. Tak menyangka, siswa kelas satu dan dua telah berbaris di depan kelasnya. Meskipun belum ada guru.

Saya salut dengan mereka. Ya, mereka telah mencontoh kebiasaan kakak kelasnya, kelas tiga. Memang telah saya biasakan di kelas tiga itu sebelum masuk kelas harus berbaris dulu di depan kelas. Setelah berbaris rapi dan mendengar sepatah dua patah dari saya, maka mereka baru masuk ke dalam kelas.

Ternyata para siswa kelas satu dan dua itu melihat. Ya, mereka juga ingin seperti itu. Dan memang, guru wali kelasnya juga telah mengikuti kebiasaan saya dengan kelas tiga ini.

Tapi yang membuat saya terharu adalah mereka yang berbaris dengan rapi meski tidak ada guru yang mengawasi. Memang masih ada satu dua orang siswa yang berbaris semaunya saja. Tapi sekali lagi, yang membuat saya bahagia adalah hampir semua siswa tersebut berbaris rapi tanpa adanya wali kelas mereka yang menyuruh. Itu menandakan telah adanya kesadaran atas apa yang harus mereka kerjakan.

Begitulah anak-anak. Mereka lebih cenderung meniru perilaku yang mereka lihat. Sebenarnya begitu jugalah dengan kita. Manusia itu lebih suka diberi contoh untuk berbuat sesuatu daripada hanya diperintah-perintah atau disuruh. Bukankah rasul kita pun telah seperti itu?

Seperti kita ketahui, tentang apa yang baik, tentang apa saja hal yang seharusnya kita kerjakan, telah dilakukan terlebih dahulu oleh Rasulullah SAW sebagai teladan kita. Ya, Rasulullah memang telah sengaja melakukan terlebih dahulu apa yang baik itu hingga para sahabat mengikuti apa yang dilakukan oleh nabi tersebut. Dan hal baik yang mereka contoh dari Rasulullah dan dilakukan berulang-ulang, maka hal ini pun akhirnya menjadi kebiasaan.

Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa lingkungan sangat berpengaruh pada pribadi kita. Jika kita hidup di lingkungan yang baik, maka setiap gerak-gerik kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang di sekeliling kita secara tidak langsung mengajarkan kita pada kebaikan. Begitu juga dengan ketidakbaikan itu, biasanya hal itu muncul ketika kita terlalu sering berinteraksi dengan orang-orang yang belum bisa berlaku baik, hingga akhirnya kita menjadi ikut-ikutan melakukan ketidakbaikan itu.

Jadi, jika kita ingin menjadi orang baik, maka bergaullah dengan orang-orang baik. Semoga dengan seringnya kita berinteraksi dengan orang-orang baik dapat membuat kebaikan yang ada pada diri mereka menular ke diri kita.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sri Wahyuni
Pengamat pendidikan dan Guru Muda SGI V Dompet Dhuafa (http://www.sekolahguruindonesia.net/). Saat ini penulis ditempatkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Lihat Juga

Turki Pecat 27 Ribu Tenaga Pendidikan Pro-Kudeta