Home / Berita / Nasional / Anis Matta: Sumpah Pemuda Tonggak Penting “Menjadi Bangsa Indonesia”

Anis Matta: Sumpah Pemuda Tonggak Penting “Menjadi Bangsa Indonesia”

Presiden PKS Anis Matta saat orasi di GBK, Ahad (16/3). (dakwatuna.com)
Presiden PKS Anis Matta saat orasi di GBK, Ahad (16/3). (dakwatuna.com)

dakwatuna.com – Jakarta. Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum yang selalu istimewa bagi Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta. Hal ini disebabkan 28 Oktober juga merupakan tanggal kelahirannya, meski unik tidak tercatat dalam akta kelahirannya karena persoalan administrasi di kampung halaman (Bone, Sulawesi Selatan-red).

28 Oktober menjadi hari yang penting bagi bangsa untuk melihat ke belakang mengenai rentang sejarah “menjadi Indonesia”. “Sumpah Pemuda adalah tonggak penting ketika kita menjadi bangsa Indonesia’ sebagai identitas dan cara hidup,” tulis Anis dalam akun twitternya @anismatta, Selasa (28/10).

Anis memulai penjelasannya dengan dimensi Nasionalisme Indonesia yang terbagi dua, ke luar dan ke dalam. ‘Ke luar’, menurut Anis, merupakan semangat untuk melawan penjajahan. Sedangkan ‘ke dalam’ ialah proses pembentukan identitas baru.

Selain itu, Anis menulis dua elemen penting sebuah bangsa, yaitu kehendak (will) dan budaya (culture).

“Will, kebangsaan Indonesia adalah ekspresi untuk keluar dari jerat penderitaan akibat penjajahan. Culture, nasionalisme Indonesia merupakan transformasi budaya menuju masyarakat modern,” tulis mantan Wakil Ketua DPR RI tersebut.

Anis menjelaskan bahwa Indonesia merupakan bangsa baru yang bergerak menuju pengelolaan hidup bersama, dijalankan dengan kaidah-kaidah rasionalitas.

“Ide tentang Indonesia adalah ide yang modern. Indonesia adalah bangsa yang lahir dari rekayasa dan konsensus yang dibimbing oleh kesadaran sejarah,” tulis Anis.

Anis kemudian memaparkan konsep “gelombang sejarah Indonesia” yang ia bagi kedalam tiga periode. Gelombang pertama adalah ketika kita (rakyat) memutuskan menjadi negara bangsa. Periode gelombang pertama terjadi setelah melalui penderitaan yang panjang, bangsa Indonesia sadar bahwa imperialisme tidak lagi dapat dihadapi oleh kerajaan-kerajaan kecil atau etnis-etnis yang ada.

“Hanya ada satu jalan keluar, yaitu melebur dalam satu simpul yang lebih besar dari simpul-simpul primordial selama ini. Itulah ide awal Indonesia. Jika kita bedah Indonesia pada hari kelahirannya, kita akan temukan bahwa nilai terdalamnya adalah solidaritas,” tegasnya.

Anis kemudian melanjutkan tulisannya mengenai gelombang kedua sejarah Indonesia, yaitu periode pemerintahan hingga masa Reformasi. “(Gelombang kedua terjadi-red) ketika kita berusaha menjadi negara-bangsa modern,” imbuhnya.

Kini, menurut Anis Matta, bangsa Indonesia sedang memasuki ‘gelombang ketiga’, dimana bonus demografi dan demokratisasi menjadi modal untuk menjadi bangsa yang kuat.

Sebagai penutup Anis menekankan bahwa pemahaman akan rangkaian sejarah akan membangun kesadaran ke-Indonesiaan kita (rakyat Indonesia-red). “Sumpah Pemuda adalah sumpah kita sampai hari ini. Semoga Allah meridhoi perjalanan negara-bangsa kita,” tutupnya. (nur/abr/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Abdul Rohim

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abdul Rohim
Seorang suami dan ayah

Lihat Juga

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mustafa Kamal. (pks.id)

PKS Larang Anggotanya Gunakan Atribut Partai

Organization