Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Memperjuangkan Nilai Islam

Memperjuangkan Nilai Islam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (tr.forwallpaper.com)
Ilustrasi. (tr.forwallpaper.com)

dakwatuna.com Memperjuangkan nilai merupakan sebuah keniscayaan hidup. Karena nilailah yang membentuk karakter. Sehingga pepatah kuno mengatakan “Bakat dibawa dari lahir, tetapi karakter dibawa sampai mati”. Pesan abadi ini benar adanya. Apalagi karakter seseorang, menjadi faktor utama yang menentukan bagaimana ia akan dikenang setelah kepergiannya. Lagi-lagi perkara akhlak, dan kebermanfaatan. Sehingga rasul diutus kedunia pun, untuk menyempurnakan akhlak seluruh umat manusia, dan menjadi manusia yang paling bermanfaat untuk masyarakatnya.

Kita bisa mempelajari karakter dari setiap nilai ideologi besar yang mengharu-biru pada abad ke-19, yang membentuk peradaban sebuah masyarakat. Ideologi yang memiliki karakter tersendiri dalam memperjuangkan nilai-nilai kehidupan. Ideologi yang mempengaruhi suhu politik-ekonomi global, bahkan berdampak terhadap perdamaian antar negara secara keseluruhan. Sehingga kita semua dapat mengetahui bahwa pernah ada perang-perang besar; seperti perang dunia I, perang dunia II, hingga perang dingin yang mengisi dinamika kehidupan dunia global secara keseluruhan.

  1. Dari fasisme ada 3 negara besar seperti Jerman, Italia, dan Jepang yang menganut nilai-nilainya. Nilai fasisme berusaha untuk mengatur bangsa menurut perspektif korporatis, nilai, dan sistem yang diyakini oleh elit pemerintahannya. Mereka mempraktikkan pembentukkan partai tunggal negara totaliter, yang berusaha memobilisasi massa suatu bangsa demi terciptanya “manusia baru” yang ideal.

Di Jerman, fasisme terasa saat di bawah kepemimpinan Adolf Hitler. Adanya keyakinan bahwa ras Arya-lah yang menjadi ras dengan kasta tertinggi. Sehingga ras Arya yang paling layak memimpin dunia di atas ras-ras lainnya. Di Italia, Fasisme terasa di bawah kepemimpinan Benito Mussolini; yang mengklaim bahwa Italia modern adalah penerus Romawi Kuno, dan mendukung pendirian kekaisaran Italia. Di Jepang, Fasisme dipelopori oleh perdana menteri Tanaka; dengan asas Dai Nippon-nya, bahwa Jepang adalah pemimpin Asia, Jepang pelindung Asia, dan Jepang Cahaya Asia. Ketiga negara fasis tersebut meninggikan kekerasan, perang ,dan militerisme untuk menciptakan perubahan positif dalam masyarakat.

  1. Liberalis-Kapitalis. Paham yang muncul akibat penderitaan rakyat oleh kaum gerejawan yang kian feodal, dan ortodoks. Sehingga muncul tokoh seperti Marthin Luther, yang membuat kritikan pedas terhadap kebijakan gereja yang dirasa meresahkan. Liberals-Kapitalis memang muncul secara bertahap. Yang inti nilainya adalah memperjuangkan kebebasan. Ada tokoh seperti John Locke dari Prancis, yang lahir dengan pemikiran demokrasinya. Ada Thomas Jefferson dengan Declaration of Independence-nya, sehingga lahirlah kemerdekaan Amerika Serikat. Hingga kepemimpinan ratu Victoria, yang menjadi pelopor liberalis-kapitalis di Walaupun semua tokoh yang ada lahir sebelum abad ke-19, tapi negara seperti Prancis, Amerika Serikat,dan Inggris merupakan basis utama Liberalis-Kapitalis di abad ke-19.
  1. Komunis-Sosialis. Nilai dasarnya ialah menjawab tantangan pertentangan kelas. Adanya kesenjangan kelas antara kaum proletar dan kaum borjuis. Sehingga perjuangan dasarnya berlandaskan egalitarianisme. Adapun negara besarnya ialah Uni Soviet (Sekarang Rusia), Republik Rakyat Tiongkok, dan Korea Utara. Jika pelopor Komunis-Sosialis di Uni Soviet adalah Vladimir Lenin, sehingga bisa terjadi peristiwa Bolshevik. Maka di Tiogkok ada Mao Zedong, yang menjadi pemimpin revolusi, sekaligus menjadi presiden pertama Republik Rakyat Tiongkok. Dan terakhir ada Kim Il Sung di Korea Utara yang menjadi presiden, sekaligus politisi paling berpengaruh di Korea Utara

Dari berbagai ideologi yang mengharu-biru pada abad ke-19; semuanya saling berkompetisi, semuanya mempunyai hasrat untuk menjadi hegemoni, semuanya memiliki falsafah perjuangan yang mempunyai nilai kehidupan tersendiri. Sehingga dalam perkembangannya pun, setiap ideologi dapat memiliki pengikut dalam jumlah yang besar. Tapi kunci dari setiap ideologi yang berkembang hanya satu, karakter. Nilai yang diperjuangkan memiliki karakter tersendiri. Ada nilai filosofis, dan historisnya tersendiri. Sehingga kerja-kerjanya pun menjadi jelas, dan orang menjadi tahu kemana orientasi politik, sosial, dan ekonomi dari setiap ideologi ini mengarah.

Dari sinilah peran kepemimpinan surgawi seharusnya menuliskan narasinya sendiri. Sebuah narasi kepemimpinan surgawi, dari karakter nilai islam yang mencintai perdamaian. Bahwa Al-Quran, tidak pernah secara definitif menjelaskan bentuk negara, dan pemerintahan. Karena bentuk negara dan pemerintahan selalu berubah, mengikuti perkembangan konteks ruang dan waktu. Melalui pendekatan apa kita berjuang, Allah beri keleluasaan. Dan kita bebas memilih.

Sehingga setiap muslim dituntut untuk menegakkan nilai Islam di manapun ia berada. Yang jelas, bahwa perjuangan tetaplah harus berdasarkan nilai-nilai Islam, yang berdasarkan pada Al-Quran dan sunnah. Karena pendekatan tidak bisa dipaksakan, dan adaptif terhadap konteks ruang dan waktu. Entah kita berada di Amerika Serikat, berada di Rusia, berada di Jepang, bahkan berada di Indonesia sekalipun. Sehingga yang lebih penting dari kepemimpinan surgawi ialah subtansinya, bukanlah pendekatannya. Dan biarkan subtansi Islam memasuki seluruh sisi kehidupan masyarakat, dengan pendekatan yang berbeda-beda.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Ilustrasi. (vm-kompania.com)

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia