Home / Berita / Internasional / Amerika / Pertama Kali Membaca Al-Quran, Mary Merasa Takut dan Gemetar

Pertama Kali Membaca Al-Quran, Mary Merasa Takut dan Gemetar

Mualaf (ilustrasi). (republika.co.id)
Mualaf (ilustrasi). (republika.co.id)

dakwatuna.com – Jakarta.  Mary lahir di Oklahoma, Amerika Serikat. Ia dibesarkan dalam keluarga Kristen yang taat. “Ibu saya selalu menjaga saya dari hal buruk. Keluarga kami setidaknya tiga kali mengunjungi gereja,” kata dia seperti dilansir Onislam, Senin (27/10/14).

Mary mengaku bangga dengan keluarganya yang mempraktekkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. “Kami diajarkan tidak mengkonsumsi alkohol, rokok, atau narkoba. Tidak dibolehkan mengumpat apalagi melakukan seks bebas,” kenangnya.

Mary sendiri hampir halal seluruh isi Alkitab. Ia juga aktif mengisi kegiatan gereja, seperti menjadi anggota paduan suara, bermain organ dan lainnya.

Pertemuan Mary dengan Islam terjadi ketika bertemu dengan mahasiswa Muslim. Usia Mary saat itu 49 tahun. Ia pun masih menjadi pelayan gereja yang aktif. Di luar pertemuan itu, Mary memang senang membaca, utamanya terkait masalah Ketuhanan.

Ketertarikan membaca literatur Islam inilah, yang akhirnya membawa Mary menemukan kebenaran Islam. “Sejak kecil saya tidak pernah membaca buku-buku Islam,” kata dia.

Lulus SMA, kabar tidak mengenakan datang dari kedua orang tuanya. Mary begitu sedih lantaran kedua orang tuanya bercerai. Untuk menghindari hal negatif karena emosinya yang labil, Mary memilih untuk bekerja dan menikah. Namun, usia pernikahannya tidak lama. Di perceraian keduanya, teman dan kolega Mary mendorongnya untuk mengikuti tes beasiswa di Universitas Tusla.

Ketika membaca sebuah buku di perpustakaan, ia menemukan sosok Muhammad. Lalu, ia mendapati ajaran Nabi Muhammad SAW yang diketahuinya bernama Islam. “Buku itu menulisnya bukan Islam tapi Muhammadisme. Saya tidak tahu memang kalau nama agama yang dibawa Rasulullah itu Islam,” kata dia.

Suatu hari, ketika ia berada di kampus, ia bertemu dengan mahasiswa Muslim asal Malaysia. Rasa kagum muncul dalam benak Mary ketika bertemu dengan mereka. “Saya berpikir, agama yang mereka peluk sepertinya begitu indah. Ini bisa dilihat dari cara hidup mereka,” ucap dia.

Rasa kagum itu menjadi ketika diantara mahasiswa asal Malaysia itu ada yang mengenakan hijab. Awalnya, kekaguman Mary hanya sebatas gaya berbusana. Mary belum tahu bahwa hijab itu merupakan  cara Allah melindungi Muslimah.

Selama bertahun-tahun, Mary bermasalah dengan sakit di kepalanya. Ketika sakitnya kambuh, ia merasa sedih karena tidak ada seorang pun yang mau membantunya. Mary selalu berdoa agar penyakitnya hilang. Ia baca Alkitab, tapi tetap saja rasa sakitnya tidak hilang.

Suatu hari, ia bertemu dengan Amina, salah seorang Mahasiswi Muslimah berhijab dari Malaysia. Amina meminta Mary membantunya untuk mengajari menulis bahasa Inggris. Amina lalu mengajak kedua temannya Saif (Yaman), Tariq dan Khalid (Oman), dan Yousif (Uni Emirat Arab).

Saat mengajari mereka menulis bahasa Inggris, lagi-lagi muncul rasa kagum dalam diri Mary. “Mereka memiliki sopan santun. Mereka seperti dekat padahal berbeda negara,” ucapnya.

Mary pun bertanya soal agama yang dianut mereka. Lalu salah seorang dari mereka memberikan Mary Al-quran terjemahan bahasa Inggris. Ketika Mary hendak membacanya, Saif meminta Mary untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Kemudian Mary diminta menyebut nama Allah sebelum membaca Al-quran.

“Saat membacanya jujur, saya takut dan gemetar,” kata dia.

Mary mengaku terkejut ketika membaca Al-quran. Berulang kali, Al-quran menyebut kata Yesus (Isa). Dikatakan Al-quran, Yesus itu manusia biasa yang dipilih menjadi Nabi. Bukan anak Allah yang sering ia ketahui ketika membaca Alkitab.

“Saya biasa diajarkan Yesus itu anak Allah dan ia datang ke bumi untuk menembus dosa manusia,” kenang dia.

Mary yang gundah merasa tidak sabar meminta keterangan anak didiknya yang Muslim. Ketika berada di apartemen, Mary pun memutuskan memeluk Islam. Usai bersyahadat ia lakukan sujud syukur ke arah kiblat, meski sebenarnya Mary tidak tahu dimana Mekah itu berada.

“Saya berdoa. Ya Allah. Kau tahu saya lebih baik dari saya sendiri. Kau tahu dosa saya. Kau tahu saya telah mencari kebenaran sepanjang hidup saya. Kau tahu, saya mempelajari Islam,” kenang Mary.

“Saya selalu menyebut nama-Mu selama bertahun-tahun, namun saya baru tahu nama Engkau adalah Allah. Saya mencoba menyembah-Mu namun dengan cara yang salah. Tapi saya tidak ingin masuk neraka karena tidak percaya Yesus seorang Nabi, saya tidak ingin masuk neraka karena tidak menyembah-Mu dengan cara yang benar. Saya ingin masuk surga ketika maut menjemput,” doa Mary.

“Tapi saya percaya Islam adalah kebenaran. Engkau, adalah Tuhan yang pantas disembah. Engkau tidak memiliki anak. Engkau utus kekasih-Mu Muhammad SAW untuk membawa saya menyembah-Mu dengan cara yang benar. Ya Allah, saya takut kepada-Mu. Tapi saya percaya, Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun,” tambahnya.

Selesai berdoa, Mary merasa damai. Begitu damai hingga ia tertidur. Saat bangun, mary merasa terkejut. Tidak ada lagi sakit kepala. Ia pun berterima kasih kepada yang Maha Kuasa atas kesembuhan itu.

Sejak itu, Mary mulai menutupi tubuhnya dengan pakaian yang sopan. Ia kenakan hijab. Agar merasa mantap, ia meminta anak didiknya membimbingnya menjadi Muslim dengan cara yang benar. “Lalu saya dengan terbata-bata mengucapkan dua kalimat syahadat,” kata dia.

Usai mengucapkan syahadat, Mary didatangi banyak mahasiswa Muslim. Mereka bawa makanan, pakaian dan Al-quran. “Ya Allah, terima kasih telah membuka hati dan pikiran saya untuk Islam. Terima kasih ya Allah telah mendatangkan saya seseorang yang mengenal Islam dengan baik. Maafkan saya atas kesalahan di masa lalu. Ya Allah, bantu saya dan umat Islam untuk terus mencintai Engkau, mencintai Rasulullah, mencintai Al-quran, dan selalu menyebarkan pesan damai kepada orang lain, amin,” kata Mary. (ROL/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Pasar Merespons Positif Aksi Damai Bela Al-Quran 4 November