Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Paham Dulu Baru Beriman (BerIslam)

Paham Dulu Baru Beriman (BerIslam)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (devianart / akhghazali)
Ilustrasi. (devianart / akhghazali)

dakwatuna.com Beriman tanpa kepahaman alhasil muncullah istilah Iman (Islam) KTP.

Atau lebih buruk lagi jika sudah terkotori dengan ambisi kedengkian dan merasa paling benar maka akan naik level menjadi Munafik.

Kenapa Syaikh Hasan Al-banna menempatkan Al-fahmu di urutan pertama sebelum Al-Ikhlas dan Al-Amal dalam 10 rukun ba’iatnya.

Keikhlasan akan muncul dan akan mempunyai nilai lebih jika kita paham definisi atau sebab musabab kita mengerjakan sesuatu.

Kepahaman berbeda dengan pengetahuan. Kepahaman muncul akibat internalisasi pengetahuan dalam diri seseorang. Mudahnya banyak orang yang mengerti ilmu berlalu lintas, tapi banyak juga dari mereka yang melanggar lalu lintas. Banyak ahli hukum tetapi banyak dari mereka yang mempermainkan hukum. Sehingga kesimpulannya banyak yang berilmu tapi tidak paham dengan ilmu yang dia miliki.

Keikhlasan akan muncul dan akan lebih bernilai mana kala bukan hanya sekadar taklid buta (Mengikuti tanpa dasar) tapi keikhlasan akan muncul dan lebih bernilai mana kala kita paham, tidak sekadar tahu. meskipun ikhlas tidaknya seseorang hanya Allah yang bisa menilai.

Kepahaman membuat ia mengerti mana yang dikerjakan dan mana yang tidak, apa resikonya dan apa keuntungannya. Karena kepahaman selalu akan mensinkronkan amal dengan ilmu yang didapat. Jika mereka hanya berteori tanpa aplikasi maka belum bisa dibilang paham. Sehingga tidaklah salah jika kepahamanlah yang melatarbelakangi keikhlasan dan amal dari seseorang.

Dalam perkara beragama pun sama. Memang benar banyak dari kita beragama sesuai dengan agama orang tua kita. Orang-orang yang terlahir dari keluarga Islam dan mau mempelajari agamanya (Islam) maka Islam mereka bukan sekadar Islam KTP. Tapi ada efek (bekas) dari mereka berislam. Kepahaman akan agamanya akan membuat mereka semakin mantap dalam beriman dan menjalankan aktivitas pribadi atau agamanya sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Orang-orang non Islam semuanya akan menganut agama yang benar (Islam) meskipun mereka yang tidak terlahir dalam kalangan keluarga Islam, asal mereka mau mempelajari agama awal mereka dengan benar dan dengan hati bersih, apakah agama tersebut sesuai dengan kata hati mereka. Jika dia mempelajarinya dengan kesungguhan dan ingin mendapat kebenaran hakiki maka mereka akan menemukan celah pada agamanya dan berusaha membandingkan dengan agama lainnya sehingga sampailah ia membandingkannya dengan agama Islam. Dengan itu sangat mungkin orang tersebut berstatus menjadi mualaf.

Mustahil manusia berislam, karena Allah menskenariokan adanya neraka yang tingkatannya lebih banyak dari syurga bagi para “pembangkang” salah satunya adalah sebagai bentuk keadilan Allah terhadap makhluknya. Tapi kata kuncinya adalah hidayah, yang merupakan hak prerogratif Allah. Ada juga yang sudah belajar tapi masih belum mendapat cahaya Islam atau bahkan makin parah pemahamannya seperti berita yang kita dengar dari universitas Islam di pulau jawa. Menimba ilmu akan menjadi semakin sesat mana kala sumber yang dipakai sudah terkotori pemikiran liberal dari barat. Dan tentunya hidayah tidak didapat dengan mudah, karena bisa jadi Allah akan mengetes sejauh mana usaha kita.

Semoga Allah SWT senantiasa mudahkan kita dalam mempelajari dan mengamalkan nilai nilai Islam.

““Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al- Baqarah: 8-9)

Sebut saja Ubay bin Salul Orang munafik yang dikenang untuk bisa diambil pelajarannya. Dia sudah beriman tetapi merasa tidak pede dengan keimanannya.

Pastilah ingat dengan perang uhud yang Rasulullah menawarkan opsi untuk bertahan dan menawarkan itu kepada para sahabat. Salah satu sahabat bertanya. “Wahai Rasulullah, apakah itu pendapat pribadi atau wahyu dari Allah?”

Rasul menjawab “ini pendapat saya pribadi” kalau begitu saya punya usulan untuk keluar dan menyambut mereka dalam peperangan dengan argumen begini dan begitu” dan mayoritas sahabat pun demikian dan dengan argumentasi yang kuat, forum pun memutuskan bahwa para kaum muslimin menyambutnya di luar madinah dan peperangan tersebut terjadi di sekitar bukit Uhud.

Meskipun sejatinya di beberapa situasi segala pendapat rasul yang diklaim merupakan pendapat sendiri tetap saja sebagiannya ada campur tangan Allah dalam menggerakan hati dan lisan Rasulullah di samping ada sisi Basyariyahnya (Sisi sisi Rasul sebagai manusia biasa).

Lantas apa hubungannya dengan Abdullah bin Ubay bin Salul?

Abdullah bin Ubay bin Salul ternyata mendukung keputusan Rasul untuk bertahan tetapi bukan karena ini merupakan salah satu strategi untuk menjemput kemenangan tapi lebih karena Abdullah bin Salul takut diketahui oleh orang musyrik lain kalau ia telah berislam, karena akan menjadi bahan ledekan yang akan menurunkan izzahnya sebagai tokoh yahudi kala itu.

Abudullah bin Ubay masuk Islam sendiri mempunyai maksud lain yaitu memuluskan kembali rencananya menjadi pemimpin madinah. Jika Rasul dan para sahabat tidak hijrah di madinah maka pengangkatan Abdullah bin Ubay sebagai pemimpin madinah akan berjalan mulus. Maka dari itu Ia kesal kepada Rasulullah dan para sahabat anshor yang menggagalkan rencananya. Alhasil ia pun menarik mundur rombongannya saat perang uhud dan yang dianggapnya telah menggagalkan rencananya

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. Al-Munafiqun: 1 )

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Heri Heryanto
#Konsultan, #Alumni FSLDK, #Melingkar, Pencari Ridho Allah SWT

Lihat Juga

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini