Home / Narasi Islam / Sosial / Mau Terbebas dari Omongan Orang Lain? Ini Rahasianya…

Mau Terbebas dari Omongan Orang Lain? Ini Rahasianya…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Menjadi manusia yang baik tidaklah rugi. Kita pun tentu sering mendengar sebuah ungkapan bijak “Menjadi orang penting itu baik tetapi menjadi orang baik jauh lebih penting”, orang yang kita anggap baik belum tentu baik di hadapan orang lain, begitu sebaliknya orang yang kita anggap kurang baik bisa jadi baik di hadapan orang lain.

Sungguh mustahil kita bisa memuaskan dan menyenangkan hati semua orang, kalaupun kita hendak memaksakan semua orang untuk senang terhadap kita niscaya kita akan merasa letih dan keletihan ini akan menjadikan kita manusia yang tidak waras. Cobalah untuk berhenti dari pekerjaan yang sulit ini yaitu berusaha untuk menyenangkan semua orang.

Nabi Muhammad saja sebagai manusia yang paling mulia di dunia, jika ada padanan kata yang lebih baik dari kata santun maka itulah nabi kita. Tapi apa yang terjadi, ada saja yang mengatakan kepadanya sebagai pendusta, tukang sihir, penyair yang gila, orang yang keluar dari ajaran nenek moyang bahkan beliau terusir dari kampung halamannya dan pernah mendapat ancaman pembunuhan dari kaumnya.

Bukan hanya para nabi yang mendapat cibiran dan caci maki dari orang yang berada di sekitarnya, tapi Allah Ta’ala pun tak luput dari omongan makhluknya, orang-orang yahudi berkata kepada Allah Ta’ala bahwa Allah itu fakir dan kamilah yang kaya, bahkan mengatakan bahwa tangan Allah terbelenggu.

“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”[[1]], sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu[[2]] dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu.” (QS. Al-Maaidah: 64)

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah miskin dan Kami kaya”. Kami akan mencatat Perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang membakar”.” (QS. Ali-Imran: 181)

Ada sebuah kisah menarik dari seorang ayah dan anak yang membawa binatang tunggangan dalam perjalanan mereka, sebut sajalah keledai dalam bahasa arab diartikan sebagai Himar.

Selama dalam perjalanan ayah dan anak ini tak pernah luput dari cibiran orang lain, ketika sang ayah menaiki tunggangannya apa yang terjadi. Sebagian orang berkomentar bahwa orang itu tidak mempunyai rasa kasihan terhadap anaknya karena membiarkan anaknya berjalan sedangkan sang ayah enak-enakan naik di atas tunggangan.

Begitu sang anak yang menaiki tunggangan, komentarpun tetap ada, sang anak dikatakan tidak tahu cara berbakti kepada orangtua karena membiarkan ayahnya berjalan.

Akhirnya ayah dan anak ini pun tidak menaiki tunggangannya selama dalam perjalanan mereka, apa yang terjadi, tetap saja ada yang berkomentar, alangkah bodohnya mereka membiarkan tunggangannya begitu saja tanpa dimanfaatkan.

Tak kuasa terus mendengar komentar orang lain, pada akhirnya ayah dan anak ini pun bersama-sama menaiki keledainya, namun apakah mereka terbebas dari omongan orang lain, ternyata masih saja ada yang berkomentar dengan mengatakan mereka orang yang tak punya belas kasih kepada binatang.

Dalam dialek masyarakat Palestina dikatakan “Hayyiki Addunya” artinya “ya beginilah kehidupan dunia”, kalau orang Perancis bilang “C’est la vie”, atau kalau dalam bahasa Inggris biasa disebut “Such is Life”.

Lalu bagaimana dengan kita, belajar dari beberapa kisah diatas, apakah kita ingin terbebas dari omongan orang lain, sungguh ini adalah suatu ketidakwajaran, karena bertentangan dengan fitrah.

Dalam sebuah ungkapan berbahasa Arab:

“In lam yakun laka haaqiduun fa’lam annaka insaanun faasyilun”

Artinya: “Jika di dalam kehidupan Anda tiada orang yang mendengki Anda, maka ketahuilah sesungguhnya Anda adalah orang yang gagal”.

Oleh karenanya tetaplah Anda berbuat baik di manapun Anda berada tanpa memperdulikan omongan orang lain terhadap Anda, jadikanlah interaksi Anda terhadap orang lain seolah-olah sedang berinteraksi dengan Tuhan sehingga apapun komentar dari manusia bisa Anda tidak hiraukan dan tetaplah Anda menjadi sebaik-baik manusia.

[1]. Maksudnya ialah kikir.

[2]. Kalimat-kalimat ini adalah kutukan dari Allah terhadap orang-orang Yahudi berarti bahwa mereka akan terbelenggu di bawah kekuasaan bangsa-bangsa lain selama di dunia dan akan disiksa dengan belenggu neraka di akhirat kelak.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 8,70 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc. MA.
Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (UNISBA) & PIMRED di www.infoisco.com (kajian dunia Islam progresif)

Lihat Juga

Ilustrasi. (nuevotiempo.org)

Surat dari Seseorang yang Salah Meletakkan Cinta pada Sebuah Hati