Home / Pemuda / Essay / Cinta dalam Kubangan Haram

Cinta dalam Kubangan Haram

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kawanimut / inet)
Ilustrasi. (kawanimut / inet)

dakwatuna.comCinta mati! Harus dijaga sampai mati. Jangan sampai ke lain hati!”. Lagu ini sudah mendarah daging pada remaja saat ini. Seperti Romeo dan Juliet, keduanya sama-sama mencintai dan rela mati. Rela berkorban, selintas tak ada masalah, bahkan nyawa sekalipun, ya.. memang begitulah karakter cinta. Samar memang bahkan tak terlihat, mana yang benar-benar cinta, dan mana yang hanya sekadar obsesi.

Betul, cinta membuat kita rela berkorban, tapi bukan hidup kita, hidup kita milik Tuhan, jangan berikan pada selainnya. “ Ya Allah, Aku berlindung kepadamu dari Syirik yang kami mengetahuinya, dan kami meminta ampun dari dosa syirik yang kami tidak mengetahuinya.” Lantas, apa kaitannya syirik dalam cinta? Ada, potensi kesyirikan dalam cinta. Ketika cinta makin membara, lalu ia persembahkan hidup bahkan cintanya kepada seseorang. Maka dari itu ia sudah terjebak dalam kesyirikan, atas menuhankan cinta pada orang yang ia cintai.

Syirik adalah memalingkan hal-hal yang khusus untuknya, pada selainnya mengarahkan hidup kita untuk seseorang, karena cinta sekalipun merupakan kesyirikan, benar cinta menuntut “persembahan”. Berhadapan dengan hal yang bertentangan dengan Tuhan maka, tinggalkan!.

Dalam cinta mengenal apa itu pacaran. Pacaran adalah hubungan kekasih antara dua insan yang berbeda jenis yang bukan mahramnya, pacaran merupakan sarana bermesraan dengan berbagai cara; baik pegangan tangan, jalan-jalan, nonton, sampai lebih dari itu. Pacaran dapat melemahkan keimanan, bahkan menjerumuskan ke perzinaan. Dengan berdua saja di tempat yang jauh dari keramaian, bebas dari gangguan, tertutup, bahkan gelap. Moral yang mulai tak berfungsi membujuk untuk melakukan hal yang senonoh. Orang yang sedang jatuh cinta (pacaran) sering menjadi panjang angan-angan.

Banyak remaja yang menghalalkan berbagai cara pacaran. Di era masa kini, banyak yang mempunyai argumentasi, bahwa pacaran islami itu no kiss, no touch, kalau ketemu ya di masjid. Tidak pernah berpegang tangan, kalau mengobrol dengan jarak jauh, melepas rindu ya telepon atau sms, asli tanpa ciuman atau bersentuhan. Mana ada dalam Islam dalil seperti ini? Jangan aneh yaa.. Hal ini menjadi masalah jika tidak dilandasi dengan pernikahan.

Berhati-hatilah terhadap dosa yang kecil, apalagi yang besar. Janganlah ceroboh atas hal-hal yang syubhat, agar tidak jatuh dalam kubangan yang haram. Nomor satukan cinta kepada Allah, cinta kepada pemilik semesta. “Adapun orang-orang beriman, cintanya amat sangat pada Allah.” (QS. 2:165) Cinta mati hanya layak untuk-Nya.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lisa Ariska
Mahasiswi Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan di Politeknik Negeri Jakarta.

Lihat Juga

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI