Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Peran Orang Tua di Era Digital

Peran Orang Tua di Era Digital

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comDidiklah anak-anakmu agar siap menghadapi zamannya, karena mereka kelak akan hidup di zaman yang berbeda denganmu” –Ali Bin Abi Thalib Radhiallahuanhu–

Anak-anak kita hari ini adalah generasi digital. Mereka tumbuh bersama perangkat teknologi digital atau gadget dalam genggaman. Keseharian mereka lekat dengan internet serta teknologi informasi lainnya. Mereka aktif berkomunikasi dan berinteraksi melalui media sosial dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia di sana.

Demikianlah teknologi digital dan informasi telah berkembang sedemikian cepat. Seiring dengan itu beragam smartphone atau gadget seperti ipad, iphone, blackberry dsb dapat dengan mudah kita temukan dalam genggaman anak-anak usia SD bahkan balita.

Ya, gadget sudah menjadi sahabat anak. Dengan gadget mereka dapat dengan mudah mengakses informasi melalui internet untuk menunjang kegiatan belajar dan aktivitas lainnya. Mereka juga dapat dengan cepat nenpelajari beragam fitur dan aplikasi yang tersedia dan menambahnya sendiri sesuai keinginan dan kebutuhannya.

Oleh karena itu generasi digital mendapat sebutan anak-anak multitasking. Lihatlah mereka ketika mengerjakan tugas sekolah di warnet atau dengan perangkat teknologi yang mereka miliki. Maka di saat yang sama ia bisa saja mendownload lagu, film atau game. Kemudian menulis status, memberi komentar atau chatting di jejaring sosial sembari bermain game atau mendengarkan musik bahkan streaming siaran radio atau televisi.

Bagi generasi digital ini sangatlah menyenangkan mengerjakan banyak kegiatan dalam satu waktu sambil terhubung secara online dengan banyak teman. Sehingga terkesan tidak fokus dikarenakan mereka ingin kegiatan belajar yang fun atau menyenangkan.

Selain multitasking anak-anak dan remaja di era digital ini punya kecendrungan lebih terbuka dalam berbagi informasi pribadi di dunia maya. Mereka banyak memiliki teman baru dan di antaranya mudah percaya dengan orang yang baru dikenalnya lewat jejaring sosial. Maka tak heran bila ada di antaranya yang menjadi korban penipuan, pelecehan dan berbagai kejahatan lain yang dilakukan oleh teman “maya”nya. Melalui media sosial mereka juga acapkali mengekspresikan diri dengan mengunggah foto atau video kegiatan mereka.

Selagi itu sesuatu yang positif tentu tak mengapa. Lalu bagaimana bila foto atau video yang diunggah tidak patut? Bila status, kicauan atau komentar putra-putri kita di media sosial dipenuhi oleh cacian dan makian? Atau mungkin anak kita yang menjadi korban hujatan, bullying atau korban penipuan yang bersembunyi di balik identitas palsu dengan tampilan foto cantik dan tampan palsu pula.

Dan sebagai orang tua tahukah kita bila anak kita mungkin sudah kecanduan gadget, berkeliaran membuka situs-situs dewasa atau bermain game yang berisi kekerasan dan pornografi serta hal-hal negatif lainnya yang bisa saja mengubah perilaku anak.

Oleh karena itu diperlukan pengawasan orang tua terhadap aktivitas berinternet anak. Orang tua di era digital juga harus waspada dan berperan aktif. Jangan sampai kita terlambat tahu jika anak kita kecanduan game online , menyimpan video dewasa yang tidak layak mereka konsumsi atau dampak buruk dari penyalahgunaan media digital lainnya.

Dengan demikian tantangan yang dihadapi kita para orang tua sangatlah berat. Di era digital ini orang tua dituntut untuk sadar teknologi dan melek media. Jangan asal membelikan gadget untuk anak tanpa memberikan edukasi yang cukup mengenai manfaat dan dampak buruknya. Tahu saat yang tepat pada usia berapa anak membutuhkan gadget. Karena sangat tidak bijak menghadirkan gadget sebagai “pengasuh” bagi balita kita. Pastikan mereka mampu bertanggung jawab terlebih dahulu, barulah bergadget kemudian.

Ingatkan putra-putri kita bahwa teknologi dibuat untuk memudahkan manusia, tetapi agamalah yang akan menyelamatkan manusia. Oleh karena itu arahka mereka agar tetap menjaga etika dan berlaku santun sesuai tuntunan agama ketika berinteraksi melalui media sosial. Tidak sembarangan mengunduh foto atau video pribadi atau orang lain yang melanggar norma kesusilaan dan agama serta tidak menulis status atau kicauan rasis atau hujatan karena bisa saja terjerat kasus hukum.

Selain mengingatkan dan menasehati, orang tua juga dapat membatasi aktivitas berinternet anak di rumah dengan menyimpan password dan memblokir konten yang berisi pornografi. Tetapi yang paling penting adalah membentengi putra-putri kita dengan nilai-nilai agama sebagai bekal atau tameng dalam menghadapi godaan dan kejahatan yang mengintai ketika mereka berselancar mengakses internet.

Hal inilah yang utama harus dilakukan orang tua, karena kita tidak bisa mendampingi atau memantau anak terus menerus. Dengan demikian di manapun anak mengakses internet diharapkan mereka sudah memiliki pengetahuan bagaimana berinternet dengan sehat dan aman. Begitu pula ketika menggunakan akun-akun digital yang dimiliki, mereka sudah tahu rambu-rambu atau batasan-batasannya.

Dan yang terpenting adalah nasehat yang kita sampaikan pada saat yang tepat dan menggunakan komunikasi dan teladan yang baik. Jangan sampai anak justru meniru kita orang tuanya yang anteng bergadget ria.

Untuk kita orang tua yang masih gaptek, bukan berarti harus memiliki akun-akun digital dan ikut-ikutan bersosial media. Tetapi harus peduli dan mau belajar atau mengenal apa itu teknologi beserta manfaat dan dampaknya. Sehingga kita tetap dapat mengedukasi putra-putri kita atau memberi panduan penggunaan media digital yang bertanggung jawab dan produktif.

We may not be able to prepare the future for our children, but we can at least prepare our children for the future” –Franklin D. Roosevelt– ***

Referensi: Majalah Ummi edisi spesial Januari 2014: Parenting Di Era Digital

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nurhaida Alting
Seorang ibu rumah tangga yang sedang belajar menulis. Saat ini tergabung dalam komunitas Gerakan Kepulauan Riau Gemar Menulis. Alhamdulillah beberapa artikel opini dimuat di harian lokal Haluan Kepri dan beberapa cerpen pernah dimuat di Tanjung Pinang Pos.

Lihat Juga

anak-di-rusia-bicara-7-bahasa

(Video) Luar Biasa, Anak Kecil Ini Mampu Bicara Dengan 7 Bahasa

Organization