Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Seimbangkan Dunia dan Akhiratmu

Seimbangkan Dunia dan Akhiratmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover buku "Seimbangkan Dunia dan Akhiratmu".
Cover buku “Seimbangkan Dunia dan Akhiratmu”.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    

Judul Buku: Seimbangkan Dunia dan Akhiratmu
Penulis: Haviva A.B
Penerbit: Safirah
Cetakan: I, September 2014
Tebal Buku: 248 Halaman
ISBN: 9786022960287

Hidup Seimbang Dunia dan Akhirat

dakwatuna.com Kalimat muqaddimah yang sangat menarik kutipan sebuah hadis yang bisa menjadi renungan kita bersama yang diriwayatkan oleh Muslim, ya Allah, baguskanlah untukku agamaku yang jadi pangkal urusanku, baguskanlah akhiratku yang padanya tempat kembaliku nanti, jadikanlah hidup itu menjadi bekal/tambahan bagiku dalam segala kebaikan, serta jadikanlah mati itu pelepas segala keburukan. (Halaman 3)

Hidup di dunia ini tidak ada yang abadi, akhiratlah kehidupan yang sesungguhnya. Namun kehidupan di dunia lah penentu bagaimana hidup kita di akhirat kelak. Sesungguhnya, dunia hanya persinggahan menuju alam yang sebenarnya. Melalui drama kematian, seseorang telah memasuki sebuah fase alam baru menuju alam keabadian. Semua makhluk berjalan dalam putaran waktu yang semua itu ada dalam kendali sang Penguasa. Manusia di muka bumi ini adalah khalifah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban amalnya masing-masing. Yang menjadi pertanyaan adalah sudahkah kita mempersiapkan bekal yang cukup untuk kelak, karena mati pun datang tanpa permisi.

Tidak dipungkiri untuk tetap menjalankan roda kehidupan ini kita pun dituntut materi. Celakanya, sebagian golongan sampai-sampai mendewakan materi, sehingga mata hatinya benar-benar dibutakan (Halaman 9). Padahal dalam firman Allah surat al-Qashash ayat 77 yang artinya, “Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu…”. Ayat tersebut cukup jelas memberikan pengertian bahwa antara dunia dan akhirat adalah sama-sama penting. Di dunia, manusia bisa melakukan banyak aktivitas baik itu ibadah, dan amalan-amalan lainnya yang bermanfaat bagi kehidupannya di dunia dan juga akhiratnya. (Halaman 11)

Sebelum kematian itu datang, kita masih punya waktu untuk memaksimalkan hidup dengan cara yang baik, kita harus menyempurnakan urusan dunia dan juga akhirat. Karena penyesalan selalu datang di akhir waktu, dan setiap waktu yang telah berlalu tidak akan dapat kembali lagi. Kita harus bisa melangsungkan hidup yang benar-benar berkualitas. Kesempatan hidup yang telah kita peroleh harus selalu jalan beriringan anatara ibadah dan perkara-perkara dunia. Meskipun kita bekerja jangan sampai kita tidak meninggalkan ibadah-ibadah yang diwajibkan. Durasi hidup semua manusia sama-sama 24 jam, maka tidak ada alasan tidak ada waktu untuk beribadah karena lebih mementingkan pekerjaan. 24 jam bisa dibagi menjadi 3 bagian, 8 jam ibadah, 8 jam bekerja dan 8 jam istirahat.

Manusia adalah makhluk yang memiliki banyak sekali kekurangan, tetapi waktu telah menempa menuntut manusia untuk menjadi lebih baik, menjadi lebih tahu dan paham banyak hal. Meski demikian, dalam perjalanannya, sebagian manusia ada yang kalah dan ada pula yang menang terhadap cobaan hidup dan juga atas tipu daya setan. Bagi yang kalah, mereka menyalahkan nasib dan Tuhan. Sementara orang yang menang menilai bahwa hidup tidaklah selalu mulus dan ujian atau cobaan adalah hal yang pasti. Imam Ghazali membagi kehidupan manusia dalam empat bagian. (Halaman 229). Pertama, orang yang bahagia dunia akhirat. Kedua, orang yang sengsara di dunia dan bahagia di akhirat. Ketiga, orang yang bahagia di dunia tapi sengsara di akhirat. Dan keempat adalah orang yang sengsara di dunia dan akhirat.

Manusia hanya sebagai pemeran atas skenario yang telah ditetapkan oleh Allah. Manusia hanya seorang hamba yang dalam perjalanannya terus berevolusi dan berkembang dengan berbagai macam ilmu dan pengetahuan, yang semuanya itu tiadalah pernah mampu menyamai pengetahuan dan ilmu yang dimiliki Allah. Dalam kehadirannya di dunia, manusia telah diatur oleh Allah bagaimana ia hidup. Manusia juga sudah diberi sebuah amanah besar, yaitu sebagai khalifah fil ardh.

Kemudian, apa yang sepantasnya manusia lakukan selama di dunia? Tiada lain adalah upaya menjadi manusia yang sebaik mungkin dengan amalan-amalan yang bisa membimbingnya pada jalan yang benar, serta dapat memenuhi segala urusan dunia dan akhiratnya. Apabila urusan itu bisa seimbang, maka Allah akan memberikan keistimewaan dalam hidup. Namun jangan mengartikan keistimewaan hidup sebagai bentuk pemberian Allah, tetapi lebih kepada sebuah pembentukan nilai hidup yang lebih mapan secara kualitas keimanan dan ketakwaan. (Halaman 86)

Ketika banyaknya pertanyaan dalam hidup, lebih penting manakah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat? Lantas, bagaimana seharusnya menyikapi kehidupan dunia dan akhirat? Dunia itu penting, dan akhirat juga jauh lebih penting, karena akhirat adalah tempat kita yang abadi. Di sini ada semua jawabannya.

Buku setebal 248 halaman ini memiliki tiga poin penting, pertama tentang dunia dan kebermaknaan hidup, kedua menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat, dan ketiga mengenai tipologi kehidupan manusia. Pada poin kedua ini terdapat cara-cara terbaik untuk menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Ada berbagai amalan penting untuk bekal akhirat dan juga seputar cara terbaik menghadapi segala urusan dunia tanpa harus meninggalkan urusan akhirat. Buku Haviva A.B ini hadir untuk menyegarkan kembali ruang-ruang ruhani yang mungkin tengah dalam kegelapan karena tertutup oleh kesibukan dan urusan dunia (materi) semata. Seperti oase di padang pasir yang tandus nan gersang, buku ini menjadi jawaban keresahan kita yang terlalu sibuk dengan urusan dunia. Renungan untuk kita bisa hidup lebih baik lagi dan tetap dalam batas-batas keislaman.

 

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lahir di Rembang pada 11 Oktober 1988, pada saat Aliyah nyantri di Perguruan Islam Mathali'ul Falah Kajen Pati, dan meneruskan kuliah di IIQ Jakarta sambil menghafalkan Al-Qur'an dan kini istri dari H.MA.Ahmad Fathur Rahman SH. Ibu dari MA.Ashim Asyrafuddin. Sebagai ibu rumah tangga yang kadang-kadang menulis di media.

Lihat Juga

Ilustrasi. (flickr.com/bfz76)

Hidupmu untuk Apa?