Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aku Benci Perpisahan

Aku Benci Perpisahan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Muhammad Sholich Mubarok)
Ilustrasi. (Muhammad Sholich Mubarok)

dakwatuna.comAku benci perpisahan. Aku tidak tahu tahu alasan yang pasti. Tak ada teori yang njlimet dan pakem. Perpisahan bagiku hanya onak yang menancap ke hatiku. Ketika ayahku meninggal aku hanya mampu berbagi tangis. Alasannya sederhana: saudara-saudaraku yang menangis mendapatkan kembang api. Ketika itu masih kelas satu SD. Namun aku sudah benci dengan perpisahan. Tak ada yang marah-marah ketika aku malas shalat. Tak ada yang menyediakan teh hangat ketika tengah malam kami terjaga dan dihantam haus.

Aku benci perpisahan. Ketika teman depan kostku memutuskan untuk pindah tempat karena rumah yang dibangunnya sudah jadi, aku menumpahkan air mata. Teman yang rajin menggedor pintu kamar untuk shalat tahajud itu telah melenggang pergi.

Aku benci perpisahan. Tak jelas akarnya. Aku benci ketika itu, ketika sahabat terdekatku memilih memupuskan kuliah dakwah dan memilih kuliah di kampus yang lingkungannya mampu meruntuhkan pondasi keimanan. Digempur oleh pemikiran yang rentan kefanaan.

Aku benci perpisahan. Mungkin waktu yang tak patut dikambinghitamkan. Aku tidak tahu apa sebab pastinya. Ketika itu hari Ahad pagi kulihat pesan di messenger sebuah grup bahwa ada kajian pekanan. Nyaris aku beralasan tidak hadir. Pasalnya pengumumannya begitu telat dan lagi tempat untuk ke sana lumayan jauh. Aku harus menaiki tiga jenis kendaraan berbeda. Naik kopaja, naik angkot lalu naik ojek. Biasanya jika tak ada halangan, bareng semobil dengan teman. Sayangnya sang teman itu berhalangan hadir. Ada udzur syar’i. Dengan rasa berat hati dan menimbang-nimbang akhirnya berangkat. Menyumpel kuping dengan lagu yang menggerakkan. Yang membuatku jalan tak lain karena bakal ada perpisahan. Ini yang membuatku benci. Teman satu lingkaranku akan pergi jauh. Dia mau pergi dan tinggal untuk beberapa tahun di negeri Ginseng, Korea Selatan. Sampai di masjid tempat halaqah sudah nampak semua kawan. Aku terlambat. Si kawan yang akan pergi tak nampak. Apakah dia sudah pergi? Ah tidak. Aku benci perpisahan, paling tidak aku bertemu dengan sosok yang akan berpisah itu.

“Eh, ini kenapa pada merah semua ya?” Canda itu terpaksa harus dikeluarkan.

Semua mendadak tanpa komando melihat kaos yang dikenakannya. Lalu semuanya tersenyum dan tertawa.

“Wah ini koalisi merah putih mewarnai pagi nih!” Celetuk teman lain karena melihat sang Murabbi mengenakan kaos berlogo kampus berwarna putih. Klop lah kami seperti tim kompak Koalisi Merah Putih. Namun tak ada yang perlu dihebatkan pagi itu, karena Indonesia toh juga belum pada taraf hebat.

Usai sarapan bersama di selasar masjid kami pun bertandang ke Pak Zul, demikian kami memanggil. Sebagian membawa motor, sisanya nebeng mobil baru sang Murabbi. Alphard. Mobil hasil doa katanya.

Sampai juga kami di rumahnya yang ditempuh tak lebih dari sepuluh menit. Maklum satu komplek. Disambut dengan hangat oleh Pak Zul yang, percaya atau tidak, dia juga mengenakan kaos merah. Lalu kami duduk di sofa warna merah dan tak lama khadimat juga menyajikan es sirup yang berwarna merah. Aku tidak tahu mengapa pagi itu diselimuti warna merah. Aku juga ternyata pagi itu berkaos polo berwarna merah. Tak ada skenario di antara kami untuk mewarnai perpisahan ini dengan merah. Ini skenario Tuhan. Mungkin merah adalah warna keceriaan untuk berpisah, menabahkan yang ditinggalkan. Tetap saja aku benci perpisahan. Selalu menimbulkan kesedihan.

“Kami ke sini mau minta air juga sebenarnya.” Canda sang Murabbi. Kami memang seusai sarapan bubur ayam belum minum air, sedang tak tersedia. Aku tak bisa membayangkan betapa tenggorokan mereka dilanda seret yang tertahan atau jangan-jangan mereka ketika cuci tangan sembari minum air keran? Ah mulai ngaco saja.

Obrolan hangat pagi itu masih berlangsung. Bercerita ceria di negara sana. Obrolan masih hangat. Jamuan jadi rekanan. Tanganku masih bergerak dengan ponsel, mengambil foto, merekam video. Mengusir kebencian dengan yang namanya perpisahan. Hingga tiba di ujung perpisahan, kami bergantian berpelukan dengan Pak Zul. Tercium keharuan di sana. Kamera video di tanganku masih bergerak, hingga tiba giliranku untuk berpelukan. Kamera aku enyahkan. Nyatanya direbut oleh seorang kawan, mungkin agar masuk kamera juga, menjadi cameo di fragmen perpisahan. Tenang, tenang, jangan tumpah wahai kau air mata. Masih tersisa ke alam haru.

Aku benci perpisahan. Tak ada alasan yang memanjakan. Perpisahan itu pahit. Namun aku sadar, aku dalam lingkaran kehidupan. Fragmen perpisahan nyatanya bagian dalam siklusnya. Aku benci perpisahan. Benci berpisah dengan pecinta kebaikan dan keadilan. Kau dan aku pun akan bergulung dengan waktu, akan berpisah. Sebenci apapun.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Sholich Mubarok.
Aktif di komunitas menulis BAW Community. Mahasiswa STIU Al Hikmah Jakarta. Penulis buku "Dalam Lingkaran Cinta". Humas Badaris BSI 2011. Humas FSLDK Jadebek 2011. CEO Aghna Enterprise.

Lihat Juga

Kado Perpisahan untuk Hati yang Saling Mencinta