Home / Berita / Opini / Hikmah di Balik Beredarnya Video Kekerasan Anak

Hikmah di Balik Beredarnya Video Kekerasan Anak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Adegan kekerasan yang dilakukan siswa SD di Bukittinggi.  (berita.yahoo.com)
Adegan kekerasan yang dilakukan siswa SD di Bukittinggi. (berita.yahoo.com)

dakwatuna.com Dunia pendidikan di ranah Minang kembali terguncang. Setelah kita mendengar berita wafatnya siswa Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Pariaman, Yahya Suryarman pada hari Ahad (12/10/2014) yang lalu, yang diduga akibat tindakan kekerasan seniornya. Kini, kita dihebohkan lagi dengan beredarnya video kekerasan pelajar di dunia maya. Video singkat itu, justru memberikan guncangan hebat hingga menjadi pemberitaan dahsyat yang tidak hanya dikupas dan dibahas di dunia maya akan tetapi juga disiarkan di dunia nyata melalui koran dan TV nasional. Kenapa tidak! Video ini berisikan aksi kekerasan yang dilakoni 7 orang siswa laki-laki terhadap seorang siswa perempuan di sebuah SD Bukit Tinggi.

Dalam video tersebut terlihat jelas siswa laki-laki (masih berpakaian seragam) memukuli dan menendang bertubi-tubi siswa perempuan yang tak berdaya sampai mengerang kesakitan. Ironisnya adegan tak layak ini justru disaksikan oleh temannya yang lain dan tidak ada satupun di antara mereka yang membantu bahkan anak yang mengeroyok itu terlihat bangga dan bergaya dengan mengacungkan jari tengah di depan kamera.

Banyak pihak yang prihatin dengan kasus ini dan menyayangkan tersebarnya video kekerasan tersebut di dunia maya. Soalnya, hal ini akan dapat merusak citra pendidikan khususnya pendidikan di kota Bukit Tinggi yang dikenal dengan pendidikan berkarakter. Di samping itu juga dikhawatirkan efek domino pada siswa lain yang sempat menonton adegan yang tak pantas ini dan menirukannya pada orang lain. Syukur, belakang ini kita mendengar kabar bahwa video kekerasan itu telah diblokir, namun jejak kekerasan itu masih membekas dalam ingatan masyarakat. Itu sebabnya, banyak tuntutan agar pihak berwenang menelusuri orang yang mengunggah video ini ke internet. Bahkan sekretaris KPAI, Erlinda merekomendasikan untuk mempidana pengunggah video tersebut.

Bak gayung bersambut, Feby Dt Bangso Nan Putiah, sang pengunggah video justru menyesalkan pernyataan Erlinda dan berharap agar KPAI memberi konseling pada korban agar tidak trauma dan pelaku yang juga masih anak-anak. Di hadapan penyidik Polres Bukit Tinggi, Feby telah menjelaskan motif pengunggah video murni untuk pembelajaran dan berharap pengambil kebijakan di Sumbar mengetahui potret pendidikan di negeri ini.

Ternyata, keberanian Feby justru mendapat apresiasi dari anggota DPR RI Alex Indra Lukman dan Agus Susanto. ”Sudah seharusnya kita berterima kasih kepada pengunggah tersebut . Melalui video itu, kita mengetahui betapa bobroknya dunia pendidikan kita.” Sementara seniman Pinto Janir, mengatakan bahwa sekiranya kasus itu tidak diungkap Feby ke publik melalui media sosial FB, tentulah masyarakat tak pernah tahu dan menyadari bahwa tindak kekerasan tampak telah menjalar ke tengah kehidupan anak-anak.

Terlepas dari polemik di atas, maka tentu kita berharap agar tragedi ini tidak terulang lagi. Kita semua harus mampu mengambil hikmah dari beredarnya video kekerasan ini. Memang dengan beredar video kekerasan telah menampar wajah pendidikan di negeri ini apalagi di saat kita menggadang-gadangkan pendidikan karakter dalam kurikulum 2013. Namun demikian tentu ada hikmah di balik “musibah” yang membuat dunia pendidikan di negeri ini terluka.

Film Kekerasan dan Game Online Mengancam Anak.

Hikmah berharga dari beredarnya video ini adalah terkuaknya budaya kekerasan di kalangan pelajar khususnya pelajar SD. Sebenarnya kasus serupa sudah sering terjadi namun dapat diselesaikan dengan damai dan aman dari pemberitaan media. Makanya kita harus mencari akar masalah dari maraknya budaya kekerasan di kalangan pelajar dan berusaha mencari solusi yang tepat dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Hal nyata, penyebab budaya kekerasan di kalangan pelajar adalah akibat pengaruh tayangan kekerasan yang sering di“konsumsi” anak melalui film laga dan game online . . Fasilitas untuk menghadirkan film dan game tersebut sangat mudah didapat bahkan justru disediakan orang tua seperti televisi atau jaringan internet tanpa memikirkan efek negatif yang akan ditimbulkannya. Hampir seluruh anak menyukai film laga yang berisi keperkasaan plus kekerasan bahkan film anak-anak atau film kartun pun tidak steril dari adegan kekerasan seperti Bima Sakti, Little Krisna dan Tom and Jerry.. Padahal pengaruh tayangan itu sangat luar biasa dalam menanamkan budaya kekerasan bagi anak.

Untuk itu pemerintah dan DPR diharapkan dapat membuat undang-undang penyiaran yang jelas dan tegas dalam mengatur peredaran film dan game online sehingga dengan demikian akan hadir tontonan dan game yang sehat. Pemerintah bertanggung jawab untuk melindungi anak bangsa dari berbagai tindakan kekerasan akibat dari tontonan yang ditayangkan televisi. Sungguh, anak-anak masa sekarang adalah pemimpin masa depan. Makanya pemerintah harus bersungguh-sungguh dalam menjaga dan memelihara anak sebagai penerus bangsa dari berbagai tayangan kekerasan.

Peran orang tua tentu, sangat signifikan dalam menghilangkan atau mengurangi efek kekerasan dari tayangan televisi dan game online. Orang tua tidak bisa membiarkan anaknya menonton begitu saja tanpa mendampinginya. Orang tua harus mampu memberikan pemahaman pada anak akan bahaya film atau game kekerasan . Di samping itu juga mampu menghadirkan hiburan alternatif yang sehat pada laptop atau komputer yang dapat memenuhi “dahaga” anaknya dalam menonton.

Di sekolah, guru harus mampu menanamkan nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan pada anak. Melalui pelajaran dan permainan edukatif, anak akan memahami pentingnya sifat sifat terpuji seperti simpati dan empati. Dengan sifat tersebut maka tindakan kekerasan akan dapat dihindari dan rasa senasib dan sepenanggungan menjadi hiasan diri dalam proses pembelajaran. Yang penting, guru harus memberikan perhatian dan pengawasan penuh pada anak baik ketika belajar ataupun saat bermain. Sering perkelahian atau tindakan kekerasan terjadi karena guru abai terhadap anak didiknya.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Dedi Irwan
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial