Home / Berita / Opini / Dari Soekarno Hingga Akhirnya Jokowi

Dari Soekarno Hingga Akhirnya Jokowi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Soekarno, Presiden RI Pertama (inet)
Soekarno, Presiden RI Pertama (inet)

dakwatuna.com – Masih begitu banyak yang memegang opini bahwa Jokowi cuplikan kerja nyata, entahlah apa yang ada di benak mereka. Kerja nyata atau kerja media ini sulit dibedakan karena bagi bangsa Indonesia kerja media adalah kerja nyata. Sedangkan kerja nyata yang tidak diliput media pun begitu banyak bahkan lebih hebat dari seorang Jokowi, Sang Presiden para relawan. Pemilu memang sudah berakhir, tetapi kisah bagaimana cara Jokowi mengadu domba relawannya dengan kader Partai lain ketika Pemilu tak kan hilang, bahkan kalimat “Beritakan Saja Keburukan Lawan!” masih tersimpan apik di media manapun.

Tetapi, begitulah hasil sebuah proses revolusi mental, cuci otak ala Zionisme dan fasisme yang diterapkan kaum sosialis di muka bumi ini di manapun itu termasuk Indonesia. Jika Soekarno seorang Proklamator, Soeharto seorang Diktator, Soesilo Bambang Yudhoyono seorang Reformator, maka Jokowi seorang Kompor. Kompor bisa bermakna dua hal, kompor positif dan kompor negatif. Mau positif maupun negatif tetaplah Kompor Indonesia Baru. Lalu ke mana Habibie, Gusdur dan Megawati? Habibie cuma sebentar, apalagi Megawati yang paling dikenal darinya hanya penjual aset negara kepada bangsa lain yang mungkin saja diteruskan oleh “anak emas” nya kini yang bernama Jokowi. Mungkin saja, bukankah Politik teori kemungkinan? Kita lihat saja nanti.

Walau bagaimanapun Joko Widodo telah mampu “membayar” media untuk membesarkan namanya, walau kerja nyata hanya sebuah cuap-cuap yang tak pernah nyata khususnya di Jakarta, Prabowo yang selalu dicaci maki oleh relawan Jokowi dengan istilah “Sakitnya tuh di sini” masih bisa menunjukkan kenegarawanannya dengan hadir pada acara pelantikan. Saya tidak tahu apakah Joko Widodo mampu melakukannya ketika kalah. Saya pikir mengikuti jejak seniornya di PDI-P, Megawati sangat mungkin terjadi, karena Megawati tidak pernah mengakui SBY sebagai Presiden Republik Indonesia.

Dari Soekarno sampai akhirnya Joko Widodo tetaplah Jawa, sehingga wajar pada akhirnya sebuah opini yang berkembang puluhan tahun bahwa Presiden Indonesia wajib Jawa, bahkan kalau perlu sampai gubernur-gubernur di seluruh Indonesia dipimpin Jawa, ya begitulah faktanya bukan? Dikhawatirkan kemudian begitu banyak provinsi ingin memisahkan diri dari Jawa, karena Nusantara itu hanya Jawa. Nusantara itu bukan Sumatera. Nusantara itu bukan Kalimantan dan Sulawesi apalagi Papua.

Jika bukan karena Pancasila bisa jadi dari era Soekarno bangsa ini sudah negara-negara kecil, pertanyaannya adalah apakah Negara-Negara kecil itu akan terbentuk di era Joko Widodo? Kita lihat saja nanti. (usb/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Adi Supriadi, MM
HR Manager PT Hitachi Power Systems Indonesia, Tinggal Di DKI Jakarta kelahiran Kota Ketapang, Kalimantan Barat. A Speaker, Motivation Trainer, Thinker and a Writer on culture, humanity, education, politics, peace, Islam, Palestinian, Israel, America, Interfaith, transnational, interstate, Management, Motivation and Cohesion at workplace. Committed to building a Cohesive Indonesia, Cohesive Industrial relation, Cohesion at workplace and offer Islamic solutions to the problems that inside. Lulus dari Fakultas Dakwah STAI Al-Haudl Ketapang, Kalbar, Melanjutkan S-2 Manajemen di Universitas Winaya Mukti Bandung, Jawa Barat.

Lihat Juga

Datangi Pimpinan Parpol, Pemerintah Gagal Paham Sikapi Aksi Ummat