Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sampah Pemuda

Sampah Pemuda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Tawuran, salah satu potret buram dunia pendidikan
Tawuran, salah satu potret buram dunia pendidikan

dakwatuna.com Sangat  tidak adil jika kita menyebut istilah “Sampah Masyarakat”  kepada  gelandangan, pengemis, pemulung dan sebagainya.  Karena boleh jadi keadaan mereka akibat sistem negara yang bobrok,  sehingga merekalah di antaranya  yang  menjadi  korban. Tulisan ini bukan ingin membahas opini umum seperti itu, tetapi ingin menunjukkan bahwa  ada manusia yang suka dengan sampah, yang hobi makan sampah, hobi menonton sampah, mendengar sampah, ada yang berteman dengan sampah, segala pekerjaan dan aktivitasnya hanya menghasilkan sampah maka sangat layak disebut manusia sampah.

Sampah adalah sisa buangan manusia yang dianggap sudah tidak berguna. Kalaupun bisa berguna harus didaur ulang atau direkayasa sedemikian rupa baru bisa berguna lagi. Sampah itu identik dengan kotoran, bau, busuk, jijik, sumber penyakit, sebisanya dijauhkan dari kehidupan manusia. Bisa kita bayangkan kondisi kejiwaan manusia yang sangat menyukai  sampah, beraktivitas yang bernilai sampai, serta yang dihasilkan hanya sampah.

Makanan sampah adalah makanan yang  mengandung bahan-bahan yang tidak dibutuhkan tubuh, bahkan ada bahan yang membayakan tubuh, seperti  zat pengawet, pewarna, perasa, pemutih, penyedap rasa, pengenyal dan sebagainya. Bahan-bahan seperti ini banyak digunakan di rumah rumah makan siap saji. Bahkan boleh dikatakan menjadi resep wajib bagi tiap-tiap restoran harus menggunakan penyedap rasa.  Lidah masyarakat kita pun sudah tidak bisa lagi dipisahkan, sehingga menjadi kunci laku tidak lakunya sebuah tempat makan. Pemilik warung nasi atau rumah makan tentunya tidak mau ambil risiko, dan agak susah membangun kreativitas resep yang aman tapi punya rasa yang enak. Maka jalan pintasnya adalah harus memakai penyedap rasa.

Di antara kasus yang pernah terjadi adalah seseorang anak remaja tidak mampu mengendalikan libidonya terhadap lawan jenis, meskipun di tempat umum atau keramaian. Setelah ditanya makanan sehari-harinya adalah fast food berupa fried chicken, dan tidak pernah makan sayur dan buah-buahan. Padahal makanan di Indonesia yang masih dianggap bergengsi  ini, adalah makanan sampah di Negara-negara maju. Hormon yang terus menerus disuntik, atau makanan yang mengandung konsentrat tinggi agar ayam cepat besar dan berat tidak alami. Bayangkan kalau itu terus menerus dikonsumsi oleh anak-anak tanpa diimbangi buah dan sayur akibatnya anak anakpun akan cepat pertumbuhan biologisnya tetapi  jauh meninggalkan pertubuhan mental dan intelektualnya. Terjadilah ketidakseimbangan.

Belum lagi kita bicara rokok, narkoba, miras dan sebagainya. Kehebatan setan dalam menghias dan menipu bersinergi keinginan nafsu kotor, semakin banyak orang yang mengkonsumsi sampah. Hukuman berat bagi si pengedar tidak membuat orang menjadi jera. Ketika keimanan kepada Allah SWT tidak ada lagi, maka orang tidak lagi berpikir dan berupaya bagaimana cara menghentikan atau mengobati, tetapi berbagai mana caranya bisa lolos dari intaian polisi atau bebas dari jeratan hukum.  Sebagaimana zina orang tidak lagi berpikir takut dengan pengawasan Allah, siksa neraka, tetapi yang dipikirkan bagaimana zina dengan aman dari HIV, AIDS, dan risiko duniawi lainnya.

Ada lagi manusia pemakai bangkai manusia, itulah julukan yang Allah SWT berikan kepada orang yang suka menggunjing orang lain, dalam surah Al-Hujuraat (49) ayat : 12 ). Tayangan gosip-gosip selebritis menjadi acara yang paling laris, terbukti setiap stasiun TV punya banyak acara ghibah yang hukumnya sama dengan memakan bangkai manusia ini. Tak kalah larisnya juga koran dan majalah-majalah gosip. Menjadi santapan nikmat berita berita gosip itu sambil minum kopi di pagi hari.

Masih berkisar mulut, ada yang suka celetukan tanpa bobot, bahkan menyebut istilah-istilah kotor, nama-nama binatang untuk menjudge orang lain, sumpah serapah, lawakan tak bermutu, celetukan porno, isilah yang artinya berupa penghinaan / bullying namun karena keseringan diucapkan jadi hal biasa. Teriakan yang tanpa tujuan, komentar hanya sekadar mencari sensasi, provokasi  negatif dan sebagainya.

Dari mulut , beralih ke mata sampah, berarti mata yang suka melihat sampah. Gambar-gambar sampah, tayangan-tayangan sampah, film-film sampah, pertunjukkan sampah, acara-acara sampah. Di antara tayangan sampah adalah berbagai bentuk kemusyrikan dengan segala promosinya, tayangan kekerasan serta keberingasan, tayangan kehidupan glamour, hedonisme, kenikmatan, kemewahan dan sebagainya, tayangan seks, eksploitasi tubuh, serta nafsu berahi, tayangan horor, setan, hantu, kuntilanak yang meracuni otak manusia. Berbagai bentuk hiburan, nyanyian, tarian, lawakan atau pertunjukan apapun yang tidak punya nilai edukatif, murahan, tanpa bobot, dan sejenisnya.

Kalau kita mau jujur mengamati keadaan, maka kita akan menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan, suasana hidup dan gaya hidup masyarakat kita. Sudah sangat kecanduan dan kehausan dengan berbagai hiburan, sehingga boleh dibilang sudah sangat over dosis. Televisi sudah menjadi teman hidup yang harus 24 jam non stop menyala. Seremonial apa saja harus ada hiburannya, bahkan pernah ada usulan di kantor dewan pun harus ada ruangan karaoke.

Semakin lama berbagai tayangan edukatif semakin tidak diminati, lihat saja berubahnya orientasi TPI. Investor akan berpikir seribu kali kalau mau membuat televisi edukasi. Sudah sedemikian membusuk mata sampah, sehingga enggan menyaksikan acara-acara yang bermanfaat, punya nilai edukatif serta penambahan spiritual. Makanya acara yang berbobot  seperti santapan ruhani diletakkan di pagi hari pukul 05.00, waktu orang mulai sibuk bersiap untuk kerja ke kantor. Hampir tidak ada yang mau memasang iklan pada jam jam seperti itu. “Tuhan sangat miskin dan setan sangat kaya kalau dilihat dari tayangan-tayangan televisi”. Celetuk seorang kru televisi swasta.

Telinga sampah adalah telinga yang senang dengan bunyi-bunyian sampah, lagu-lagu sampah, musik-musik sampah, hiburan sampah, banyolan sampah, cerita sampah dan lain lain. Di antara persoalan serius lagu-lagu adalah lirik-liriknya. Tanpa disadari banyak sekali ungkapan kemusyrikan, terutama lagu-lagu cinta. Memuja muji kepada selain Allah SWT secara berlebihan  tidak proporsional banyak sekali diungkapkan dalam nyanyian-nyanyian cinta. Seperti “Aku lahir hanya untukmu..”  “lebih baik aku mati di tanganmu” , “di hatiku hanya ada kamu..” atau “ hidup ini terasa hampa tanpa ada kamu di sisiku” dan berbagai ungkapan gombal lainnya.

Akhirnya kita juga banyak menyaksikan aktivitas sampah, seperti tongkrongan sampah, pesta sampah, pertunjukakn sampah, seremoni sampah, dan sebagainya. Isi acaranya hanya kemaksiatan dan kesenangan hewaniah. Mata, telinga, kaki dan tangan penuh kemaksiatan, Akal dan pikiran ngeres dan penuh  kotoran. Jiwa dan hati keras dan kelam, sulit menerima masukan, sulit untuk diajak kebaikan.

Jika semua itu yang tersebut di atas dilakukan oleh seseorang secara terus menerus, apalagi dilakukan oleh seorang pemuda, maka bisa kita sebut “Pemuda Sampah”. Dan jika pemuda itu telah menjadi korban sampah sehingga hari-harinya tidak lagi produktif,  hanya menghasilkan aktivitas dan pekerjaan sampah, maka layak juga disebut “Sampah Pemuda”

Jadi Sampah Pemuda adalah sampah yang dihasilkan oleh berbagai aktivitas, kegiatan, pekerjaan, hobi para pemuda yang tidak membawa manfaat apa-apa kecuali kotoran, bau busuk, sumber penyakit dan sebagainya. Sementara Pemuda Sampah adalah pemuda hasil korban dari kedekatannya dengan sampai, sehingga hari-hari waktunya habis disibukkan oleh berbagai macam aktivitas yang tidak ada manfaat bahkan banyak menimbulkan bahaya. Baik bahaya untuk dirinya maupun bahaya untuk lingkungannya.

Apabila pemuda sampah bertemu dengan program iblis laknatullah yang pekerjaannya menyesatkan manusia kemudian didukung oleh teknologi maka menjadi bahaya yang sangat serius. Membutuhkan penanganan yang serius pula agar tidak semakin banyak para pemuda yang menjadi korban sampah. Menjadi tanggung jawab kita semua bagaimana caranya mengolah sampai agar bisa berguna kembali. Pengolahan sampai sangat berbeda dengan pengolahan bahan biasa. Membutuhkan beberapa tahapan proses, sebelum di daur ulang. Mulai dari pemilahan berbagai jenis bahan, pencucian, peleburan dan pembentukan.

Begitu juga penanganan Pemuda Sampah akan sangat berbeda dengan pemuda yang biasa. Membutuhkan ekstra kerja keras kita untuk bisa menyelamatkan generasi muda yang sudah terkena penyakit sampah. Karena itulah dibutuhkan kesadaran bersama dari seluruh komponen masyarakat, dimulai dari mengetahui dan sadar akan realitas apa yang terjadi sesungguhnya di sekitar kita. Karena tidak jarang orang yang tidak tahu apa-apa tentang lingkungannya sendiri, sehingga masih merasa tenang, tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi.

Semoga kita masih punya waktu sekadar untuk peduli mau tahu nasib anak bangsa terutama di kalangan pemudanya. Sehingga ada suhu dan motivasi yang sama untuk kita berjuang bagaimana caranya menyelamatkan pemuda kita dari berbagai ancaman yang menghadang di hadapan mereka.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 6,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Abdullah Muadz
1. Pendiri Pesantren Marifatussalaam Kalijati Subang. 2. Ketua Umum Assyifa Al-Khoeriyyah Subang. 3. Pendidiri, Trainer & Presenter di Nasteco. 4. Pendiri dan Trapis Islamic Healing Cantre Depok. 5. Pendiri LPPD Khairu Ummah Jakarta.

Lihat Juga

Ilustrasi. (persisalamin.com)

Dari Pemuda untuk Kejayaan Peradaban

Organization