Home / Narasi Islam / Wanita / Syukuri Cantikmu

Syukuri Cantikmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

muslimahdakwatuna.com Siapa yang tak mau cantik? Disanjung dan dipuja bak dewi kayangan, menjadi pusat perhatian sepanjang zaman. Tapi tahukah Anda, bahwa terkadang kecantikan yang didambakan mampu membawa kita pada kemudharatan?

Dewasa ini, menjadi cantik bukanlah perkara sulit. Berbagai perias wajah yang mampu meningkatkan kepercayaan diri wanita bisa ditemui di mana saja. Soal harga dan kualitas pun, bisa disesuaikan dengan kantong konsumen. Begitu pula dengan acara kecantikan yang bisa disaksikan secara online ataupun di televisi, seakan sudah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat kekinian. Tak adanya batasan umur bagi penonton, membuat anak usia muda dan belia sudah bisa disulap menjadi ‘tante-tante muda’. Tentu tak bisa dipungkiri bahwa semua ini berkat kecanggihan teknologi di negara kita.

Banyak orang menghalalkan segala cara demi gelar ‘Si Cantik’. Mulai dari perawatan salon mahal, hingga melakukan suntikan-suntikan yang biasanya berujung fatal. Bagaimana tidak, sebuah benda asing dimasukkan kedalam tubuh manusia yang hakikatnya sudah diciptakan sedemikian rupa oleh Allah sesuai dengan kodratnya. Namun manusia-manusia minim rasa syukur, biasanya merombak ciptaan yang Maha Agung tersebut dengan berbagai cara. Ada yang menambah, mengurangi, atau bahkan memperindah bagian tubuhnya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang kian beringas. Terkadang, kemudahan tersebut membuat kita lupa akan takdir sebagai manusia. Yang pada dasarnya warna kulit hingga bentuk rambut sudah diciptakan masing-masing sesuai ukurannya. Tak perlu diubah atau diperbaiki, sebab Allah memberikannya dengan tujuan demi kebaikan umatnya sendiri.

Sesekali perlulah kita menengok pada hadist sahih riwayat Bukhari dan muslim “Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya, melakukan melakukan tato di wajahnya (mutawasshimah), menghilangkan rambut dari wajahnya, menyambung giginya, demi kecantikan, mereka telah mengubah ciptaan Allah.

Jika kita berkaca pada hadist tersebut, para wanita seharusnya malu. Bagaimana bisa kita hidup dengan nyaman dan penuh kebanggaan akan kecantikan yang didapat dengan cara yang dilarang dalam agama, sedangkan kita berada dalam ancaman laknat Allah? Sudah tak ada lagi rasa canggung atau sungkan dalam merombak diri. Biaya ratusan bahkan miliaran rupiah pun melayang demi hal yang terlarang. Bertandang ke negeri tetangga demi keapikan diri pun dihalalkan. Sungguh, manusia-manusia masa kini seyogyanya telah dibutakan oleh kenikmnatan duniawi demi kesempurnaan fisik. Hingga mengesampingkan kehidupan yang sesungguhnya, yaitu di alam akhirat. Mereka lupa akan larangan Tuhannya dalam mengubah bentuk tubuh atau mungkin mereka ingat, namun tak menganggapnya ada. Semua dianggap sepele, hingga pertanggungjawaban di akhirat pun menjadi kian berat hari demi hari.

Mulai sekarang, marilah kita bercermin. Belajar mensyukuri apa yang ada. Menikmati segala garis takdir yang sudah tercipta. Cukup rawat dan jaga baik-baik kepercayaan Allah yang telah mengamanahkan segala pemberiannya. Jangan takut kalah dalam hal bersolek di dunia. Sebab, kecantikan yang hakiki adalah iman yang sejati. Apalah arti kecantikan fisik jika hati tak bersih? Maka, jagalah kecantikanmu. Usahakan hanya untuk pada muhrimmu. Jangan jadikan kepiawaianmu dalam merawat diri, menjadi gerbang menuju panasnya api neraka ciptaan Sang Ilahi. Mari, ciptakan gerakan mudah bersyukur. Jauhi segala larangan Allah dan cintai dirimu.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 5,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pritta Wisessa Octaviany
Mahasiswi di Politeknik Negeri Jakarta jurusan Teknik Grafika Penerbitan, dan prodi Penerbitan (Jurnalistik). Aktif dalam berbagai kegiatan keorganisasian maupun kepanitiaan di kampus. Bertempat tinggal di Bekasi. Menulis dan membaca merupakan hobinya sejak kecil.

Lihat Juga

Syukuran Milad Anaknya, Istri Gubernur NTB Donasi Rp 20 Juta untuk Palestina