Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tidur Menyebabkan Stres

Tidur Menyebabkan Stres

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (sportbund-rheinhessen.de)
Ilustrasi. (sportbund-rheinhessen.de)

dakwatuna.com Suatu hal yang sesuai dengan tempat dan porsinya itu baik. Sebaik apapun suatu hal bahkan sekalipun itu kebutuhan manusia jika tidak berada pada tempat yang semestinya dan pada porsi yang tepat justru akan berdampak buruk dan bahkan menimbulkan banyak masalah. Semua hal menuntut tempat dan waktu yang tepat.

Konteks baik-buruk yang saya maksud berbeda dengan benar-salah. Untuk kebenaran hakiki, benar adalah benar, di mana pun itu. Mungkin ada kalanya kebenaran itu dibenci, tetapi hal itu tidak akan mengubah statusnya. Kebenaran hakiki tetaplah benar meskipun tak seorang pun membelanya. Seperti kalimat favorit dari salah satu guru saya “Mutiara tetaplah mutiara, sekalipun berada di kubangan lumpur”.

Barangkali mutiara itu tidak tampak karena keindahannya terbalut kotornya lumpur di sekelilingnya. Akan tetapi, siapa pun yang nantinya menemukannya secara sadar tetap akan mengatakan bahwa itu adalah mutiara. Namanya tidak berubah. Nilainya sama.

Kembali lagi pada bahasan awal. Sesuatu yang baik jika berada pada tempat dan porsi yang tidak tepat justru bisa mendatangkan banyak masalah. Hal ini banyak kita jumpai dalam kasus sehari-hari. Salah satunya adalah makan.

Makan adalah salah satu kebutuhan makhluk hidup untuk mendapatkan energi guna melangsungkan hidupnya. Akan tetapi, ketika makan ini tidak pada tempat (ruang dan waktu) dan porsi yang tepat, ia justru akan menimbulkan masalah atau bahkan menjadi sesuatu yang dilarang. Meskipun makan adalah suatu kebutuhan, makan di siang hari bulan Ramadhan tanpa suatu alasan yang dibenarkan syariat adalah perbuatan yang dilarang. Kegiatan yang pada dasarnya adalah untuk memenuhi kebutuhan justru mendatangkan dosa karena tempatnya tidak tepat.

Kasus lain yang juga sangat dekat dengan kita adalah tidur. Manusia butuh tidur sebagai sarana istirahat. Mengembalikan kekuatan dan semangat. Kurang tidur bisa menyebabkan tubuh mudah lelah dan fokus berkurang. Akan tetapi, terlalu banyak tidur juga tidak baik dan bisa mengakibatkan stres.

Banyak tidur mengakibatkan waktu produktif berkurang. Sementara itu, tugas dan amanah semakin bertambah. Pada akhirnya tugas akan bertumpuk. Amanah semakin menuntut untuk segera diselesaikan. Hingga terkadang muncul pemikiran akankah semua tugas dan amanah itu bisa diselesaikan dengan waktu produktif yang terbatas dan justru semakin berkurang karena terlalu banyak waktu untuk tidur. Deadline semakin dekat dan tuntutan dari pemberi tugas dan amanah semakin menjadi-jadi. Jadilah pikiran semakin kalut.

Kerja berpacu dengan waktu. Pada akhirnya kualitas kerja menyesuaikan dengan waktu yang ada. Tugas dikerjakan tidak maksimal sehingga hasil yang diperoleh tidak optimal. Selanjutnya muncul kekecewaan dan penyesalan. Tekanan demi tekanan muncul. Stres pun bukan hal yang mustahil lagi.

Maka benarlah kiranya apa yang disampaikan oleh Ustad Musholli dan sering beliau ulangi sebagai suatu penegasan, bahwa “Ngantuk itu merugikan negara”.

Mengantuk di sembarang tempat merugikan individu karena menjadikan tidak fokus dalam beraktivitas sehingga apa yang dikerjakan bukanlah dengan kemampuan maksimal. Negara terbentuk dari sekumpulan manusia. Apapun yang terjadi pada setiap individu akan mempengaruhi apa yang terjadi pada negara, disadari atau tidak. Berdampak besar maupun kecil.

Jadi, mari belajar melakukan sesuatu dengan porsi dan tempat yang tepat agar kita menjadi orang-orang yang bijaksana. Memang tidak mudah. Karena kebijaksanaan bukanlah suatu capaian. Bukan pula puncak keberhasilan, melainkan suatu proses, serangkaian pilihan yang kita jalani sepanjang hayat ini.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lilis Suryani
Mahasiswi Jurusan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, UGM. Peserta Program Pembinaan SDM Strategis (PPSDMS) Regional 3 Yogyakarta Putri Angkatan 7.

Lihat Juga

Jamaah Haji 2015

Kiat Mengantisipasi Stres Saat Berhaji