Home / Narasi Islam / Dakwah / Membina Benih Mujahid

Membina Benih Mujahid

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Antusias anak-anak dalam mempelajari Al Quran - Foto: inhusatu.com
Antusias anak-anak dalam mempelajari Al Quran – Foto: inhusatu.com

dakwatuna.com Shalat subuh baru saja selesai dilaksanakan. Selesai berdzikir dan berdoa, kuberjalan menuju pojok mezanin masjid Nurul Fikri. Masjid yang kini sepi ditinggalkan para jamaahnya.

Seiring dengan pindahnya gedung sekolah, maka pindah pula lah sebagian besar jamaah yang dulu ramai memakmurkan masjid sekolah ini.

Di pojok masjid kududuk menanti para mujahid cilik datang. Bangun dari pelukan rasa kantuk, yang kadang sanggup mengalahkan orang dewasa. Bangkit dari rasa malas yang kadang membuat kita pandai menciptakan seribu satu alasan. Sedangkan para belia ini hadir memenuhi janji mereka dan mengalahkan musuh pertama mereka yaitu kantuk dan kemalasan.

Satu demi satu mereka datang…

Sebagian wajah mereka memang masih menyiratkan rasa kantuk yang menyerang. Sebagian hadir dengan senyum yang mengembang. Sebagian hadir dengan tatapan bersemangat dan riang. Yaa Rabbi, kadang orang dewasa malah hadir dalam halaqah dengan wajah kusut dan raut kelelahan.

Aku bertanya-tanya, bisakah mereka menjadi mujahid di masa datang?

Kepada siapa mereka harus mengambil teladan?

Kadang angkatan sahabat terlalu jauh dari pandangan. Salafus shalih pun hanya dalam kisah dan cerita mereka dapatkan.

Adapun aku, hanya sedikit kebaikan yang dapat kutontonkan.

Lalu dari lidah mereka pun mengalun lantunan suci dzikir pagi. Menghapus kantuk dan menyambut pagi. Al-Matsurat dibaca untuk mengikat hati.

Dua puluh lima jasad cilik menanti buaian tangan para ahli. Yaa Rabb bahkan aku merasa tidak pantas untuk tugas mulia ini. Mereka adalah belia yang dilahirkan dari rahim suci. Para mujahidah pengasas dakwah ini.

Dua puluh lima lidah cilik kemudian membaca Al-Quran secara bergantian. Yang salah mereka ingatkan, karena itulah kewajiban persaudaraan. Tak ada celaan bagi yang terbata-bata mengucapkan, karena mencela saudara seiman bukan akhlak pemuda Islam.

Ayat demi ayat yang mereka bacakan, jauh lebih merdu dibanding kicau burung yang membelah pagi hari. Yaa Rabbi, semoga mereka mengingat masa ini. Sebagaimana untaian nasyid ‘Ghuraba’ yang entah di mana kini.

‘Kam tadzaakarna zamaanan, yauma kunnaa su’adaa.. bikitaabillahi natluuhu sobaahan wa masyaa… ghuraba, ghuraba, ghuraba, ghuraba’

Kalau kebatilan sudah menyelimuti dunia, aku mau mereka menjadi ghurabaa.

Saat acara demi acara kami lewatkan, maka wajah semangat pun mereka pancarkan.

Kepada merekalah aku berguru, tentang semangat dan kesungguhan. Dan untuk mereka aku mendoakan: “ Ya Rabbi, jadikan mereka pembawa panji-panji kebenaran Islam. Jadikan mereka mujahid di garda terdepan, saat dakwah dan jihad dikobarkan. Dan jadikan mereka adalah sebaik-baik warisan.”

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lahir di Sukabumi, Menyukai membaca, menulis dan bercerita. Mengajar sebagai guru di Sekolah Penghafal Al-Quran di Lebak Bulus.

Lihat Juga

poster-SPC_Rev-01

Menyemai Benih Kerelawanan untuk Pelajar Indonesia

Organization