Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Memoar Cinta di Selaksa Senja

Memoar Cinta di Selaksa Senja

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comSiang yang terik menjadi jamuan saat pulang perkuliahan hari ini. Debu bertebaran di jalan raya menjadi teman Nia dan Ria saat menunggu bus pulang. Seperti biasa, tak ada pilihan lain selain masuk ke dalam bus kota yang sumpek dan penuh dengan penumpang. Hingga tak ada ruang rasanya untuk bernafas. Sesekali mereka hanya bisa tersenyum sambil bergelantungan di sisi pintu, memegang erat kursi bagian depan agar tak terjatuh saat di perjalanan. Walaupun setiap kali di perjalanan seperti ini, ada saja hal yang membuat hati Nia bergejolak. Adakalanya senang, sedih, haru bahkan marah saat berada di bus kota. Banyak hal yang membuat hatinya berubah tingkah. Tergantung apa yang ia lihat saat berada di sana. Sumpek, debu, dan panas menjadi teman di sepanjang perjalanan menambah panjang jalan yang sebenarnya tak seberapa ini. Namun apa mau dikata, hanya angkutan umum ini yang bisa dijangkau dengan cepat dan dengan ongkos yang lebih murah. Satu jam begitu lama rasanya, hingga saatnya turun di halte dekat kosan.

“Ni, ngejus dulu yuk. Tenggorokanku pahit. Sepertinya jeruk cocok sekali untuk mengobatinya.” Ria berucap sambil turun lalu mengamit tangan kananku.

“Yuk” Nia menyambut senang ajakan temannya tanpa harus berpikir panjang. Ia selalu tak bisa menolak saat diajak menikmati menu panjang di kota ini.

Sepuluh menitan sering kali tak terasa jika berjalan sambil bercerita. Tetiba saja sudah sampai di depan café ceria, tempat nangkring mahasiswa di sini. Tak butuh waktu lama, pesanan selesai. Mereka memilih untuk tidak minum jus pesanan di tempat. Dibawa pulang, mungkin lebih baik. Karena waktu shalat maghrib sepertinya akan tiba sebentar lagi.

“Ria, aku nebeng ya. Shalat bareng aja di kosan kamu. Mau istirahat sebentar boleh kan?”

Senyum simpul menjadi jawaban pertanda ia. Ah, Ria memang orang yang senang sekali dikunjungi dan mengunjungi. Hingga aku sadar, ia banyak dikenali teman-teman dari jurusan dan angkatan lain.

Belum lama melangkah, tiba-tiba seseorang menghampiri mereka.

“Assalamu’alaikum Ria. Apa kabar?”

“Wa’alaikumsalam, Tari ya? Alhamdulillah sehat. Kamu sehat?”

“Alhamdulillah, sehat hanya sedang panas dalam. Beberapa hari ini sedikit batuk, tapi udah mendingan.”

“ Syukurlah, pantes aku lihat wajahmu agak berbeda dari biasa. Sudah minum obat?” Ria tampak khawatir .

“udah Ri, O iya aku pulang duluan ya. Tuh di depan udah ditungguin teman.”

“Ok deh, semoga cepat sembuh ya. Upss, maaf sampai lupa. Ini kenalin dulu. Namanya Nia.” Tari mengulurkan tangan sambil melempar senyum. Lantas berlalu meninggalkan mereka berdua.

“Tari, sebentar”. Ria berjalan cepat menghampiri Tari yang mulai menjauh dari mereka.

“ ini ada jus. Barusan dibeli, kebetulan aku belinya gak dicampur es. Semoga cepat sembuh ya” Ria berlalu sambil meninggalkan haru di wajah tari.

Nia hanya menatap Ria yang menghampirinya, sambil tersenyum haru. Ia ingat saat pertama kali turun dari bus tadi, ia berucap kalau tenggorokannya sedang pahit, dan jus jeruk menjadi menu pilihannya. Tapi, mungkin ia merasa Tari lebih membutuhkan jus itu, dengan ringan hati ia berikan saja jus miliknya tanpa menghiraukan tenggorokannya yang sedang pahit dan sangat menginginkan jus itu.

Nia melangkah lambat sambil mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Sikap Ria sangat menunjukkan bahwa ia lebih mencintai saudaranya daripada dirinya sendiri. Teringat akan kisah Fatimah putri Rasulullah SAW. Beliau rela memberikan kalung satu- satunya yang ia miliki kepada seorang pengemis. Padahal kalung itu merupakan barang satu-satunya yang paling berharga yang ia miliki. Bahkan ketika Rasulullah mendengar kisah kalung yang diberikan itu langsung dari si pengemis. Beliau meneteskan air mata, karena tahu betapa murah hatinya seorang Fatimah. Hingga akhirnya, Amar Yasir tidak kuasa melihat Rasulullah bersedih. Lantas ia membeli kalung itu dan mencukupi keperluan si pengemis. Lalu kalung itu dikembalikan oleh Amar Yasir kepada Rasulullah beserta pengemis untuk dijadikan budak. Rasulullah memberikan dua hadiah itu kepada Fatimah, dan Fatimah menerimanya dengan penuh syukur. Lantas ia membebaskan pengemis itu dari seorang budak menjadi seorang yang merdeka.

Ria, mungkin belum sehebat Fatimah, namun ia belajar menjadi hebat seperti Fatimah Azzahra. Mungkin ada banyak Ria yang lain yang bertebaran di bumi ini. Yang mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingannya sendiri. Pantaslah selama ini begitu banyak teman yang mengenalinya. Begitu banyak yang menyebut–nyebut namanya karena kebaikannya. Pantas saja hidupnya terlihat senantiasa bahagia, mungkin saja karena ia terbiasa membahagiakan orang lain.

“Ni, Niaaaa….” Sontak Nia kaget saat namanya berulang kali dipanggil oleh Ria.

“Nia, kamu ngapain di tengah jalan bengong. Tuh dari tadi motor-motor mau lewat pada berhenti karena ada kamu.” Ria bergumam dengan raut wajah yang masih heran melihat tingkah temannya.

Sedangkan Nia hanya manggut-manggut minta maaf dan berlalu dengan wajah yang masih malu.

“Untung gak ditabrak,” ujarnya.

Memoar cinta di selaksa senja menjadi pengalaman yang sangat berharga, berharap kejadian itu tidak hanya bertahan di ingatan. Namun bisa diaplikasikan untuk sebuah kebaikan.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 2,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Zahratul Afifa
Lahir di Bengkalis Provinsi Riau pada bulan Desember 1990. Mahasiswi semester 1 pada sekolah Pasca sarjana program studi pendidikan dasar di UPI. Memulai belajar menulis, dan menjadi anggota FLP kota Pekanbaru angkatan VIII pada awal tahun 2013.

Lihat Juga

Love, Cinta, Valentine

Cinta Sebagai Energi Kemenangan