Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mencari Sang Titik Balik

Mencari Sang Titik Balik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: bernaaltay.com)
Ilustrasi. (Foto: bernaaltay.com)

dakwatuna.com Fenomena dalam kehidupan yang dialami oleh manusia di dunia ini selalu sangat menarik untuk dikaji. Kita bisa sejenak terkagum-kagum dengan sejarah orang hebat yang tercatat dalam tinta emas sejarah umat ini. Tetapi kadang kala kita tertegun dan terkaget sejenak kala mereka “Jatuh”. Akan tetapi ternyata Allah taala mengembalikan kembali kemuliaan mereka sebagaimana mestinya, atau bahkan lebih dari sebelumnya.

Tengoklah sejenak bagaimana fenomena penciptaan bapak para umat manusia, Adam ‘Alaihissalam yang demikian heboh dan gempitanya sampai mengundang kontroversi para makhluk pada saat itu. Kita pernah terkagum dengan kehebatan Adam ‘alaihissalam ketika ia menguji para malaikat dengan suatu ilmu, yang di mana hal tersebut membuat derajat Adam lebih tinggi dibanding makhluk Allah pada waktu itu. Tetapi diri kita sejenak terhenyak kala Adam membuat suatu kesalahan di surga, sehingga membuat Allah turunkan ia bahkan secara terpisah dengan sang kekasih ke Bumi. Tetapi Allah kembalikan kemuliaan Adam sebagaimana mestinya bahkan lebih baik.

Kita juga terhibur dengan kisah terbaik dari al-Quran, Yusuf ‘alaihissalam. Putra Ya’qub yang mempunyai kelebihan dibanding saudara-saudaranya, tetapi kemudian Allah buat Yusuf seakan jatuh, terbuang dari Ayahanda tercintanya. Ketika optimis kian muncul di dalam diri Yusuf kala satu atap dengan salah satu menteri, cobaan untuk “Jatuh” kembali datang, meski sejarah teramat tau bahwasannya Yusuf tak pernah bersalah atas insiden yang membuatnya di penjara. Dan itulah makar Allah untuk memberikan titik balik kepada Yusuf yang membuatnya mendapatkan kemulian, menyatukan keluarganya, dicintai rakyatnya dan tercantum abadi dalam Al-Quran.

Sang Nabi terakhir, Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam juga menorehkan sejarah yang indah untuk dikenang. Dari keluarga mulia, Manusia yang Mulia tetapi Allah hendak berikan jalan kemuliaan hingga akhirnya mengharuskan Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam berhijrah ke Madinah, karena kaummnya yang hendak menghinakan risalah dan menjatuhkannya di tempat terendah di bumi ini. Perlu perjalanan yang cukup panjang untuk membangun peradaban manusia yang terbaik, membentuk generasi terbaik yang pernah ada di muka bumi benama Sahabat itu. Tetapi itulah titik balik di mana generasi binaan Makhluk Allah termulia ini membangun peradaban yang luar biasa yang pernah ada di dunia ini.

Tatar. Pasukan bengis dan kejam luar biasa yang meruntuhkan dinasti Abbasiyah dan ditakuti dunia pada waktu itu tak pernah terbaca dalam sejarah, bahwa generasi sesudahnya menjadi pembela Islam yang militan dan tangguh.

Sekarang, adalah zaman modern. Zaman yang tak mungkin kita alami seperti Adam-melihat para malaikat, jin, Iblis, dan surga. Zaman sekarang pun tak memungkinkan pedang dan tombak digunakan dalam seni perang frontal.

Tetapi, sejenak kita saksikan di zaman modern ini kemenangan yang diraih dengan amat susah payahnya, terasa mudah direbut oleh musuh kemudian mencampakkan sang pemenang ke dalam lubang yang hina. Optimisme pernah tumbuh di Afghanistan, juga pernah tumbuh di Balkan, di bumi dari keturunan Yusuf ‘alaihissalam, optimism itu juga berbunga di Mesir, di seluruh penjuru bumi di mana Islam dan kaum muslimin berada, kemauan untuk mengembalikan kejayaan masa lalu terus Bergema bahkan di Indonesia.

Ikhwah..

Kita sekarang membahas tentang permasalahan titik, lebih tepatnya titik balik. Jika kita perhatikan tulisan-tulisan entah itu artikel ataupun sejenisnya dapat kita ketahui bahwa tanda titik adalah akhir dari suatu kalimat, bisa jadi ada paragraf baru atau tulisan tersebut sudah berakhir.

Tetapi yang jarang kita perhatikan adalah tanda-tanda untuk mencapai “titik” tersebut. Tentu kita mengenal tanda koma, tanda seru, tanda tanya, tanda kurung, dan lain sebagainnya. Dilihatlah, bahwa titik adalah penegasan sebuah proses panjang. Tanda titik tak akan tercantum apabila tanda koma dan sejenisnya tak pernah mengiringi.

Dan begitulah seharusnya hidup, dia adalah sekian tanda-tanda sebelum titik balik yang terang terjadi. Meski, meski ada tanda titik tetapi tanda titik balik kemenangan adalah yang dinanti.

Perjuangan kita belum usai meski kekalahan sedang menerpa, apalagi kemenagan yang suatu saat nanti akan menyapa.

Perjuangan belum berakhir, kita punya Ulama sebagai otak, Politikus tsiqah dan cendekiawan sebagai punggung kita, dan kita mempunyai pemuda dan Mahasiswa sebagai penggerak dan hati umat ini.

Ana uriid, Ant turiid, wallahu yaf ’alu liman yuriid…
(Saya berkehendak, anda berkehendak sedangkan Allah Maha pengabul semua kehendak).

Wallahu a’lam.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 4,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa Mahad Hasan bin Ali Samarinda & Pengajar di Mahad Tahfidzul Quran Subulana Bontang, Kalimantan Timur.
Organization