Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Masih Mau Mengeluh?

Masih Mau Mengeluh?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Mengeluhlah dan terus mengeluh, kalau ternyata mengeluh itu bisa memperbaiki keadaan. Merataplah dan terus meratap, kalau dengan meratap bisa mengembalikan keadaan. Keluhan dan ratapan menjadi konsumsi setiap hari yang seharusnya dihiasi dengan rasa syukur. Mengeluhlah dengan siapa saja, tentang kondisi yang tak seharusnya engkau terima, tentang bagaimana dunia tak adil terhadapmu, tetapi apakah dengan mengeluh semua masalahmu akan segera terselesaikan? Atau satu saja masalahmu tuntas sampai ke akar-akarnya dengan keluhanmu? Bahkan dengan keluhan yang paling memilukan? Tampaknya engkau dan keluhanmu menjadi tak berarti apa-apa di semesta jagad raya ini. Karena Matahari saja sebagai pusat galaksi bima sakti hanya sebesar debu dalam skala Bintang Antares yang jaraknya kurang lebih seribu tahun cahaya dari bumi. Mengeluh itu boleh saja, mengeluhlah hanya kepada Allah. Tetapi, alangkah indahnya bila engkau ber-positive thinking daripada mengeluh.Alangkah produktifnya bila engkau berprasangka baik kepada Allah dari pada mengeluh. Masih ingin mengeluh?

Mungkin, di beberapa kesempatan engkau ingin meratap. Meratapi seseorang yang tanpa alasan yang jelas engkau merasa berhak memilikinya. Tanpa alasan yang jelas engkau langgar budi pekerti dan tata aturan bermasyarakat karena ingin terus berduaan dengan seseorang itu tanpa ikatan yang seharusnya engkau mulai dengan meminta restu kedua orang tuanya dan berikrar di hadapan Sang Pencipta. Tampaknya engkau hanya ingin meratapi seseorang yang engkau cintai, yang bukan hakmu dan merupakan Hak Allah. Bukankah lebih indah bila engkau mencintainya karena Allah, menjemputnya dengan cara yang diridhai Allah, dan untuk menggapai Ridha Allah? Atau mungkin engkau ingin mengeluh atas setiap kekalahanmu di kompetisi-kompetisi yang kau ikuti? Padahal, mungkin saja kemenangan-kemenangan yang engkau peroleh lebih berharga daripada keluh kesah serta ratapanmu. Kemenangan dan keberhasilanmu lebih bermakna dari sekadar mengeluh dan meratapi nasib tanpa mau untuk berusaha.

Sebuah kisah menginspirasi di zaman Rasulullah SAW yang memberi gambaran kepada kita bahwa betapa tidak pentingnya meratapi suatu hal yang tidak menjadi keinginan dan bukan kemauan kita. Beberapa saat setelah mengalami kekalahan yang sangat memilukan pada perang Uhud, Rasulullah SAW segera mengumpulkan kembali kaum muslimin untuk merapatkan barisan dan melakukan konsolidasi. Mungkin setelah kekalahan perang di bukit Uhud tersebut, adalah waktunya bagi kaum muslimin untuk meratap sesedih-sedihnya karena syahidnya puluhan sahabat dan cederanya Rasulullah SAW. Saatnya untuk menyiapkan panggung ratapan dan meratap, bersedih, mengumandangkan kesedihan kepada seluruh penjuru di atas panggung ratapan tersebut. Kekalahan yang memilukan jiwa, hati, dan fisik kaum muslimin ini pun seharusnya menyediakan waktu yang cukup lama agar mereka bisa meratapi kesedihan ini sedalam-dalamnya. Namun apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW? Beliau sangat mengetahui bahwa tak ada manfaat sedikitpun apabila hanya diisi dengan meratapi nasib kekalahan mereka. Dengan meratap, tak akan mengembalikan yang sudah meninggal dunia menjadi hidup kembali, tak akan menutup luka yang menganga akibat sabetan pedang dan terjangan alat tajam, tak akan segera menyembuhkan luka yang mendalam hasil lesatan anak panah dari busurnya, dengan meratap tak akan merubah apapun, dengan meratap tak akan memperbaiki keadaan sedikitpun. Justru dengan meratap yang berkepanjangan tak akan merubah keadaan.

Maka Rasulullah SAW yang amat sangat memahami kondisi ini, segera merapatkan kembali barisan kaum muslimin yang sempat renggang untuk melakukan konsolidasi. Konsolidasi dilakukan untuk mengejar pasukan kafir Quraisy yang merasa menang besar setelah membantai puluhan sahabat Rasulullah SAW. Pasukan kafir Qurasisy pun kaget bukan kepalang melihat kaum muslimin yang dalam beberapa saat yang lalu di pertempuran Uhud nyaris kalah, sekarang berbalik mengejar mereka. Melihat ini dari kejauhan, pasukan kafir Quraisy yang merasa telah menjadi pemenang dalam pertempuran di perang Uhud pun menganggap bahwa yang mengejar mereka adalah bala tentara bantuan kaum Muslimin, sehingga merekapun lari tunggang langgang menuju Mekkah. Kejadian ini lebih dikenal dengan nama Dzaatussalaasiil.

Sepertinya bagi kita, tak ada waktu untuk meratap. Meratap atas setiap kekalahan, kesedihan, kebimbangan, kegalauan, segera mengkondisikan kembali hati, jiwa, dan pikiran adalah acara yang tepat agar keadaan yang sempat mengecewakan kita bisa sedikit berubah. Segera melanjutkan untuk bekerja adalah pilihan yang tepat dari pada meratap dan sedih berkepanjangan yang cenderung kontra-produktif. Segera kembali menyusun semangat dan rencana kerja adalah hal yang lebih produktif dari pada meratap ataupun mengeluh. Atau mungkin meratap atau mengeluh adalah sebentuk dari penyesalanmu? Penyesalan yang posisinya selalu datang belakangan, penyesalan tiada akhir yang akan menghancurkan hidupmu? Penyesalan yang tak engkau barengi dengan upaya untuk bertaubat? Sungguh penyesalan yang tiada artinya, sungguh penyesalan yang tak bermanfaat. Bagaikan penyesalan tiada akhir Ronin Sang Samurai Pengembara.

Kisah setengah legenda serta setengah nyata ini dikisahkan oleh William Dale Jennings tentang Ronin Samurai Pengembara yang hidup di zaman kekerasan Jepang pada Abad Ke-12. Menceritakan kehidupan seorang lelaki pemberontak yang selanjutnya menjadi pahlawan rakyat. Sosok tidak kenal belas kasihan ini, Ronin Sang Samurai Pengembara, menebas jalan hidupnya dari selokan menuju istana dan kehormatan. Di balik tindak keberanian yang haus darah, dia pembawa pertanda aneh dari suatu takdir. Tentang kebenaran dan hal yang bijak dalam kehidupan. Namun dosa yang dimiliki Ronin Sang Samurai Pengembara sangat sulit untuk diampuni, sangat sukar untuk dimaafkan, dosa Ronin terlampau menggunung dan menyempitkan pembuluh darah. Dosa-dosa Ronin Sang Samurai Pengembara benar-benar telah menguras hati, mulai dari biksu tua yang terbelah dua, tiga bocah remaja berdiri dan terpana di tengah arus, yang paling buruk dari semuanya, tentang pemilik kedai yang kehilangan dua jarinya lalu tangan dan hidupnya. Ronin Sang Samurai Pengembara dengan penyesalannya tak akan berarti lagi, meskipun dia menangis, berdoa, dan bersumpah menjalankan penebusan dosa jenis apapun atas seluruh kematian yang diperbuatnya, biarkan dia menundukkan kepala dan membisikkan Ya pada setiap perintah yang harus dilakukannya. Meskipun Ronin Sang Samurai Pengembara sedang mengabdikan sisa hidupnya bagi masyarakat yang ingin melalui tebing terjal nan curam yang bernama celah neraka.

Segala hal yang memilukan tak akan terselesaikan bila engkau menyediakan waktu yang banyak untuk meratap dan mengeluh. Masih mau meratap dan mengeluh? Bukankah lebih baik engkau mensyukuri terlebih dahulu apa-apa yang telah lengkap dalam keindahan fisik dan tubuhmu? Bukankah lebih baik engkau mensyukuri setiap keadaan sehat yang tak akan sanggup dibalas dengan ibadahmu? Itupun kalau ibadahmu rutin, masih belum sanggup untuk membalas setiap detail nikmat. Renungkanlah setiap proses yang menurut kita sangat biasa tetapi mengandung nilai ketauhidan yang mendalam. Sebagai contoh proses melihat, mulai dari cahaya masuk ke dalam retina, lalu dari retina cahaya berproses pada setiap saraf untuk segera diantarkan ke otak sehingga proses melihat begitu sempurna kita dapati dalam kehidupan kita. Hanya dalam waktu yang singkat, kurang dari satu detik kita dapat menyaksikkan keindahan warna-warni kehidupan dengan proses melihat, hanya dalam waktu yang amat sangat singkat segala ciptaan Allah menjadi objek yang begitu indah di depan mata kita. Proses yang berlangsung sangat cepat ini berlangsung tanpa cacat sedikitpun, proses ini berlangsung begitu sempurna di setiap hari ketika kita membuka mata, kesempurnaan proses melihat ini dijaga oleh Allah SWT. Betapa meruginya orang-orang yang masih menggunakan matanya untuk melihat hal-hal yang dibenci oleh Sang Pencipta, betapa lalainya orang-orang yang tak menyadari bahwa dalam proses melihatpun ada nilai-nilai ketauhidan yang senantiasa bisa dipelajari dan menginspirasi agar semakin sadar bahwa Allah SWT masih berkenan menjaga ciptaan-Nya yang masih sering lupa untuk mengingat-Nya dalam keseharian. Bayangkan, dalam proses melihat saja Allah SWT terlibat dalam setiap detailnya, bagaimana dengan proses yang lain seperti proses mendengar, merasakan, mengecap rasa, menggerakkan badan, dan lain-lain? Sesungguhnya setiap organ tubuh kita dijaga oleh Allah SWT dan senantiasa berkoordinasi memudahkan aktivitas keseharian kita atas izin Allah SWT. Betapa durhakanya engkau wahai Bani Adam yang masih memilih untuk mendustakan nikmat Tuhanmu.

Masih mau mengeluh? Masih mau meratap? Meratap dan mengeluhlah sewajarnya saja, jangan sampai berlebihan dan berlarut-larut dalam kesedihan. Jangan sediakan waktu untuk menaiki panggung ratapan dan berseru tentang kesedihan. Alangkah lebih baiknya engkau mensyukuri nikmat yang telah engkau dapatkan. Betapa indahnya setelah engkau bersyukur dan memahami semua hakikat itu, lalu engkau mendakwahkannya kepada orang-orang di sekitarmu. Betapa penyesalan itu selalu hadir belakangan, betapa meratap dan mengeluh adalah dua hal yang kontra-produktif. Jangan pula setiap kesedihanmu engkau kembangkan di akun-akun sosial media yang membuat setiap orang akan terjangkiti kesedihan dan kepiluanmu. Lebih baik engkau berdakwah tentang betapa pentingnya bersyukur, menjaga hati, mengingat Allah, menghindari lalai, meminimalisir perbuatan maksiat. Bukan untuk menjadi orang yang sok suci, tetapi dalam rangka saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Sekarang, masih mau mengeluh?

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Daur Ulang Keluhan