Home / Berita / Opini / Indonesia Punya Nakhoda Baru

Indonesia Punya Nakhoda Baru

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comPeristiwa 20 Oktober kemarin masih hangat dibicarakan. Majelis Permusyawaratan Rakyat melangsungkan sebuah perhelatan akbar: Pelantikan Presiden Terpilih. Di hadapan ratusan mata yang hadir, juga sekian juta kepala yang memaku perhatian dari balik layar, butir-butir sumpah siap membayar sepasang jabatan, Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Mereka siap mengisi setiap relung kehidupan Indonesia. Mereka harus siap jika dipuji atau dicaci nantinya, siap dikritik dan diusik ketenangannya, dan dimintai pertanggungjawabannya oleh siapapun, termasuk Sang Pencipta kelak.

Sebutlah mereka sebagai nakhoda baru bagi sebuah bahtera yang bernama Indonesia. Ke mana layar berkembang, mereka punya kemampuan untuk menentukannya. Kapan bahtera di bawa ke lautan, kapan pula ke daratan, yang jelas mereka harus bawa pulang kebaikan untuk rakyatnya. Tentang bagaimana caranya mereka mengelilingi samudera kejayaan, itu terserah pada mereka, yang penting rakyat tahu apa yang mereka lakukan adalah perkara halal dan bermartabat.

Mereka nakhoda yang bebas berekspresi, dan sebagai rakyatnya, kita harus meyakini kapasitas yang mereka punya. Mereka telah sampai pada kursi yang sejak lama dirindukan. Biarkan mereka merasakan bagaimana panasnya dan gelisahnya mereka setiap saat. Dirundung kekhawatiran akan nasib penduduk negerinya setiap detik. Disuguhi keluh kesah, dikirimi air mata yang meruah, dan dibisiki suara meringis rakyat-rakyat yang terlupakan. Yakinlah mereka akan merasa demikian jika memang mereka pemimpin pilihan rakyat.

Sekalipun mereka bebas berlayar, jangan biarkan mereka kehilangan arah. Mereka harus sampai pada tujuan, bukan tujuan pribadi, melainkan tujuan abadi negeri bermerah-putih ini. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Maka, kita sebagai rakyatnya punya kewajiban untuk mengingatkan mereka demi kebaikan kita semua. Bukan lagi saatnya kita acuh pada kondisi negeri kita sendiri, bukan zamannya lagi rakyat hanya pandai mengangguk, tidak mau sesekali mendongak, melihat dan mengkritisi jalannya panggung perpolitikan, memahami ruwetnya jaring-jaring ekonomi, menyadari banyak identitas negeri yang sedang di ujung tanduk. Rakyat bukan sekadar pengikut atau kacung, rakyat adalah pemangku kedaulatan yang sesungguhnya. Tidak akan berubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mengubahnya. Tidak dikatakan pemimpin yang punya peran, tetapi kaum, bukan satu-dua orang, tetapi banyak orang.

Meskipun begitu, peranan sebagai pengingat, penegur, pengkritik, tidak bisa dijadikan kambing hitam atas sikap membangkang pada pemimpin. Dukungan sekecil apapun pasti dihargai oleh mereka, jika memang mereka pemimpin yang dekat dengan rakyat. Riuhnya tepukan tangan dan pujian yang membumbung bukan yang mereka harapkan, jika mereka pemimpin yang benci dijilat. Doa tulus dari rakyat yang taat itu yang mereka dambakan, jika memang mereka pemimpin budiman. Selamat berbahagia Rakyat Indonesia atas dilantiknya presiden-wakil presiden Republik Indonesia periode 2014-2019. Teruntuk Bapak Presiden bersama wakil, selamat menempuh hidup baru, sungguh kami memimpikan Indonesia baru yang lebih baik bersama Bapak-bapak sekalian.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi kelahiran Jakarta yang sedang menempuh pendidikan S1 Farmasi UGM angkatan 2013. Saat ini berfomisili di Sleman, DIY.

Lihat Juga

Rohingya

DPR Desak Pemerintah Indonesia Bersikap Tegas atas Insiden Kekerasan di Rohingya