Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Cinta Sepasang Kakek dan Nenek

Cinta Sepasang Kakek dan Nenek

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (stnajah.net)
Ilustrasi. (stnajah.net)

dakwatuna.com Tangan keriput dan tubuh tua itu tampak mesra sekali bergandengan tangan menuju masjid di suatu sore, kala adzan ashar berkumandang. Wajah teduh dari orang tua sepuh yang menjadi salah satu tokoh di kota Jogjakarta itu sungguh memberikan kesan yang mendalam bagi yang berpapasan dengan mereka berdua. Meski tua, namun nuansa kekompakan, kebersamaan, kehangatan dan kasih sayang justru di antara mereka sangat terlihat. Pastilah ada iri rasa bagi yang menyaksikan tingkah cinta dari kedua orang tua ini. Semakin tua semakin jadi, semakin tua justru kesatuan mereka semakin nyata. Subhanallah.

Di usia mereka yang semakin senja di mana rambut telah memutih, sekujur kulit telah keriput, tubuh semakin melemah dan segala kenikmatan mulai dikurangi oleh Allah SWT, kedua orang tua itu tetap semangat melangkahkan kaki melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Tak pernah masbuk dan bahkan sangat aktif dalam setiap kegiatan keagamaan yang dilaksanakan jamaah. Tak sedikitpun mereka bosan dalam kebersamaan yang mereka lakukan. Setiap hari. Melangkahkan kaki dan membersamai segala hal, sejak mereka muda hingga kini tua. Karena Allah saja, ya… karena Allah saja.

Puncak kenikmatan dalam memahami cinta itu seperti apa, kiranya mereka telah paham betul. Tentang banyaknya hal yang telah mereka jalani selama ini. Tentang lika-liku mengelola rezeki yang telah mereka hadapi. Tentang kesempitan dan waktu luang yang telah mereka jumpai. Pahit, manis kehidupan pada rentang waktu yang cukup panjang. Pastilah banyak kisah menarik yang bisa dijadikan pelajaran bagi kaum muda yang sedang merintis cinta bersama pasangannya.

Mereka yang mampu bertahan hingga di ujung senja. Mereka yang senantiasa berusaha membahagiakan pasangannya meski keterbatasan, terutama keterbatasan fisik semakin terasa. Tapi justru dari sanalah bertandang arti sebuah nilai dari cinta yang sejati. Kebersamaan yang dipadukan atas nama Allah SWT, yang mencintai dan saling menyayangi hingga ujung usia. Sampaipun di penghujung umur yang tersisa, mereka tetap berusaha membahagiakan pasangan jiwanya yang tak secantik, sekuat dan segagah dulu kala mereka masih muda.

Orang tua, cinta mereka jauh lebih besar dan lebih nyata daripada cinta anak muda. Cinta mereka lebih tulus, lebih suci dan tak membutuhkan embel-embel apapun lagi untuk benar-benar saling percaya pada pasanganya. Mereka sudah tak lagi memandang harta, tahta, paras rupa dan segala hal yang berkaitan dengan dunia. Komunikasi dan interaksi yang dilakukan didalami dengan sepenuh hati. Hanya ada ketulusan yang menjadi pijakan dasar hubungan akrab di antara mereka berdua.

Karena sungguh pada usia yang memang mereka sama-sama menanti antara yang satu dengan yang lainnya, tentang siapakah yang lebih dahulu kembali pada-Nya. Pasti setiap detik akan sangat mereka hargai, untuk mereka nikmati bersama. Bersama sejuta kisah yang telah mereka rangkai menjadi satu perjalanan hidup yang patut dicontoh. Tentang penyatuan hati yang dilakukan, sejak akad dan terkatakanlah “sah” di hadapan para saksi, terus dipegang teguh hingga salah satu dari keduanya membantu mentalqinkan kalimat tauhid di telinganya yang lain. Rentang ini sungguh sangat panjang dan sungguh sangat panjang sekali jika diukur berdasarkan jalan kehidupan.

Sebuah belahan jiwa yang kokoh yang ditempa dengan banyak hal seiring waktu yang terus berjalan. Sedangkan batas usia kehidupan tak ada yang paling memahami kecuali Allah SWT. Tentang kapan dan bagaimanakah kita akan kembali, kita serahkan dan pasrahakan pada Allah SWT saja. Namun jikalah cinta itu boleh terbentuk dan terukir cukup panjang sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Pun hingga memutih seluruh rambut dan kulit turut pula mengkriput, siapapun insan pastilah ingin hidup bersama pasanganya hingga akhir hayat. Dewasa bersama serta menjalani segala kehidupan dengan segala suka dan duka hingga di ujung usia.

Usia yang kelak hanya menyisakan senyum di antara keduanya. Sebuah senyum dengan sirat, bahwa hidup yang dijalani selama ini tidaklah sia-sia. Bahagia bisa melewati segalanya bersama, bahagia bisa mengenal dan mencintai hingga akhir usia, bahagia bahwa hubungan yang telah dibina selama ini memiliki nilai berarti. Hingga salah satu dari kedua senyum itu sama-sama menanti tentang siapakah di antara dari keduanya yang lebih dulu kembali. Meski keduanya pun sama-sama meyakini, kelak mereka kan dipertemukan lagi dalam cinta-Nya yang abadi. Sepenggal kisah dari sucinya cinta orang tua, cinta sepasang kakek dan nenek yang muda dan menua bersama. Semoga setiap insan yang saling mencintai, bisa mempertahankan, melanggengkan dan membersamai cintanya hingga tua nanti. Menancapkan labuhan kerinduannya serta menikmati masa tuanya dalam genggaman rasa kasih sayang yang dalam, hanya pada Allah SWT semata. Amin ya Rabbal’alamin.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Azies Rachman, S.E.I
Seorang hamba Allah yang sangat ingin menginjakan kaki di syurga tertinggi. S2 Magister Ekonomi Islam Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Program Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) DDII-BAZNAS. Sharia Financial Planner.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang

Organization