Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Simbolisasi Padang Arafah

Simbolisasi Padang Arafah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (travelhajidanumroh.com)
Ilustrasi. (travelhajidanumroh.com)

dakwatuna.com Sejak tergelincirnya matahari pada 9 Dzulhijjah sampai dengan terbitnya fajar pada 10 Dzulhijjah pada keesokan harinya, jemaah haji yang berasal dari seluruh dunia berkumpul di satu titik tempat yang bernama Padang Arafah untuk melaksanakan ibadah puncak ritual haji yaitu wukuf.

Aktivitas ini merupakan rukun wajib yang harus dilakukan oleh calon jamaah haji untuk melengkapi ritual-ritual lain yang telah dilakukannya selama 40 hari di tanah suci, seorang tidak dianggap melaksanakan rukun islam kelima ini manakala dirinya tidak melaksanakan ibadah puncak dalam haji dengan berwukuf di Padang Arafah.

Allah SWT Sang Sutradara kehidupan telah merancang skenario sedemikian rupa sehingga menempatkan posisi Padang Arafah menjadi begitu penting sebagai puncak ritual dalam pelaksanaan ibadah haji umat muslim di seluruh dunia.

Arafah secara bahasa dapat diartikan sebagai ‘pertemuan’, karena di tempat inilah Allah SWT kemudian menakdirkan Adam dan Hawa bertemu kembali setelah keduanya dipersatukan di surga dan kemudian dipisahkan serta diturunkan masing-masing ke bumi.

Merekalah yang menjadi manusia pertama yang diciptakan Allah SWT dan menjadi penghuni pertama yang Allah SWT turunkan ke bumi, Adam diturunkan Allah SWT di suatu tempat di India sementara Hawa diturunkan Allah SWT di Irak sebuah tempat yang beratus kilo jaraknya dari India, dan selama 200 tahun pencarian keduanya dipertemukan kembali di wilayah Jabal Rahmah di sebuah padang pasir luas yang kemudian disebut Padang Arafah.

Di tempat inilah kemudian pada masa-masa setelah peristiwa ‘pertemuan’ yang menyejarah itu menjadi titik pertemuan kembali manusia-manusia di seluruh dunia khususnya umat muslim dalam rangka berdiam diri dan taqarub mendekatkan diri kepada-Nya dengan berdzikir mengagungkan asma Allah SWT.

Di Padang Arafah inilah para kaya bercampur baur dengan para miskin, para pimpinan bertemu lutut dengan para bawahan yang dipimpinnya, di padang pasir inilah manusia bertemu; bertatap dan berbaur tanpa membedakan status jabatan dan status sosialnya, mereka semua beribadah kepada Allah SWT dengan berdiam diri mendekatkan diri pada-Nya.

Di padang pasir yang tandus itulah kemudian menjadi simbol bermulanya peradaban manusia, mengisi cerita tentang baik buruknya bumi dan menghiasi perjalanan bumi dari masa ke masa baik suka maupun duka. Pada sisi inilah kemudian Padang Arafah berperan memberi nilai bagi roda kehidupan umat manusia, bahwa titik nol peradaban dimulai di sebuah padang pasir gersang nan tandus di Padang Arafah, nilai inilah yang Allah SWT coba pantulkan di cermin hati setiap umat muslim yang telah melaksanakan ibadah haji.

Tugas dan kewajiban kita kemudian adalah menjaga agar cermin hati masing-masing kita bersih dari kotor dan debu sehingga nilai kehidupan itu tidak karam terselimut debu dan kotor namun sebaliknya nilai itu memantul keluar menjadi aksi nyata dalam kehidupan masing-masing kita.

Sudahkah masing-masing kita membersihkan cermin hati kita dan menjaganya dari debu dan kotor??

Salam Haji…!!!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 5,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Extraordinary person wanna be | Husband of Amazing Woman | Father of 3 Remarkable Sons | Love Travelling, Networking, Reading & Sport

Lihat Juga

Ilustrasi. (seputarmalang.com)

Begitu Melimpah Nikmat Allah, Maka Berqurbanlah