Home / Pemuda / Cerpen / Setitik Cahaya Kota Quds

Setitik Cahaya Kota Quds

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

masjidil-aqsha-kudusdakwatuna.comAku tergabung dalam komunitas backpacker di Indonesia, beberapa pelosok pulau-pulau sudah berhasil kukunjungi. Pun beberapa negara Asia seperti Malaysia, Thailand dan Singapura. Hanya berbekal peta dan bekal seadanya adalah ciri khas kami. Menempuh berpuluh-puluh kilo dengan berbagai medan, mencari tumpangan tidur, bekal habis di tengah jalan akan menjadi sesuatu yang mengena bagi pecinta travelling macam backpacker sepertiku. Eits..Tunggu dulu, ada yang berbeda dari wisataku kali ini. Aku bukan lagi bersama para komunitas backpacker yang menjelajah alam dengan bebas. Kali ini benar-benar beda. Aku bersama rombongan ibu-ibu kampung, ajakan itu tiba-tiba menarik di telingaku. Wisata dakwah.

Menelusuri sejarah keberadaan Walisongo beserta peninggalan-peninggalannya, tak lupa mengunjungi makam sunan turut mendoakan dengan khidmat. Sungguh mereka sangat khusyu sekali, doa yang tulus bahkan air mata pun terjatuh tanpa disadari. Aku malu. Bertahun-tahun menghabiskan waktu keliling kota sampai ke penjuru negara tetapi mengenali sunan sendiri tidak terbesit dalam benakku. Mungkin tanpa adanya walisongo, Islam tidak sepesat dan berkembang seperti saat ini di pulau jawa. Begitu hebat mereka datang menyebarluaskan Islam dengan caranya yang cerdas, berbagai jurus, trik dilakukan agar Islam dapat diterima di masyarakat sekitar.

Dari sekian perjalanan berpuluh-puluh kilo dengan beragam cerita. Tempat ini benar-benar berbeda dari kunjungan sebelumnya. Aku menemukan masjid dengan bangunan unik. Perpaduan masjid dengan candi, percampuran antara budaya Islam dan Hindu yang terkenal dengan namanya menara Kudus. Aku berada di kota Kudus sekarang yang juga dikenal sebagai kota santri. Entah kenapa bangunan ini begitu memikat hatiku. Masjid menara Kudus ini memiliki lima buah pintu sebelah kanan dan lima buah pintu sebelah kiri. Sebagai penggagah sebuah bangunan terdapat delapan tiang yang berasal dari kayu jati, masuk ke dalam kita akan menemukan kolam. Konon, jaman dulu kolam ini digunakan sebagai tempat wudlu. Sampai sekarang masyarakat sekitar menyebutnya padasan.

Terpana, akupun mengitari seluruh kompleks masjid ini tanpa terasa matahari perlahan mulai meredupkan cahayanya. Memang, kalau sudah asyik dengan aktivitas mau waktu selama apapun akan terasa sangat singkat. Bahkan aku sampai tak sadar kalau terpecah dari rombongan. Aku tengok ponselku, aah sial! baterainya habis. Aku kesulitan mencari keberadaan mereka, barang-barangku hampir semua ada di bus itu. Hanya ada kamera, ponsel dan dompet. Aku tak punya kerabat di tempat ini, lalu harus berteduh di mana?! Sejenak kuputuskan mampir di warung kopi setelah shalat maghrib. Kandungan kafein di dalam kopi menimbulkan ketenangan tersendiri. Aku seperti orang asing di warung ini, tidak seperti di kotaku, ngopi di warung untuk wanita sepertiku sudah biasa. Aah, cuek saja lah selagi mereka tidak mengganggu.

Hingga pada akhirnya aku dipertemukan dengan seorang pemuda berhati malaikat. Namanya Rasyid, dia penjual tasbih di kompleks menara Kudus. Dari penawaran tasbihnya membuka pembicaraan kami. Secara penampilan dia sederhana dan santun. Di satu sisi aku melihat dia berbeda dari penjual tasbih pada umumnya, pengetahuannya luas. Dia pintar berbicara sehingga membuat obrolan kami menjadi renyah sampai waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB. Dia menawarkanku untuk bermalam di rumahnya. “malam-malam rawan perempuan tidur di masjid mbak, tidurlah sementara di rumahku. Jangan khawatir ada adikku perempuan dan Ibuku” tanpa basa-basi aku mengiyakan tawarannya.

Rumahnya sederhana, tidak seperti rumah-rumah biasa. Rumah ini berbentuk joglo seperti khas rumah jaman dulu. Masuk ke dalam rumah terasa sejuk, atap gentengnya yang tinggi dan beberapa ventilasi yang membuat udara langsung masuk ke dalam. Disuguhi teh hangat dan sepiring ubi goreng. Rumah yang sederhana membawa kehangatan sendiri. mungkin Tuhan menakdirkanku berada di sini. Mengenal lebih dekat budaya kota ini. Sungguh, ini ide bagus untuk dibuat buku. Penasaran, akupun ingin bertanya lebih pada adik Rasyid tentang menara kudus dan sekitarnya.

“Sudah larut malam mbak, besok kalau mbak tidak keberatan kita jalan-jalan saja, banyak cerita yang menarik untuk mbak simak di sini” ucap gadis manis itu sambil menyodorkan selimutnya padaku. “waaah terimakasih dek, maaf ya kalau kedatanganku ini merepotkan, lusa kalau bekalku cukup. Aku akan segera kembali ke Surabaya”. Malam itu meski tidak ngantuk, aku berusaha memenjamkan mata. Semoga esok akan ada kisah menarik dari hari ini.

Matahari telah menampakkan sinarnya dimuka bumi, udara yang segar diiringi lantunan ayat-ayat Al-Quran terdengar dari masjid akan semakin membuat syahdu pagi ini. Kebetulan rumah Rasyid tidak jauh dari masjid menara Kudus. Hari ini tepat sekali hari jumat. Banyak peziarah datang. Agenda hari ini adalah jalan-jalan. Rasyid dan Adik yang akan menemani. Sebelum jalan-jalan ibu Rasyid sudah menyiapkan sarapan yang istimewa. “Masakannya enak sekali Bu” pujiku pada Ibu Rasyid. “Ini namanya lentog nak, di kota lain ndak ada. Cuma ada di Kudus, kalau kurang ambil sendiri ya di dapur” sahut Ibu sambil menyantap makanan. Kami makan bersama-sama. Sekali lagi aku menemukan potret cantik. Keluarga sederhana, rumah sederhana dengan kebersamaan yang terasa damai, sejuk dipandang. Terima kasih Tuhan, Kau sesatkan aku di sini.

Pagi itu aku jalan-jalan menyusuri kompleks menara Kudus bersama Rasyid dan Adiknya sambil membawa dagangan tasbih. “Mbak mau jalan-jalan ke mana?” tanya Rasyid. “Aku ingin kembali ke masjid itu lagi, masih banyak yang belum ku ketahui di sana” jawabku sambil mengutek-ngutek kamera. Tiba di depan gapura, mataku terbelanga melihat ketinggiannya. “Menara Kudus ini memiliki ketinggian sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10x10m. Di sekeliling bangunan dihias dengan piring-piring bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah. Dua puluh buah di antaranya berwarna biru berlukiskan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma.” Rasyid menjelaskannya begitu detail, seakan dia mengerti rasa keingintahuanku. “Masjid ini juga dibuat merujuk pada unsur arsitektur Jawa-Hindu, karena jaman dahulu kala kota Kudus ini mayoritas beragama Hindu”. Ucap Rasyid.

Sudah hampir setengah hari Rasyid menemaniku jalan-jalan dengan berbagai penjelasannya. Ia begitu cerdas. Sungguh, aku tidak menyangka, orang seperti Rasyid yang notabene sebagai penjual tasbih begitu cerdas menceritakan secara detail. Suatu kali aku sempat bertanya “Orang sepintar kamu, kenapa tidak melanjutkan sekolah? Mengapa kamu lebih memilih berjualan tasbih?”. Terdiam sejenak “Siapa bilang aku ndak pingin sekolah. Justeru aku berjualan tasbih ini demi sekolahku, aku mengumpulkan uang agar tahun depan bisa melanjutkan kuliah. Kalau ini sudah cukup, aku tidak ingin membebani orangtua”. “Kenapa harus jualan tasbih? Kamu bisa berjualan yang untungnya lebih banyak dibandingkan tasbih, bukan?”aku menimpali. “Untung banyak atau sedikit yang penting berkah mbak.. Aku ingin keberkahannya. Berjualan tasbih secara tidak langsung mengajak orang untuk mengingat Tuhan-Nya. Di samping itu aku juga mengajar di pondok pesantren dekat rumah kok mbak, jadi lumayan lah untuk isi tabungan”. Aku terdiam. Dalam hati, ya Allah terimakasih untuk kedua kali aku menemukan potret cantik. Ketulusan dalam bekerja.

Well, its time to kuliner. Kini waktunya makan siang. aku diajak adik Rasyid ke warung soto yang berbeda dari biasanya. Soto Kudus. Yaa penyajiannya unik sekali, tidak seperti soto di kotaku yang porsinya banyak. Mangkoknya kecil. Aku takjub mendengar penjelasan dari adik Rasyid “Ini namanya soto Kudus mbak, jangan kaget yaa di sini ndak ada daging sapi. Semua daging kerbau” jelasnya. “Kerbau? Apa daging sapi di sini langka?”sesekali pandanganku melihat gerobak soto. “Iya. Budaya sunan Kudus sampai sekarang tidak hilang Mbak. Karena sistem penyebaran Islam mencampurkan budaya Jawa-Hindu yang mensucikan sapi. Jadi kami menghormati umat Hindu tersebut. Waktu lebaran Qurban juga kita menyembelih kerbau bukan sapi, tapi jangan salah mbak rasanya tak kalah enak dari sapi, monggo mbak” sambil menyodorkan semangkok soto dan segelas es teh. Kami menyantap soto kerbau bersama. Benar kata gadis manis ini. Rasanya tak kalah gurih dengan daging sapi.

Hari yang melelahkan setelah seharian berjalan mengitari menara Kudus beserta kulinernya. Aku terduduk di teras depan rumah Rasyid. Termenung, sudah tiga hari aku terdampar di sini. Aku harus memikirkan bagaimana caranya segera kembali pulang. Bekalku sudah habis. “Assalamualaikum”sapa adik Rasyid memecah lamunanku. “Waalaikumussalam, eh, habis darimana dik?” tanyaku. “habis dari pesantren Mbak, singgah sebentar mengembalikan buku” menatapku sembari tersenyum renyah. Anggun sekali, aku menemukan kesejukan setiap kali memandangnya. Oh iya, Aku merasakan atmosfer yang berbeda ketika menjejaki kota ini. Hampir semua mayoritas wanita baik muda maupun tua memakai jilbab. Sangat beda sekali dengan kotaku, berbeda denganku pula. Rasanya paling asing tidak memakai jilbab sendiri. aku malu. Apalagi bersanding dengan Adik Rasyid.

Hari kelimaku di kota Kudus. Aku memutuskan ikut Rasyid dan Adiknya berjualan. Tasbih dan asesoris keliling kompleks menara. Begini rasanya mencari uang. Panas-panas menyusuri kompleks menara. Ternyata ada untungnya juga, aku jadi bisa lebih mengamati masyarakat sekitar dengan berbagai ragam. Mereka sangat ramah, santun pula. Mungkin ini yang membuat kota ini dijuluki sebagai kota santri Selain banyak pesantren. masyarakatnya yang agamis dan santun. Aku bahagia ada di antara mereka. Di antara keluarga Rasyid. Aku menemukan setitik cahaya bersama mereka.

K U D U S, aku mengeja satu persatu huruf. “Apa artinya Kudus Rasyid?” tiba-tiba aku lontarkan pertanyaan padanya yang sedang asyik menghitung tasbih yang tersisa. “Oh itu artinya suci. Dahulu, ketika menara ini dibangun datanglah seseorang dari Palestina yang memberi nama Al Quds. Kota Quds namun seiringnya waktu, masyarakat kesulitan mengeja Quds jadilah Kudus sampai saat ini” jelasnya. Aku manggut-manggut.

Hari terakhir di Kota Quds. aku mendapat kejutan manis dari Adik Rasyid. “Mbak, untuk kenang-kenangan, semoga mbak suka” menyodorkan kotak yang dibungkus kertas kado. Aku membukanya dengan riang. Kaget campur haru. Adik Rasyid memberikan dua buah jilbab cantik berwarna putih dan ungu. “Mbak pasti terlihat sangat cantik dengan jilbab ini. Semoga Mbak suka ya”. Mataku berkaca-kaca. “Terima kasih dik, aku suka sekali sama jilbabnya. Manis, kayak yang ngasih, makasih ya dik”. Lagi-lagi senyumnya membuatku tenang. Semenjak tinggal bersama keluarga Rasyid, berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Ada harapan terdalam aku ingin berubah penampilan. Sesekali aku juga ingin terlihat manis seperti adik Rasyid.

Malam terakhir bersama keluarga Rasyid. Adiknya, Rasyid dan Ibu mengajakku ke pasar. Ini tradisi kota Kudus untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Orang mengenalnya dengan dhandangan. Ini semacam pasar malam yang menjual aneka macam jajanan, baju, mainan anak-anak. Ramai sekali. Malam terakhirku yang meriah.

Hari ini akan kuukir kenangan yang tak akan pernah terlupakan. Aku kembali ke kotaku dengan penampilan berbeda. Jilbab dari adik Rasyid berwarna ungu, kupadukan dengan rok putih bermotif bunga. Mereka takzim melihatku terkecuali Rasyid yang hanya menyunggingkan senyuman. “Tuh kan, mbak cantik sekali pakai jilbabnya”sapa Adik Rasyid. Tak kalah Ibunya pun menyambut perubahanku “Alhamdulilah, kamu cantik sekali nak. Semoga istiqomah ya. Jangan lupa ya kalau longgar main-main ke sini lagi, maaf ya Ibu ndak bisa ngasih apa-apa”ucapnya tulus.

Detik itu juga aku naik bus, bersiap meninggalkan kota Kudus, kota Quds. “Hati-hati di jalan. Semoga istiqomah”ucap Rasyid dengan pesona wajah teduhnya “Terima kasih Rasyid, aku bahagia bertemu kalian, semoga Allah masih mempertemukan kita.” Bus berangkat. Kulambaikan tanganku pada mereka. Aku bernafas panjang. Terima Kasih Allah. Syukurku pada-Mu. Kau telah menyesatkanku di sini. Berpuluh-puluh kota ku jelajahi tak sedikitpun mengubahku, semacam menemukan setitik cahaya bersama keluarga Rasyid dan kota Quds.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Agustha Ningrum
Lahir di Kudus, Agustus 1993. Aktif sebagai anggota Forum Lingkar Pena Surabaya. Sedang menyelesaikan studinya di Universitas Negeri Surabaya Tata Boga. Beberapa karyanya yang dimuat majalah kampus, tabloid Lezat, antologi puisi sanggar alang-alang, buku kumcer Jomblo Sampai Halal, kumcer Hidup Ini Indah, Beibh.

Lihat Juga

Cahaya Islam (ilustrasi) - (Foto: baltyra.com)

Cahaya Akhirat yang Hilang