Home / Berita / Perjalanan / Catatan dari Afrika, Jejak Awal Sebuah Perjalanan (Bagian ke-8)

Catatan dari Afrika, Jejak Awal Sebuah Perjalanan (Bagian ke-8)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (scenery-wallpapers.com)
Ilustrasi. (scenery-wallpapers.com)

Purnama di Somalia

dakwatuna.com Ini bukan judul film, apalagi judul sebuah lagu. Ini adalah ungkapan nurani anak manusia yang kebetulan langkahnya telah sampai ke sebuah negeri yang jauh berada, yakni Somalia.

Somalia bukan tanpa masa depan, apalagi tanpa adanya sinar harapan di mata orang-orangnya. Laksana malam hari ini, ketika tulisan dibuat di tengah pergantian hari, purnama seakan demikian perkasa menerangi kegelapan langit yang berselimut kepekatan malam.

Di tengah kesibukan mengelola qurban sebagai agenda Tim Qurban PKPU untuk Afrika 2014, kami berkesempatan melihat-lihat Kota Mogadishu dari dekat. Karena mobil kami kali ini pun dikawal sejumlah tim keamanan, walau melewati titik-titik keramaian kota-pun mobil kami tetap melaju tenang.

Di antara perjalanan melihat kota, kami sampai ke mesjid terbesar di Mogadishu, semacam mesjid raya bila di Indonesia. Di antara bangunan-bangunan yang kini tak jelas lagi bentuknya karena hancur berantakan dan menjadi saksi sejarah kehebatan perang saudara dan konflik yang terjadi di Kota Mogadishu, mesjid ini tampak berdiri utuh dengan tetap menunjukan kemegahan dan kewibawaannya sebagai rumah Allah. Sayang memang, di beberapa bagian tampak masih sedang direnovasi termasuk bagian dalamnya, sehingga praktis kami tak bisa melihat lebih jauh keindahan bangunan mesjid ini karena pintu utamanya terkunci rapat. Jadilah kami hanya melihat sekitar mesjid, termasuk shalat jamaah dzuhur-pun di teras mesjid.

Jangan tanya tempat wudlu-nya dimana pada kami? Tapi tanyalah bagaimana berwudlu dengan 1 botol air mineral 400 mililiter, itupun harus dibagi dengan 2 teman satu rombongan yang ada di mobil. Somalia kini memang masih masalah dengan air, selain karena tidak ada infrastruktur memadai akan penyediaan sarana air bersih, faktor yang serius lainnya adalah sulitnya mendapatkan barang-barang seperti untuk kebutuhan non primer. Secara umum, kebutuhan utama untuk makan, minum dan rumah masih sangat diperlukan.

Dan kebutuhan ini semua sejatinya bukan lagi pilihan tapi seharusnya menjadi kewajiban pemerintah untuk menyediakan. Namun bagaimanapun, kondisi saat ini memang belum ideal, masih banyak kebutuhan pemerintah untuk hal-hal utama lainnya, begitu pula sepertinya kaum muslimin di Somalia. Mereka belum berkemampuan melengkapi Mesjid utama kotanya dengan tempat wudlu dan sekaligus aliran airnya. Jadilah, kemegahan mesjid ini berhias debu di mana-mana. Sayang sekali ya… Bagaimana mau ngepel lantai mesjid, lha wong di sini bahkan air selokan yang kecoklatan bercampur lumpur saja pada di minum orang-orang Somalia. Tak peduli laki-laki, perempuan maupun anak-anak. Kami lihat sendiri ketika proses pemotongan hewan qurban berlangsung, anak-anak serta orang dewasa di sekitar lokasi pemotongan dengan tanpa beban meminum air selokan tadi. Ada yang menggunakan tangan langsung dengan cara menciduknya (jadi ingat cerita dalam Al-Quran tentang jalut dan thalut, terutama tentang ujian tentara yang melewati sungai) dan ada pula yang dengan menggunakan berbagai alat atau wadah seperti botol bekas air mineral, atau semacam dirigen atau ember. Hiii…..seram ya.

Kembali ke soal mesjid tadi, di balik suasana mesjid megah berselimut debu, ternyata di terasnya ada anak muda sedang tekun menghapalkan Al-Quran. Kebetulan selain bisa bahasa arab, anak ini juga cukup lancar berbahasa inggris (umumnya, penduduk Somalia mayoritas hanya berbahasa Arab, berbeda dengan Kenya yang sebagian lancar berbahasa Inggris di samping berbahasa swahili). Anak muda ini ketika kami tanya mengaku  bernama Said Muhammad. Usianya ia mengaku 19 tahun. Dan ternyata anak-anak sebaya Said, atau bahkan lebih kecil lagi demikian banyak tersebar di seluruh Somalia.

Menghapal Al-Quran di Somalia bukan menjadi beban. Anak-anak, baik di kamp pengungsian maupun di kota atau desa telah menjadi kebiasaan membawa-bawa Al-Quran kemana-mana sambil Ia hapal. Tak peduli ia ada di mana, di dalam tenda-tenda alakadarnya, di sela-sela pohon-pohon berduri khas gurun atau di rumah-rumah yang sebenarnya belum layak disebut rumah karena hanya beratap seng, berlantai tanah tanpa dapur dan kamar mandi.

Di sini, air bersih demikian berharga, juga makanan. Namun di balik itu semua, ternyata solidaritas orang-orang somalia satu sama lain terlihat sangat kuat, baik dalam konteks positif maupun dari sisi negatif. Yang positif misalnya, karena mereka tak punya ruangan yang cukup untuk dapur, maka di antara sejumlah rumah, terdapat semacam dapur umum di bawah pohon yang secara sederhana dibuat di atas tumpukan batu dan digunakan bersama. Yang negatifnya, tentu saja sejarah konflik terbuka antar etnik dan mahzab di Somalia telah terbukti memporakporandakan kota bahkan menggelincirkan Somalia menjadi negara seakan tak ada pemerintahan.

Somalia dalam sejumlah literatur dan bahan bacaan yang tersedia disebut “negara gagal”, sebuah sebutan yang tidak mengenakkan bagi sebuah negara. Namun apa mau dikata, indeks kehidupan kebutuhan dasar warga negara membuktikan bahwa Somalia bersama-sama sejumlah negara di Afrika terbukti tak mampu menyediakan dan memenuhi kebutuhan warga negaranya, termasuk untuk menegakkan kedaulatan dan kewibawaan negara. Makanya tak heran, di sini demikian banyak tentara dari PBB dan Uni Afrika yang hadir dan berlalu lalang di Kota Mogadishu dan sekitarnya.

Laksana benderang purnama,
Somalia sesungguhnya menyimpan cahaya masa depan yang gemilang.
Hanya dengan kedamaian hidup yang mereka pilih negeri ini kan bangkit melawan kemiskinan yang membelenggunya seakan tanpa harapan.

Laksana benderang purnama,
Somalia sesungguhnya menyisakan pijar kecemerlangan masa depan. Sebuah harapan akan bunga-bunga indahnya Islam yang harumnya akan memenuhi setiap jengkal Afrika.

Laksana purnama, di bumi Somalia dan Afrika, tak hanya safari-nya dan binatang-binatang besarnya yang dikenal dunia, tapi juga para ulama dan intelektual yang cerdas dan rendah hati yang akan mewarnai Afrika dan dunia. Insya Allah.

Wallahu’alam bishowwab.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nana Sudiana
Program Pascasarjana Islamic Business and Finance di Universitas Paramadina, Jakarta. Partnership Director PKPU sejak 2001-sekarang.

Lihat Juga

rohingya-1b

Let’s Help Rohingnya: Wujudkan Kepedulian Demi Kemanusiaan