Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Aktivis Perlu Waspadai Pulang Malam!

Aktivis Perlu Waspadai Pulang Malam!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Dok Pribadi)
Ilustrasi (Dok Pribadi)

dakwatuna.com Dunia mahasiswa Yogyakarta sedang dikepung suasana mencekam. Pasalnya beberapa waktu belakangan muncul isu sekelompok orang yang disinyalir merupakan anggota dari geng motor yang melakukan aksi penjambretan disertai pembacokan di sekitar kampus UGM. Berbagai himbauan untuk berlaku hati-hati dan menghindari aktivitas pulang malam kian marak di jejaring sosial. Pemberitaan bermunculan seiring belum adanya info yang pasti mengenai status keamanan di daerah sekitar kampus UGM. Berbagai lokasi seperti dekat kampus Sekolah Vokasi UGM, sekitar Fakultas Teknik UGM, hingga jalan Monjali diberitakan telah menjadi lokasi penjambretan. Hingga saat ini diberitakan bahwa sebagian besar korban merupakan mahasiswa, dengan sasaran utama yaitu mahasiswa-mahasiswa dengan penampilan borjuis dan berada pada perjalanan malam sendirian. Berbagai gadget mulai dari handphone hingga tab menjadi sasaran perampokan anggota geng motor ini.

Ada berbagai isu lain yang muncul menanggapi adanya periswa-peristiwa semacam ini. Mulai dari adanya keresahan yang muncul dari warga Yogyakarta atas kelakuan para pendatang yang terkadang dianggap kurang bersahabat, hingga isu mendekatnya musim Pemilwa (Pemilihan Wakil Mahasiswa) yang gencar dan melibatkan aktivitas mahasiswa hingga sering rapat dan pulang malam. Semua penyebab ini barulah isu yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Pada akhirnya yang kini harus kita lakukan adalah bebenah diri. Mencegah adanya bahaya datang ke kita, apalagi untuk para aktivis akhwat yang “butuh” pulang malam akibat syura’ organisasi maupun urusan akademik, penting sekali untuk berjaga-jaga atau sekadar mawas diri.

Selintas di pikiran kita muncul tentang adanya agenda “jam malam” di kalangan aktivis dakwah. Bukan hanya menghindari aktivitas komunikasi di malam hari dengan lawan jenis untuk mencegah adanya fitnah dan pikiran-pikiran tentang lawan jenis yang tidak halal, akan tetapi juga menghindari aktivitas malam hari untuk menjaga keamanan diri kita. Seperti yang sudah Allah swt pesankan kepada kita dalam QS. Al-Falaq ayat 1-3 sebagai berikut; “Katakanlah: “aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluknya, dan dari kejahatan malam apabila gelap gulita….

Dari ayat itu kita bisa mengambil pesan bahwasannya waktu malam hari memang waktu yang meminta kewaspadaan kita akan adanya kejahatan yang mungkin saja dapat menghampiri diri kita. Tak heran jika kita umat muslim dianjurkan untuk berada di rumah dan memperbanyak dzikir di malam hari. Tidak hanya dari sudut pandang agama, budaya pun demikian. Terutama budaya masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan adab di masyarakat. Kebiasaan pulang malam bagi anak perempuan dipandang sebagai hal yang cenderung negatif. Berdasarkan hal ini kita dapat menyimpulkan sendiri bagaimana kiranya kita sebagai akhwat muslimah dengan atribut jilbab yang berkibar-kibar justru sering pulang malam dan cenderung kurang memperhatikan hal tersebut. Semoga kita terhindar dari fitnah.

Agaknya kini tradisi “jam malam” memang sudah mulai bergeser dengan tuntutan profesionalitas di dalam urusan akademik maupun organisasi. Sibuknya aktivitas dakwah di tengah tekanan SKS yang kian dipadatkan semoga tak melalaikan kita dari adanya nasihat-nasihat Rasulullah saw tentang bagaimana menjaga keamanan diri kita. Salah satu nasihat tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Janganlah seorang wanita safar melainkan disertai oleh mahramnya”

Betapa Islam begitu memuliakan wanita dengan penjagaannya yang begitu mengesankan. Mulai dari cara berpakaian di luar rumah, bagaimana menjaga penampilan tetap syar’i agar tidak menimbulkan fitnah, hingga larangan untuk bepergian tanpa ditemani mahram. Betapa Rasulullah menyampaikan syariat Islam adalah untuk kebaikan diri kita sendiri sekalipun mungkin belum dapat kita pahami. Hingga pun kini kita belum memahami, maka setidaknya kita tak perlu banyak bertanya dan cukup kita laksanakan saja apa-apa yang memang sudah Rasulullah contohkan dan sampaikan.

Dalam agenda dakwah Islam pun hendaknya kita memperhatikan hal-hal demikian. Sesama aktivis dakwah hendaknya dapat saling menjaga dan mengingatkan. Termasuk perkara menegakkan syariat. Keberadaan para aktivis dakwah di organisasi umum dengan nuansa yang belum Islami memang menjadi tantangan tersendiri, akan tetapi kita harus tetap mengingat bahwa keberadaan kita di sana adalah untuk membawa warna-warna kebaikan Islam dengan tetap memegang prinsip-prinsip keberkahan, menegakkan syari’at Islam. Karena bagaimana pun juga apa-apa yang kita usahakan harus melalui serangkaian proses yang menjunjung tinggi keberkahan, bukan sekadar kerja-kerja melelahkan tanpa peningkatan kapasitas ketakwaan kita pada Allah swt.

Semoga para pejuang agama Allah senantiasa dimudahkan melakukan kebaikan dan dihindarkan dari berbagai macam bahaya yang menghantui.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi di Universitas Negeri Yogyakarta yang juga mengemban amanah di badan eksekutif mahasiswa.

Lihat Juga

Persaudaraan dan Saling Mencintai antar Aktivis Dakwah Kampus Lintas Gerakan, Ibrah dari Ta’akhi Muhajirin dan Anshar