Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Untuk Apa Aku Diciptakan?

Untuk Apa Aku Diciptakan?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Satu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama. Pertanyaan yang akan membuat manusia tersadar dari berbagai perbuatan-perbuatan buruk yang selama ini dilakukan secara berkelanjutan. Dengan menjawab pertanyaan tersebut kita akan mengetahui tujuan diciptakannya manusia, tujuan diberikannya nafas dan kehidupan untuk manusia.

Manusia diciptakan untuk beberapa urusan yang maha penting karena itulah Sang Pencipta menciptakan manusia, bumi, langit dan seisinya serta mengutus beberapa orang rasul untuk menyeru setiap umat agar melaksanakan tujuan tersebut.

Untuk apakah aku diciptakan? Manusia diciptakan salah satunya dengan tujuan agar manusia beribadah kepada Allah tanpa sedikit pun menyekutukan-Nya dengan sesuatu hal yang lain.

Tertuang dengan jelas di dalam Al-Quran surah Adz Dzariyat ayat 56.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”

Supaya manusia beribadah, salah satu tujuan diciptakannya manusia. Beribadah tidak hanya sebatas melaksanakan rukun Islam dan rukun Iman masih banyak lagi bentuk-bentuk ibadah yang selama ini mungkin kita tidak menyadarinya.

Shalat, mengaji, berzakat, naik haji merupakan beberapa contoh ibadah yang sudah jelas kita ketahui. Selain itu, melakukan hal-hal kebaikan, membaca buku, menolong sesama, menulis, hormat-menghormati dan masih banyak lagi bentuk ibadah lainnya. Bahkan, ketika seseorang bekerja atau menuntut ilmu (sekolah atau kuliah) pun tetap dikategorikan dalam hal beribadah jika diniatkan semua itu untuk beribadah.

Semua kebaikan yang dilakukan oleh manusia jika dia meniatkan sebagai ibadah dalam rangka mendekatkan diri dan mematuhi segala perintah-Nya maka hal yang dia lakukan tersebut akan bernilai ibadah. Ibadah yang akan membuat hati manusia lebih tenang sebab dari ibadahnya itu sebagai bentuk ingatnya manusia pada Sang Khalik.

Ingat kepada Sang Khalik tidak hanya pada saat shalat, saat beraktivitas apapun kita dianjurkan agar tetap ingat kepada-Nya. Namun, terkadang diri ini lebih banyak lupa daripada ingat kepada Zat Yang Maha Agung.

Minimal jika kita tidak mampu mengingat-Nya dalam segala aktivitas yang diperbuat. Ingatlah Dia tatkala adzan berkumandang agar segera melepaskan segala pekerjaan-pekerjaan yang beraromakan keduniaan menuju kehidupan akhirat dengan cara beribadah lewat shalat fardhu.

Jika kita menyadari bahwa salah satu tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah maka tak ada rasa untuk malas beribadah ataupun berani meninggalkan ibadah-ibadah yang telah disyariatkan baik di Al-Quran ataupun as-sunnah yang menjadi panutan setiap insan.

Manusia akan menyadari bahwa ada Zat yang harus disembah dengan berbagai ibadah yang dilakukannya. Jika dia tak mau beribadah. Apakah dia masih meragukan Zat tersebut? Ataukah selama ini pintu hatinya tertutup rapat dari mengenal dan mengakui akan keberadaan-Nya?

Beribadah bisa dilakukan di manapun, kapanpun dan dalam bentuk apapun. Tidak hanya terpaku pada satu ibadah.

Justru Islam hadir dengan berbagai ibadah yang memberikan kemudahan untuk umat Islam dalam mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Bukan menjadi beban yang harus dikerjakan secara terpaksa.

Ibadah sendiri merupakan kebutuhan bagi manusia. Layaknya makan dan minum yang menjadi kebutuhan pokok manusia. Manusia akan merasa kekurangan ataupun ada yang hilang jika tidak makan atau minum selama satu hari.

Begitu pula dengan ibadah, jika seseorang tidak beribadah dalam sehari terutama ibadah wajib yakni shalat fardhu maka dirinya akan merasa kekurangan atau gelisah sebab kebutuhannya belum tercapai.

Jika dengan makanan kita memenuhi kebutuhan fisik maka dengan ibadah kita akan memenuhi kebutuhan rohani. Tidak hanya fisik yang memerlukan makanan tetapi rohani pun memerlukan asupan agar menjadi tenang dan tenteram seperti fisik yang telah diberikan makan dan minum sehingga menjadi tenang dan sehat.

Untuk apa aku diciptakan? Satu kalimat itulah yang seharusnya diulang-ulang bagi diri manusia yang hingga saat ini masih berani berbuat keburukan pada dirinya ataupun orang lain di muka bumi. Jika diri ini masih berani melanggar perintah-Nya dan mengerjakan larangan-Nya maka diri ini belum mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Apakah manusia diciptakan di dunia ini untuk melanggar perintah dan menjalankan larangan-Nya?

Tatkala diri ini tersadar dengan kesalahan-kesalahan yang telah lama diperbuat dan keburukan-keburukan yang belum terhapuskan. Maka, perlahan-lahan diri ini akan menjauhi hal-hal yang salah dan buruk tersebut. Menuju pada hal-hal yang baik dan bermanfaat yang akan berbuah kebaikan dan pahala bagi diri sendiri maupun orang lain.

Lewat ibadah kita menjawab pertanyaan yang selama ini belum terpecahkan. Lewat ibadah pula kita tersadarkan bahwa manusia diciptakan untuk menyembah Zat Yang Maha Agung yang akan bermuara pada kesadaran diri bahwa manusia itu kecil, hina, tak punya apa-apa, dzalim ketika berada di hadapan-Nya.

Azzamkanlah dengan kuat di dalam diri kita. Aku diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah yang akan menuntun manusia kepada cahaya Ilahi yang selama ini sangat dinanti-nanti. Cahaya yang akan mengantarkan setiap makhluk ke suatu tempat yang indah dan tak pernah terbayangkan sedikitpun saat berada di dunia. Sebab, tempat itu tak ada yang pernah melihat, mendengar, mencium ataupun merasakannya.

Tempat tersebut telah disiapkan bagi orang-orang yang beriman dan selalu melaksanakan amal ibadah serta kebaikan. Tempat bagi orang-orang yang mampu menjawab satu pertanyaan inti ketika berada di dunia yakni, untuk apakah aku diciptakan?

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aulia Rahim
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan. Disela-sela menuntut ilmu sebagai mahasiswa diberikan amanah oleh dekanat menjadi reporter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.

Lihat Juga

Renungkan dan Syukurilah Kasih Sayang-Nya…