Home / Berita / Perjalanan / Catatan dari Afrika, Jejak Awal Sebuah Perjalanan (Bagian ke-7)

Catatan dari Afrika, Jejak Awal Sebuah Perjalanan (Bagian ke-7)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Penyerahan daging kurban kepada warga Somalia.  (anisa/pkpu)
Penyerahan daging kurban kepada warga Somalia. (anisa/pkpu)

Ada Cinta di Somalia

dakwatuna.com Memandang Somalia, tak bisa hanya dari satu sisi saja. Ibarat mata uang, akan sempurna bila kita melihatnya pada dua sisi sekaligus. Satu sisi Somalia adalah negara dengan sejuta nestapa. Begitu kita sampai dan melihatnya dari dekat, nurani kita akan langsung terketuk dan pastilah kedukaan akan mengiringi sorot mata kita. Menyedihkan, begitu pasti kata hati kita akan berkata.

Sisi lainnya Somalia adalah negeri masa depan Umat Islam di Afrika.  Di sini sekarang lahir calon-calon hafidz Al-Quran dan calon-calon ulama yang akan menyuburkan dan mengharumkan Afrika dengan kebaikan dan kecemerlangan Islam. Dengan semangat yang kuat, yang tertanam di anak-anak muda Somalia untuk belajar Islam dengan baik, Insya Allah bukan tidak mungkin masa depan Islam di Afrika akan lebih semarak.

PKPU sebagai Lembaga Kemanusiaan tak hanya diam ketika melihat kondisi Somalia. Sejumlah upaya terus dilakukan sebagai bukti nyata sebuah persaudaraan dalam balutan kepedulian yang nyata. Momen qurban yang istimewa bagi Umat Islam seluruh dunia, digunakan PKPU sebagai kesempatan emas untuk membuktikan cinta dari muslim Indonesia untuk Somalia.

Seratus ekor sapi yang disiapkan PKPU untuk warga Somalia sesungguhnya tak berarti apa-apa bila didasarkan atas nama persaudaraan dan cinta. Seratus ekor sapi dari muslim Indonesia untuk warga Somalia sesungguhnya bukti bahwa kesedihan, rasa duka dan nestapa dapat dimuarakan dengan tindakan nyata dalam bingkai kepedulian untuk sesama.

Sebagai duta kemanusiaan dari Indonesia, yang bertindak atas nama bangsa, negara dan kaum muslim Indonesia, segala kesulitan teknis di lapangan, keterbatasan sarana aktivitas serta kelelahan selama proses pemotongan dan distribusi hewan qurban seakan sirna tak berbekas di antara Tim Qurban PKPU untuk Afrika.

Bagaimana tidak disebut melelahkan bila sejak malam sebelumnya kami hanya beristirahat sekitar dua jam sebelum pagi-pagi buta pergi dari Nairobi menuju Mogadishu. Begitu menginjakan kaki seusai turun dari pesawat, panas udara Mogadishu yang berdebu langsung menyergap langkah kaki kami.

Penyesuaian kondisi segera harus kami lakukan seusai dari Nairobi yang sebelumnya hijau, tenang serta berudara sejuk ke Mogadishu yang panas, berdebu dan penuh ketegangan. Di Kota ini, infrastruktur terlihat hancur di mana-mana, debu bercampur air genangan di jalan seakan pemandangan biasa. Belum lagi sampah berserakan seakan menambah suasana panas semakin semarak. Di luar itu tampak orang-orang berseliweran dengan menenteng senjata laras panjang, baik menggunakan pakaian resmi atau sekadar bersarung dan bersandal jepit biasa.

“Ini Somalia Bung”, mungkin begitu orang-orang sini menunjukan kotanya pada dunia. Sebuah kota yang awalnya indah dan teratur kemudian berantakan dan hancur, dilanda senjata-senjata berat yang membabi buta dan tak peduli dengan masa depan sebuah bangsa.

Di negeri ini Tim Qurban PKPU untuk Afrika secepatnya bekerja, seusai mendarat di Bandara Adan Abdulle International Airport, Mogadishu, kami ditemani tim Lokal Somalia bergegas menuju kantor mereka untuk sekadar minum air mineral serta say hello dengan pengurus yang ada. Setelah dari kantor mereka, kami bersegera menuju ke lokasi pemotongan dan pendistribusian hewan qurban dengan terlebih dahulu mampir ke penginapan kami untuk menyimpan barang-barang yang tidak berhubungan dengan aktivitas penyelenggaraan qurban kali ini.

Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan selama dua jam lebih, melewati jalan raya yang lebih tepat disebut kubangan-kubangan yang saling terhubung, tepat pukul 10.30 kami sampai di lokasi. Daerah tempat pemotongan dan pendistribusian ini disebut daerah Gogoya yang berada di luar kota Mogadishu dan telah masuk Distrik Afgoye.

Sepanjang perjalanan, kami dikawal sejumlah pasukan keamanan dan milisi yang mengikuti sejak dari tempat kami menginap hingga di lokasi. Mereka bukan hanya menjaga keamanan selama kami di luar hotel tempat kami menginap, melainkan juga sekaligus sebagai pembuka jalan (forider) agar jalanan di depan kami mudah dilalui dan terbebas dari kemacetan yang kadang tidak jelas penyebabnya.

Sekali lagi, “Ini Somalia, Bung”, segalanya sangat mungkin terjadi, apalagi faktor keamanan di sini relatif masih rawan dan perlu ekstra hati-hati. Jangankan dengan orang asing, sesama warga Somalia sendiri bukan tidak mungkin terjadi clash dan bahkan kontak senjata.

Alhamdulillah, akhirnya kami sampai ke lokasi pemotongan dan pendistribusian. Sesaat sampai lokasi, kami tak ingin kehilangan momen, segera berkoordinasi dengan orang-orang lokal di Gogoya untuk bersiap melakukan pemotongan seratus sapi yang sudah dikumpulkan di sebuah tanah lapang. Begitu-pun dengan gantungan dari besi untuk menopang daging-daging yang telah dikuliti dan siap untuk didistribusikan.

Tepat pukul 12 siang waktu lokal Somalia aktivitas pemotongan sapi qurban PKPU untuk area Afrika di mulai. Satu demi satu sapi dibaringkan untuk dipotong dan selanjutnya akan dikuliti. Tim lokal telah demikian siapnya, sehingga prosesnya cukup cepat. Apalagi masyarakat lokal yang membantu cukup banyak. Orang-orang berdatangan sekitar daerah Gogoya dengan peralatan masing-masing, baik pria, wanita, dan bahkan anak-anak. Mereka datang dengan berbagai peralatan masing-masing, mulai dari tali untuk mengikat sapi, golok besar dan tajam untuk memotong hewan atau sekadar pisau untuk menguliti sapi.

Walau terdengar beberapa kali letusan senapan laras panjang sejenis AK 47 yang ada di sekitar tempat kami memotong hewan qurban, seluruh penduduk dan panitia lokal sama sekali tak terganggu. Padahal kami sudah deg-degan, khawatir ada apa-apa, apalagi proses yang kami lakukan dalam mengelola hewan qurban saat itu aru separuh jalan, baru sekitar 50 sapi selesai kami potong dan sebagian sudah mulai dikuliti.

Alhamdulillah, menjelang ashar, seluruh hewan qurban berupa sapi telah selesai dipotong dan siap dibagikan. Ada dua lokasi sebenarnya yang dijadikan tempat pemotongan dan distribusi. Namun karena alasan teknis dan keamanan, kami hanya berada di satu titik dengan pengamanan maksimum dan kendali yang baik dari panitia lokal. Di Lokasi kami berada, area Gogoya, kami memotong 81 sapi qurban. Sapi-sapi di sini tampak besar-besar dan sedikit agak liar. Mungkin karena secara umum, sapi-sapi ini biasa diliarkan di semak-semak sekitar pemukiman penduduk. Jarang di sini model peternakan secara khusus untuk sapi, domba maupun hewan ternak lainnya. Adapun sisanya yang 19 sapi, pemotongannya dilakukan sendiri oleh panitia lokal Somalia.

Seusai waktu ashar, atau sekitar pukul 4 sore, daging sapi qurban PKPU siap didistribusikan. Warga masyarakat Gogoya, baik laki-laki, wanita maupun anak-anak dengan tertib mengantri bagiannya masing-masing saat mereka berada di sekitar mobil colt yang membawa daging qurban untuk dibagikan.

Lagi-lagi, dengan alasan kemanan, kami tak seluruhnya mengikuti proses pendistribusian. Sisanya, panitia lokal yang membagikan daging qurban tadi. Sementara kami seusai mengambil gambar seperlunya, bergegas kembali ke tempat kami menginap tetap dengan pengawalan keamanan di depan dan di belakang mobil.

Saat menuju pulang dan melaju kencang di jalanan dengan di guncang-guncang dari satu kubangan demi kubangan besar yang disebut “jalan raya” hati kami terasa lega. Tugas berat kami di negeri yang jauh lunas tertunaikan. Tinggal menyusun laporan dan administrasi lainnya yang harus diselesaikan. Hawa panas panas menyengat dan pemandangan selama perjalanan yang cenderung membosankan dengan deretan rumah-rumah dari ranting yang diberi atas dan dinding sekadarnya menggoda mata kami untuk meneteskan air mata. “Kok bisa ya, manusia hidup dengan segala keterbatasan dan tanpa jaminan keamanan”, itu kami tanyakan di hati kecil kami ketika melihat kiri kanan deretan rumah-rumah semak berduri terihat demikan rapatnya. Tanpa sanitasi yang layak apalagi infrastruktur pemukiman memadai. Melihat itu semua, rasa dahaga dan dendang suara dalam perut yang menyanyikan suara keroncongan seolah menjadi tak penting lagi.

Inilah bumi Somalia, bumi masa depan umat Islam Afrika. Di bumi ini akhirnya kaki kami melangkah, menyampaikan salam persaudaraan dan rasa cinta dari kaum muslimin Indonesia. Sebagaimana Ibrahim ketika diuji Allah dalam momentum qurban di masa ibadah ini mulai Allah perintahkan.

Inilah bumi Somalia, dimana doa-doa begitu terasa dekat, sedekat rasa dahaga dan lapar yang demikan akrab digeluti para pengungsi dan penduduk muslim Somalia, tanpa pilihan dan tanpa batas sampai kapan? Sampai kapan ini semua akan mereka akhiri? Hanya ada satu tekad yang menggelora dalam dada mereka, menjadi berubah lebih baik dengan merangkai masa depan penuh kedamaian dan persaudaraan sesama muslim di Somalia atau akan begitu saja dilupakan dunia…….dan manusia kebanyakan.

Inilah Somalia…..air mata kami tak bisa lagi tumpah melewati kelopak mata.

Inilah Somalia….Rabbi, izinkan kami menjadi saksi bahwa kami hadir di bumi ini menyampaikan salam persahabatan, salam persaudaraan dalam balutan sesama muslim juga  sesama anak manusia.

Inilah Somalia…..di bumi-nya kami bersujud, memohon keberkahan atas negeri-negeri tempat orang beriman menghela nafas, menyambung kehidupan.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nana Sudiana
Program Pascasarjana Islamic Business and Finance di Universitas Paramadina, Jakarta. Partnership Director PKPU sejak 2001-sekarang.

Lihat Juga

Let’s Help Rohingnya: Wujudkan Kepedulian Demi Kemanusiaan