Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Kemewahan Bukan Garansi Pernikahan Langgeng

Kemewahan Bukan Garansi Pernikahan Langgeng

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Hampir dua minggu infotainment mengupas persiapan pernikahan artis ternama di negeri ini, penayangan tidak di satu stasiun televisi melainkan di beberapa TV swasta, waktu penayangan juga hampir di setiap waktu dan cara menayangkannya pun berbeda-beda mulai dari kisah sang mantan, sisi Undangan, tamu, baju pengantin, konsep yang dipakai, rumah baru, kado yang diberikan oleh sahabat maupun keluarga dan hingga nyekar. Apa yang ditayangkan semua dipenuhi kemewahan dan keglamoran. Siapapun yang menonton tentu terpana dan terpesona dengan konsep pernikahan para artis yang ditaburi bunga-bunga yang penuh dengan kesempurnaan. Dan bukan untuk kali ini saja para pesohor diliput oleh media saat akan menikah dan sudah teramat sering. Mungkin bagi Event Organizer pernikahan dengan paradigma mewah merupakan peluang bagi mereka sedangkan yang melaksana pernikahan tentu ini sangat merugikan.

Jika ditinjau dari sisi positif tentu sangat menginspirasi sebagian masyarakat yang akan mendesain pernikahan, bagi sisi media tentu memberi nilai kemanfaatan karena dibanjiri berita, tidak perlu mencari-cari berita, dan kebanjiran iklan-iklan. Tetapi ditinjau dari perspektif sisi negatif tentu sangat tidak mendidik karena mengajari masyarakat untuk melaksanakan pernikahan dengan kecemerlangan dunia. Bagi yang punya uang tentu hal seperti tidak masalah, wajar dan lumrah saja sedangkan bagi masyarakat tidak mampu ingin mengikuti pernikahan para artis tentu tidak masuk akal. Mendorong masyarakat untuk mendesain pesta bak para ratu dan raja. Meskipun pernikahan sekali seumur hidup, tidak juga dibenarkan menikah seperti itu yang seolah-olah membanggakan, seolah menceritakan bahwa mereka orang terpandang, seolah merupakan hal yang wajib dan seolah jika tidak melaksanakan pesta dengan tidak mewah akan mendapat kritikan jelek dari lingkungan.

Sangat besar pengaruhnya media atau artis yang menikah diekspose oleh media karena secara tidak langsung mendorong masyarakat untuk berpesta seperti itu jua dan tidak hanya itu bahkan masyarakat sekarang sudah terbiasa melakukan foto prewedding, menggunakan pakaian seragam dan konsep sudah liberalisasi. Jika boleh melihat masa lalu, sangat jarang masyarakat memakai konsep itu ketika pernikahan. Mungkin inilah namanya perubahan, lain dulu lain sekarang karena saat ini sudah modern sehingga menikah harus bak artis seperti yang ditonton oleh mereka.

Padahal dalam Islam pernikahan cukup disederhanakan tidak perlu berlebihan-lebihan yang penting rukun nikah terpenuhi, apalagi sampai memaksakan diri dengan menggadaikan harta, meminjam ke sana-sini termasuk pinjam dari bank demi sebuah pencitraan di tengah masyarakat. Sebab apa? Andailah di tengah masyarakat tidak melaksanakan pesta penuh euforia, bisa-bisa mendapat label, merasa tidak enak dari masyarakat ataupun dari keluarga. Inilah bentuk kesalahpahaman masyarakat yang harus diluruskan oleh manusia beriman. Diperparah lagi pernikahan di zaman sekarang membutuhkan finansial yang mapan sebab segala barang serba mahal. Bukan tidak dibenarkan melaksanakan syukuran pernikahan, sangat diperbolehkan akan tetapi lebih elok bentuk syukuran itu disederhanakan. Toh tujuan resepsi bukan untuk menunjukkan diri bahwa kita mampu melaksanakan pesta pernikahan dengan kegemerlapan, membedakan si kaya dengan si miskin, membedakan keluarga terpandang dengan keluarga biasa melainkan tujuan resepsi adalah meminta doa dari para tamu agar diberkahi menjadi keluarga sakinah mawaddah warrahmah.

Nyatanya, begitu banyak mereka-mereka yang melaksanakan pernikahan mewah dengan konsep yang sangat spektakuler tetapi apa yang terjadi? Melainkan perceraian, terjadi perselingkuhan dan siap-siap membayar utang setelah menikmati pesta pora. Bahwa kemewahan tidak menjamin pernikahan itu langgeng, bahagia dan sakinah. Sangat menyedihkan bukan! Sudah melaksanakan pernikahan dengan penuh kemewahan tetapi akhirnya menyedihkan. Ada pula di sekitar kita menikah hanya ijab qabul saja tidak dimeriahkan dengan resepsi pernikahan, tetapi sungguh pernikahan mereka penuh nuansa cinta dan romansa sakinah mawaddah warrahmah.

Apa yang membuat pernikahan penuh keberkahan karena dilatarbelakangi niat yang suci ingin menjaga hati agar tidak terkotori, menerima kekurangan masing-masing, terus menerus saling memahami dan selalu berkomunikasi atas aturan cinta-Nya tidak perlu dengan pesta mewah yang penting bagaimana memahami makna ijab qabul, bagaimana meresapi janji-janji dilontarkan pada Allah langsung dan tetap setia menjadi sepasang kekasih hingga maut memisah. Sebab Allah tidak melihat dan mengukur kebahagiaan dalam pernikahan dari pesta melainkan dari niat yang suci untuk menikah dalam rangka untuk beribadah pada-Nya.

Mungkin ini merupakan pilihan bagi yang akan menikah atau akan resepsi! Silakan memilih yang sesuai dengan kesanggupan dan selera jangan memaksa apalagi sampai membebani keluarga. Akan lebih elegan pernikahan dilaksanakan dengan konsep kesederhanaan walaupun sebenarnya mampu berpesta pora. Tapi itu jarang ditemui di abad sekarang karena di zaman digitalisasi lebih mementing pencitraan dibanding niat yang suci.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,89 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sholiat Alhanin
Alumni Unpad dan UGM. Berprofesi sebagai Dosen, Penulis Lepas dan Penyiar

Lihat Juga

Berkah Dengan Satu Istri, Berkah Dengan Poligami