Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Terlalu Egoiskah Kita?

Terlalu Egoiskah Kita?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (hanggaady.blogspot.com)
Ilustrasi (hanggaady.blogspot.com)

dakwatuna.comJika kita membayangkan 20 tahun ke depan seperti apakah diri kita, maka di saat itulah mimpi-mimpi kita selama ini dapat dikatakan berhasil atau tidak (jika saat ini kita berumur 20 tahunan) sehingga kurang lebih tinggal 20 tahun lagi usia produktif kita.

Namun, hal yang selalu membayangi adalah cukupkah kita dengan usia yang diberikan Allah SWT? Rasa-rasanya, ingin sekali mengulang waktu yang telah berlalu. Menyesali waktu yang terlewat yang tidak kita pergunakan dengan maksimal untuk kebaikan, untuk memperbaiki diri, dan tentunya untuk meraih mimpi.

Tentu saja kita tidak akan pernah merasa cukup, kenapa? Karena kehidupan yang sekarang kita tinggali bukanlah yang sebenarnya. Yang sebenarnya adalah surga-Nya kelak. Di surga nanti tidak 60 tahun, tidak 100 tahun, tidak 1000 tahun, bahkan tidak semiliar tahun, tetapi selama-lamanya. Ingat, selama-lamanya.

Untuk alasan inilah kita harus bersyukur karena Allah SWT telah menakdirkan kita hadir di dunia. Menjadi manusia yang memiliki waktu, dan dengan waktunya itu kita dapat melakukan berbagai hal.

Maka waktu yang kita peroleh ini apakah kita pergunakan untuk kepentingan kita sendiri? Apakah hanya demi meraih mimpi kita sendiri? Kita sering bermunajat kepada Allah SWT agar Ia memperkenankan memudahkan kita untuk meriah mimpi tersebut. Apakah ini salah? Tidak.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al Qashas ayat 77, yang artinya: “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Beberapa ayat (76 – 84) pada surat ini menceritakan tentang kisah Qarun yang memiliki kekayaan yang melimpah namun malah berbuat dzalim dan mengingkari nikmat Allah SWT. Melalui ayat ini Allah SWT menjelaskan betapa seimbangnya manhaj ini, dunia diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak membangga-banggakan dirinya sendiri. Redaksi mengurutkan bahwa kejarlah akhirat dan jangan lupakan dunia, ini artinya yang utama adalah akhirat, dan dunia sebagai sarana saja. Karena itulah kita diperbolehkan meraih mimpi apapun itu yang bersifat keduniaan baik itu harta, kesehatan, kekuasaan, atau ilmu.

Di sisi lain, sebagai seorang mukmin tentu kita mengharapkan surga. Dan pertanyaannya, apakah kita hanya mementingkan diri kita sendiri lagi? Masuk surga sendiri saja? Bukankah di luar sana juga ada orang muslim yang lain?

Untuk itulah visi hidup seorang mukmin harus dibangun dengan benar, menjadikan dunia sebagai sarana meraih surga dan mengajak orang sebanyak-banyaknya berbekal ke surga.

Karena itulah kita berada di dalam jalan dakwah ini, apalah arti mimpi-mimpi tersebut jika toh kita hanya memikirkan diri sendiri? Apalah artinya hidup yang kita miliki jika kita lupa tentang hakikat manusia?

Maka sesungguhnya, hati ini berisi kecintaan yang amat besar terhadap umat ini. Sebagaimana Rasul telah mencontohkan, seorang Rasul betapa lebih mencintai umatnya dibandingkan dirinya sendiri, dibandingkan istri atau anaknya yang ditinggal. Tentu kita tahu persis bagaimana kronologi menjelang wafatnya Rasulullah?

Apalah arti diri ini, apalah arti waktu, pikiran, tenaga, jiwa, dan harta jika hanya memikirkan diri kita sendiri? Apakah orang seperti kita yang hanya memikirkan diri sendiri pantas untuk meraih surga-Nya? Pantas memperjuangkan permasalahan umat ini?

Begitulah mereka yang mengambil jalan dakwah ini, seluruh apapun yang ia miliki mereka serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Waktu yang singkat di dunia ini harus kita manfaatkan sebagi bekal bersama meraih surga. Seluruh mimpi yang berusaha kita raih bukanlah untuk diri sendiri, tetapi untuk umat, untuk bertemu kepada Allah SWT.

Wallahu’alam bishawab.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dhavid Gani Setiawan
Penulis adalah mahasiswa teknik informatika di Institut Teknologi Telkom.

Lihat Juga

Karsim Bilang: Pamer Diri itu Penting