Home / Berita / Perjalanan / Catatan dari Afrika, Jejak Awal Sebuah Perjalanan (Bagian ke-6)

Catatan dari Afrika, Jejak Awal Sebuah Perjalanan (Bagian ke-6)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Aksi Tim Qurban Afrika 2014 dan Tim Kemanusiaan Afrika 2014 dari PKPU. (Nana Sudiana)
Aksi Tim Qurban Afrika 2014 dan Tim Kemanusiaan Afrika 2014 dari PKPU. (Nana Sudiana)

Akhirnya Sampai Juga di Somalia

dakwatuna.com Alhamdulillah selama proses chek-in hingga boarding di Bandara Jomo Kenyatta International Airline (JKIA) Kenya berjalan lancar, apalagi Pak Suryo, staff KBRI mendampingi kami hingga menjelang masuk Gate atau ruang tunggu pesawat.

Walau kata teman NGO lokal kami yang cabangnya ada di Kenya perusahaan penerbangan African Ekpress merupakan perusahaan yang melayani penerbangan terbaik di Afrika, nyatanya sesaat kami diberikan tiket pesawat ini, anggapan ini seolah jauh panggang daripada api. Bagaimana kami harus yakin, lha wong tiket pesawatnya ternyata seperti tiket bus di kita, memakai tiket biasa yang blangkonya sudah tercetak, lalu keterangan lain dibubuhkan dengan ditulis tangan dengan stempel perusahaan di ujung kanan bawahnya dengan tulisan yang kurang jelas.

Di Boarding pas kami ditulis flight, no pesawat kami adalah XJS 27 dengan tujuan Mogadishu, Somalia. Di situ juga dibubuhkan dengan jelas Gate-4 tempat kami menunggu, namun tidak ada no bangku pesawat yang jelas di sana. Tepat pukul 06.10 waktu lokal Kenya, petugas memanggil para penumpang agar segera memasuki pesawat.

Di tempat parkir pesawat terlihat sejumlah pesawat terbang yang akan melayani berbagai penerbangan ke sejumlah tujuan yang rata-rata kalau melihat di list tujuan-nya mayoritas penerbangan dengan tujuan negara-negara di Afrika. Pesawat yang kami tumpangi ternyata jenis pesawat menengah dengan menggunakan pesawat CRJ 200 dengan kapasitas penumpang 50 orang. Di dalam pesawat hanya terdiri 13 deret bangku penumpang berisi 4 bangku, kecuali yang paling belakang (no.13) yang hanya berisi dua kursi penumpang karena sebelahnya adalah toilet.

Pesawat yang kami naiki tanpa no kursi, sehingga penumpang berebut memilih kursi masing-masing sesuai seleranya. Ada yang memilih di tengah, di pinggir jendela. Ada juga yang lebih suka duduk di belakang daripada di bagian depan pesawat. Kami sendiri karena antriannya ada di bagian belakang saat naik ke pesawat, akhirnya mengalah menempati sisa-sisa kursi yang ada.

Ternyata para penumpang tujuan Mogadishu ini diisi sebagian besar oleh mereka yang beragama Islam. Maklum Mogadishu adalah memang negara yang populasi muslimnya cukup banyak. Kami bisa mengatakan bahwa mereka adalah muslim karena selain dari busana para wanitanya yang memakai jilbab rapi, juga saat di bandara sejumlah orang tampak melaksanakan shalat subuh. Baik sendiri-sendiri maupun berjamaah. Walau di bandara tidak tampak tersedia mushalla, para penumpang tetap melakukan shalat subuh dengan menempati sudut-sudut ruang tunggu yang tersedia. Kami pun berjamaah shalat subuh bertiga di pojok depan ruang tunggu Gate-4.

Uniknya, selama di pesawat, kami tidak diperagakan tentang prosedur keselamatan penumpang oleh kru pesawat. Kru yang ada di pesawat-pun uniform-nya sangat sederhana. Setahu kami terlihat hanya ada satu pilot, kopilot serta 2 orang pramugari.
Ada lagi hal yang agak lucu, di dalam pesawat, di bagian depan penumpang tidak terdapat airbag sicknes (tempat orang untuk muntah bila mabuk udara), yang ada di depan kami semua hanyalah kantong keresek warna hitam yang itupun sudah lusuh dan entah sejak kapan terselip di depan kursi penumpang pesawat.

Sekitar 10 menit sebelum mendarat, tampak di bawah pesawat kami lanscape Kota Mogadishu, Somalia. Sebelah kanan kami terlihat lautan biru luas dengan ombaknya yang terlihat berkejaran teratur. Sementara sebelah kiri kami terlihat hamparan padang pasir berwarna kecoklatan berselang-seling dengan rerimbunan pohon-pohon perdu yang memenuhi pandangan mata. Di bawah kami juga tampak atap-atap rumah di bawah yang mungkin saja itu adalah seng-seng atap rumah dengan warna khasnya yang gelap kecoklat-coklatan.

Alhamdulillah, tepat pukul 08.48 waktu Somalia pesawat kami yang membawa kami terbang dari Kenya akhirnya sampai dengan selamat dan mendarat dengan mulus di landasan bandara Somalia.

“Welcome to Mogadishu”, begitu mungkin hembusan angin menyapa kami, ketika kaki-kaki kami menginjak tanah air Somalia.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nana Sudiana
Program Pascasarjana Islamic Business and Finance di Universitas Paramadina, Jakarta. Partnership Director PKPU sejak 2001-sekarang.

Lihat Juga

rohingya-1b

Let’s Help Rohingnya: Wujudkan Kepedulian Demi Kemanusiaan