Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jejak Syahidah “Batu” Intifadhah

Jejak Syahidah “Batu” Intifadhah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (hqdesktop.net)
Ilustrasi. (hqdesktop.net)

dakwatuna.com Dialah Ashmat Jamil Mahmud, Syahidah “Batu” intifadhah yang memiliki cita-cita “Mati syahid Fi Sabilillah dengan Nilai Istimewa.” Dia sangat membenci sifat penakut dan pengecut. Masyarakat mengatakan bahwa dia termasuk wanita pertama yang berhijab di kampung Salim, kampung halamannya. Dia sangat kuat berpegang tegung dengan ajaran-ajaran Islam, rajin puasa wajib dan sunah, rajin shalat tahajjud dan membaca Al-Quran.

Kaum Zionis Israel telah terbiasa membunuh banyak anak-anak wanita dan merekalah para pengecut dan licik. Bukan hanya itu, mereka juga sangat pendengki dan kejam. Hal ini tampak pada apa yang mereka lakukan di kampung Salim. Di sana tentara Israel pernah mengubur hidup-hidup empat pemuda Palestina. Kekejaman yang mengulang kembali peradaban jahiliyah sebelum masa kenabian.

Ayah Ashmat adalah seorang mu’adzin di kampung Salim. Seolah kampung itu terbiasa bangun dan tidur dengan suara “Hayya ‘alal Falaah” untuk mengajak kearah kemenangan. Apalagi setelah munculnya Shohwah Islamiyah (Kebagkitan Islam) al mubarakah yang melanda seluruh sudut kota Beit Al Maqdis sejak intifadhah pertama, 8 Desember 1987. Yang memompa motivasi seluruh generasi muda Islam untuk ikut berpartisipasi dalam “parade” jihad. Yang sangat menggembirakan ternyata yang berpartisipasi dalam gerakan dakwah ini bukan hanya para pemuda saja, tetapi para gadis-gadis belia Palestina seolah berlomba berebut untuk ikut dalam gelombang jalan jihad yang dihiasi oleh wangi darah para syuhada yang suci.

Ashmat ketika itu telah menjadi seorang gadis berusia 23 tahun. Ia juga menjadi salah satu gadis Palestina yang berlomba untuk bergabung dengan barisan dakwah dan jihad yang sedang bergema di Beit Al Maqdis. Ia begitu cinta bahkan terus mempelajari isi Al-Quran Al Karim, sampai ketika ia menghayati makna sebuah ayat yang memerintahkan seluruh wanita muslimah mengenakan jilbab:

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Ashmat selalu mengikuti pelajaran agama di masjid kampung tempat ia tinggal yang menjadikannya sangat termotivasi untuk komitmen dengan seluruh pelajaran itu. Dengan ilmu agama yang setiap hari ia pelajari akhirnya ia bersumpah untuk tidak bersalaman dengan laki-laki yang bukan muhrim sepanjang umurnya, dan juga bersumpah untuk meninggalkan setiap kultur jahiliyahnya. Tidak cukup sampai di situ, ia bahkan menjadi murobbiyah dan pendidik di rumahnya dan setiap tetangganya.

Suatu ketika Ashmat memutuskan untuk pergi ke masjid Al Aqsha kiblat pertama umat Islam. Setelah sampai di sana, ia berdiri disamping masjid Al Qubbah Shakhrah kemudian diangkatlah kedua tangannya sembari berdoa kepada Allah agar ia diberi kesempatan untuk mati syahid dan selalu mendapat pertolongan dalam jihad di jalan-Nya.

Ketika intifadhah meletus, Ashmat tidak tingal diam. Ia terjun langsung aktif dalam aksi intifadhah tersebut. Sementara lidahnya tidak henti-hentinya membicarakan tentang cita-cita tertingginya untuk mati syahid, dengan harapannya semoga Allah mengabulkan permintaanya itu. Setiap ada pejuang lain yang mati syahid, Ashmat selalu berharap dan berandai-andai yang mati syahid itu adalah dirinya sendiri. Dengan cita-citanya itu maka ia korbankan dirinya hanya untuk Allah, apalagi setelah ia membaca sebuah ayat suci Al-Quran:

“Sesungguhnya Allah akan membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang dijalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (QS. At Taubah: 111)

Saat tentara Israel menyerang kampung halamannya, ia selalu berada di barisan terdepan, melempar batu kearah tentara penakut itu yang sering berakhir dengan kaburnya para tentara itu di hadapan pasukan batu dan ketepel para wanita dan gadis Palestina pemberani. Setiap berhasil mengusir para tentara Israel, ia selalu memotivasi para gadis Palestina sebayanya dengan mengatakan: “Kalian semua bisa lihat realitas di lapangan, kita sebagai wanita mampu mengusir mereka, saya bersumpah demi Allah mereka itu sangat penakut dan pengecut!!!.”

Setiap ia melihat foto-foto para syuhada atau membaca kisah mereka, ia selalu berkata: “Saya ingin sekali bersama mereka, berada dalam kafilah yang penuh wangian surga.” Salah satu wasiatnya, ia tidak ingin diangkat oleh kaum laki-laki, ketika ia terkena tembakan, terluka atau bahkan ketika ia sudah membujur kaku dengan tetesan darah syuhada.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nurtiyas
Hidup sederhana dan penuh manfaat || Lembaga Dakwah Fakultas Ekonomi Universitas Mh.Thamrin AKA

Lihat Juga

Sebelum Lengser, Obama Diminta Mantan Presiden AS Ini Akui Negara Palestina