Home / Berita / Opini / Membandingkan Cara Pandang Pendidikan Indonesia dan Barat

Membandingkan Cara Pandang Pendidikan Indonesia dan Barat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cuplikan Buku Siswa Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK) SMA Kelas XI Semester 1, Kurikulum 2013. (Ma'mun Gunawan)
Cuplikan Buku Siswa Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK) SMA Kelas XI Semester 1, Kurikulum 2013. (Ma’mun Gunawan)

dakwatuna.com Saya merasa heran kenapa moral dan perilaku siswa-siswa di Indonesia semakin rusak? Kalau kita telisik hampir setiap hari ada berita tentang perilaku buruk para siswa kita, mulai dari maraknya tawuran antarpelajar, peredaran narkoba, pelajar yang berzina, sampai pada hari ini dunia pendidikan kita dihebohkan dengan beredarnya video di Youtube tentang anak SD yang menyiksa temannya (https://www.youtube.com/watch?v=5t9uU2JEO5s). Padahal setiap hari mereka berangkat ke sekolah dan mendapatkan ilmu dari gurunya. Di tambah lagi beberapa hari sebelumnya beredar luas materi tentang “Gaya Pacaran Sehat” pada buku Pendidikan Kesehatan Jasmani Kurikulum 2013 SMA yang menuai banyak protes di media sosial karena menggunakan ilustrasi gambar pria berpeci dan wanita berjilbab seperti gambar di samping ini. Lalu di mana masalahnya sehingga pendidikan kita menghasilkan produk yang tidak baik moral dan perilakunya?

Kebetulan kemarin saya diskusi dengan salah seorang guru pengajar di sekolah yang menggunakan kurikulum Barat, salah satunya yaitu The KAUST School sekolah yang disediakan oleh KAUST di mana saya berkuliah saat ini (https://tks.kaust.edu.sa/). Dia mengatakan bahwa guru-guru di sekolah tersebut diberikan kebebasan berinovasi dalam mengajarkan materi, mereka hanya diberikan panduan sasaran pembelajaran yang tercantum di dalam kurikulum sekolah. Beban materi yang diberikan kepada para siswa juga tidak terlalu berat sebagaimana yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Alhasil, guru di Indonesia sibuk mengejar target materi yang harus diajarkan sesuai kurikulum di mana setiap siswa harus bisa menghafal dan memahami materi pelajaran. Namun demikian, sekolah Barat lebih berorientasi pada pembentukan karakter siswanya sehingga para siswa memiliki sikap yang baik di dalam bergaul serta terangsang untuk mencari tahu dengan cara berani bertanya dan mencoba.

Menurut saya ada perbedaan cara pandang antara kurikulum pendidikan di Indonesia dan luar negeri yang mana output yang dihasilkan dari proses pendidikannya pun berbeda jauh. Kurikulum pendidikan di Indonesia semenjak kemerdekaan sudah berganti sebanyak sembilan kali hingga terakhir kita menggunakan Kurikulum 2013. Bahkan kita pernah menggunakan kurikulum KBK (2004) kemudian diganti lagi dengan KTSP (2006) seolah-olah pendidikan kita tidak punya arah yang jelas. Meskipun tampak bahwa arah kurikulum sejak 2004 berorientasi kepada merangsang agar siswa aktif dan berusaha mencari tahu, kita belum melihat output yang memuaskan dari kegiatan pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan kita masih berorientasi pada hasil, akhirnya siswa tidak memikirkan apa sebenarnya sasaran dari materi yang diajarkan melainkan mereka berpikir bagaimana agar mereka mendapatkan nilai yang bagus dan lulus. Hasilnya kita bisa lihat bagaimana banyaknya bocoran jawaban ujian selalu beredar dari tahun ke tahun setiap kali Ujian Nasional diadakan. Bahkan ada orang tua yang mengatakan bahwa tidak apa-apa anaknya tidak jujur dan menyontek saat Ujian Nasional yang penting anaknya lulus sekolah.

Kurikulum di sekolah Barat ternyata tidak terlalu menuntut agar siswa menghafal seluruh materi dan menjadi pandai, melainkan berorientasi pada rangsangan agar siswa memiliki sifat jujur, berani berpendapat, menghargai orang lain, serta mencoba hal-hal baru sehingga menghasilkan anak-anak yang berperilaku baik di dalam bergaul maupun di rumah. Tidak seperti di Indonesia, di ujian anak SD di sekolah Barat diperbolehkan menggunakan kalkulator, sekolah tidak ingin siswa-siswanya tertinggal dalam menggunakan teknologi karena di masa mendatang mereka pasti membutuhkan teknologi dalam memecahkan persoalan. Yang terpenting yaitu para siswa memahami konsep dasar dan cara berpikir yang baik dalam memecahkan persoalan. Guru-guru tidak sibuk mengejar materi pembahasan yang banyak untuk disampaikan kepada siswa, tapi mereka memperhatikan setiap perkembangan siswa di sekolah kemudian menyampaikannya kepada orang tua secara periodik sehingga jika ada hal-hal yang aneh pada sikap siswa maka orang tua pun segera mengetahui dan dilakukan proses pencegahan.

Oleh karena itu tidak heran jika semua jenjang pendidikan di Indonesia masih sebatas pada level bagaimana agar membuat siswa memiliki sikap berani, tidak menertawakan temannya yang salah, serta bergaul secara baik karena memang karakter-karakter tersebut tidak pernah dibentuk secara serius di sekolah. Sedangkan pendidikan di luar negeri sudah menanamkan sikap-sikap tersebut sejak sekolah dasar.  Kita bisa melihat bahwa siswa di luar negeri malu jika mencontek atau tidak mengerjakan tugas, namun mereka tidak malu ketika salah dalam mencoba dan tidak mengejek teman-temannya yang salah. Menurut saya, cara pandang pendidikan dan lingkungan pendidikan kita harus diperbaiki agar menghasilkan siswa-siswa yang baik moral dan intelektualnya.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Wandi Wahyudi
Saat ini Mahasiswa S3 di King Abdullah University of Science & Technology (KAUST), Arab Saudi. Alumni S2 di University of Science & Technology, Daejeon, Korea Selatan.

Lihat Juga

Rohingya

DPR Desak Pemerintah Indonesia Bersikap Tegas atas Insiden Kekerasan di Rohingya