Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Mempersiapkan Sebuah Generasi

Mempersiapkan Sebuah Generasi

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Roda kehidupan akan terus berputar, dan siapapun tidak bisa mengelak dari perputaran roda tersebut. Lahir sebagai bayi, memasuki usia kanak-kanak, remaja/baligh, menjadi dewasa, dan akhirnya sampai pada siklus menjadi lansia, manusia lanjut usia. Meski tidak ada satu orangpun yang bisa menjamin, apakah dirinya melalui seluruh fase tersebut. Karena boleh jadi Allah memanggilnya dalam usia muda.

Seperti sederet rumpun pohon pisang, masing-masing generasi akan datang silih berganti, setelah memberikan buahnya, pokok pohon pisang itu akan tumbang ditebas masa, dan digantikan oleh tunas-tunas yang lain. Tunas itu hadir menggantikan induknya, yang tak pernah lagi muncul, tapi dia berbahagia karena telah mempersembahkan karya, setandan buah pisang yang ranum. Dia tak akan meninggalkan kebun, menjadi bangkai batang, kecuali setelah memberikan hasil.

Manusia, semestinya secara sederhana bisa belajar kepada pisang, bersungguh-sungguh menghadirkan buah karya, sebelum ajal itu menjemputnya. Bahkan manusia bisa lebih dari sekadar memberikan karya sekali seumur hidup, ia bahkan bisa berkali-kali. Manusia juga mesti belajar, bahwa ia harus mempersiapkan generasi penerus sebagai pengganti /pelanjutnya perjuangannya menebarkan rahmat di muka bumi.

Kekhawatiran tidak bisa mempersiapkan generasi yang siap melanjutkan perjuangan, telah disinggung oleh Allah SWT, dalam surat Annisa ayat 9 “Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan anak keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya, Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.

Asbabun nuzul ayat ini berkaitan dengan sahabat Saad bin Abi waqash, ketika dalam keadaan sakit, beliau mengkhawatirkan dirinya karena hanya mempunyai seorang anak perempuan, sehingga dia berniat menginfakkan lebih dari 1/3 hartanya, dan kemudian Rasul SAW menyatakan bahwa paling banyak 1/3 yang boleh diinfakkan, dan sisanya menjadi harta warisan buat anaknya. Karena meninggalkan keturunan dalam keadaan berkecukupan itu lebih baik daripada dalam keadaan berkekurangan.

Konteks ayat ini terkait dengan kekuatan harta, tetapi kita bisa mengambil ibrah bahwa bukan sekadar kekuatan harta yang perlu kita siapkan untuk anak-anak kita, pelanjut generasi. Kekuatan aqidah, kekuatan ilmu, dan kekuatan akhlak harus menjadi fokus orang tua dalam mempersiapkan generasi. Dengan bekal aqidah yang kuat, generasi ke depan akan mampu mewarisi semangat perjuangan dengan sesungguhnya, dengan bekal ilmu, keturunan kita akan mampu mengayuh kehidupan dengan arah dan langkah yang jelas karena bimbingan ilmu, dengan kekuatan akhlak, dia punya modal dasar yang kokoh dalam menyelami kehidupan yang sarat dengan kebutuhan berinteraksi dengan berbagai karakter manusia. Dan dengan harta, berharap tidak menjadi beban bagi masyarakatnya, bahkan ditunjang oleh tiga kekuatan sebelumnya, dia mampu menumbuhkannya menjadi modal hidup yang penuh berkah.

Nabi Zakaria punya kekhawatiran yang sangat, ketika istri beliau dalam keadaan mandul, beliau curhat kepada Allah, agar Allah mengaruniakan kepadanya keturunan. Curhat beliau bisa kita lihat dalam QS surat Maryam 4-6. “Dia (Zakaria) berkata: “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah, dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa terhadapmu, wahai Tuhanku. Dan sungguh aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisimu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi keluarga Ya’kub, dan jadikanlah dia ya Tuhanku, seorang yang diridhai.”

Nabi Zakaria sangat menginginkan ada keturunan, agar ada yang bisa meneruskan risalah dakwah dan perjuangan beliau. Keturunan dengan tugas yang demikian mulia ini pastilah harus memiliki spesifikasi dan kapasitas yang kokoh dalam semua halnya, aqidah, ilmu, akhlak dan harta.

Inilah semestinya yang menjadi motivasi para orang tua dalam mempersiapkan generasi keturunan dengan segala dinamikanya. Dzurriyatan thayyibah, keturunan yang baik, dzurriyatan qorrota a’yun, keturunan yang menyejuk mata, generasi rabbi Radhiyya, sebagaimana yang diinginkan oleh Nabi Zakaria, yakni anak-anak keturunan yang diridhai oleh Allah.

Wallahu a’lam bishawab.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I
Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Aktif menjadi narasumber di berbagai kajian seputar keluarga dan muslimah. Dalam keorganisasian pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Yayasan Ilman Nafian Bogor, dan Yayasan Nurul Muslimah Medan Sumatera Utara.

Lihat Juga

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November