Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Titik Balik Menuju Kemenangan Dakwah Kampus

Titik Balik Menuju Kemenangan Dakwah Kampus

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comTadulako Madani bukan hanya mimpi, Tadulako Madani bukan hanya mimpi, Tadulako Madani bukan hanya mimpi. Kalau dulu jargon tersebut sering terdengar sayup-sayup dengan nada ucapan yang pesimis sekarang sedikit berbeda. Sekarang jargon tersebut sering terlihat di akun-akun sosial media para aktifis dakwah kampus. Dengan nada ucapan yang optimisme berseru tentang jargon yang menggambarkan visi mulia dakwah kampus yang visioner. Dengan nada ucapan yang optimis berseru tentang jargon ini seakan-akan mimpi tersebut dalam waktu yang tak lama lagi akan segera diwujudkan. Dengan semangat ciri khas pemuda, menyerukan jargon ini melalui tulisan, status di facebook, kicauan di twitter, harapan tentang terwujudnya peradaban kampus yang madani.

Penulis ingin sedikit bercerita tentang mengapa harus menjadikan lima kata yang tampaknya sederhana ini bertransformasi menjadi sebuah jargon yang visioner. Kurang lebih sekitar empat tahun yang lalu, di tahun 2010, pada momen Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional Ke-15 (FSLDKN XV) bertempat di Universitas Pattimura Ambon. Ratusan Aktifis Dakwah Kampus (ADK) berkumpul pada momen dua tahunan ini. Kami serombongan ADK dari UniversitasTadulako Sulawesi Tengah bertolak dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar menuju Kota Ambon. Dengan gagah memakai almamater berwarna biru, dan dengan perasaan kagum bercampur senang kami pun mendarat di Kota Ambon dengan selamat. Sebelum mendarat, sempat terjadi perbincangan akrab antara kami dengan seorang pramugara yang sangat supel. Pramugara tersebut memulai perbincangan tentang status kami sebagai mahasiswa dan seputar dunia pekerjaan.

Mendarat dengan selamat di Kota Ambon, kami disambut oleh beberapa ikhwah yang merupakan panitia FSLDKN XV. Jabat tangan yang erat dan pelukan hangat dari para panitia membuat kami sedikit tersentuh dengan penyambutan mereka di Bandara. Betapa indahnya mempunyai saudara di Kota Ambon, saudara yang terikat atas aqidah, kami saudara senasab dengan Islam sebagai ayah dan Iman sebagai ibu, dipersaudarakan dalam rahim Iman. Sahabat seperjuangan kami di Indonesia Timur yang juga berstatus sebagai pejuang dakwah kampus. Betapa bahagia saat itu para pejuang dakwah kampus hampir dari seluruh Indonesia berkumpul untuk bersilaturrahim, menyelaraskan gerak, menyatukan visi mulia tentang perbaikan bangsa dan negeri ini, perbaikan umat, dimulai dari Kampus. Mengapa harus kampus? Karena dari kampus lah lahir kader-kader potensial yang kelak akan memimpin perubahan di negeri ini, karena dari kampus lah terbina kaum intelektual yang kelak akan mengambil peran-peran penting dan posisi strategis di negeri tercinta ini. Dengan sarana dakwah kampus ini para aktifis ini ingin agar Indonesia kelak akan menjadi negara yang maju, diawali dengan perbaikan perilaku dan pendidikan karakter. Hal ini tercermin dalam tagline sederhana yang tercantum dalam stiker FSLDKN XV, “Indonesia Madani Bukan Hanya Mimpi.” Berangkat dari tagline sederhana inilah muncul ide untuk memulainya dari apa yang bisa dijangkau oleh para mahasiswa Universitas Tadulako Sulawesi Tengah ini. Yang bisa dan prioritas untuk dijangkau adalah Universitas Tadulako, “Tadulako Madani Bukan Hanya Mimpi” menjadi rangkaian kata yang menjadi pilihan kami untuk dibawa pulang ke Sulawesi nanti.

Lanjut kisah, Posisi Universitas Pattimura Ambon lumayan jauh dari bandar udaranya, oleh panitia FSLDKN XV telah disediakan bus untuk mengantar kami menuju Universitas Pattimura. Kami sempat keheranan ketika memasuki Kota Ambon banyak bendera-bendera yang berkibar di rumah-rumah dan di jalan-jalan. Yang membuat kami keheranan adalah bendera-bendera yang berkibar bukan hanya bendera merah putih, bendera-bendera bangsa lain pun turut berkibar. Sejenak penulis mencoba berpikir, ternyata benar saat itu sedang musim piala dunia, euforia piala dunialah yang membuat suasananya semakin semarak dengan bendera-bendera tim jagoan masing-masing. Masing-masing mengibarkan bendera negara yang dijagokannya untuk memenangkan piala dunia, perhelatan turnamen sepakbola sedunia empat tahun sekali. Terkadang dalam pikiran penulis terbersit sebuah renungan, mengapa orang-orang lebih senang mengorbankan waktu tidurnya untuk menonton tim kesayangannya daripada shalat malam, mengingat Allah, dan melakukan kegiatan lain yang lebih bermanfaat.

Alhamdulillah serentak kami berucap, akhirnya tiba juga di Universitas Negeri kebanggaan Kota Ambon, Universitas kebanggaan Indonesia Timur, Universitas Pattimura. Nama salah seorang pejuang kemerdekaan dari Indonesia Timur yang mengharumkan nama bangsanya dengan kesungguhan perjuangan dan upaya untuk bebas dari cengkraman penjajah. Tepat kami tiba di depan sebuah bangunan sederhana yang masih sebaris dengan Fakultas Ekonomi Universitas Pattimura, Mushalla Kampus Al-Ikhwan. Di lantai atas kami meletakkan barang-barang kami sembari panitia mendata peserta yang akan melakukan registrasi. Panitia juga terlihat sibuk kontak-kontakkan dalam rangka mempersiapkan tempat menginap buat para peserta FSLDKN XV atau sebutan lazimnya FSNas.

Inilah acara berskala nasional yang pertama kali penulis ikuti. Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari setiap detail kisah ini, hanya saja untuk tulisan kali ini penulis belum ingin menceritakan semuanya. Namun ada satu hal penting yang semoga menginspirasi, ternyata acara ini merupakan momentum titik balik bagi penulis pribadi. Untuk pertama kalinya menghadiri forum silaturrahim para pejuang dakwah kampus seluruh Indonesia, dan acara FSNas ini menjadi titik balik bagi penulis pribadi yang di masa lalu adalah orang yang tak pernah mempedulikan persoalan agama, pergerakan dakwah, dan problematika ummat. Dari acara inilah hati nurani tergerak di titik balik, untuk berkontribusi bagi dakwah, memecah kebodohan umat yang masih senang mengambil pedoman hidup yang lain selain Islam.

Berbicara mengenai titik balik, sebuah kisah monumental tentang titik balik tertulis indah dalam lembaran sirah Rasulullah SAW. Sebuah kejadian penting yang menjadi titik balik bagi kaum muslimin pada masa itu, untuk meningkatkan jumlah mereka, beribadah kepada Allah dengan bebas dan merdeka, berlepas diri dari segala intimidasi para petinggi Kaum Kafir Quraisy. Baiatul Aqabah yang pertama menjadi titik balik kegemilangan dan kemenangan kaum muslimin di masa-masa mendatang. Pada Baiatul Aqabah yang pertama, Sekelompok orang-orang dari Yastrib berbaiat kepada Rasulullah SAW untuk tidak menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh, anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka (mengadakan pengakuan-pengakuan palsu mengenai hubungan pria dan wanita) dan tidak akan mendurhakai Rasulullah SAW dalam urusan yang baik.

Setelah rombongan ini usai berbaiat, mereka kembali ke Yastrib. Rasulullah SAW menyertakan duta dakwah bersama mereka, yakni Mush’ab bin Umair untuk mengajak beriman kepada orang yang belum beriman, mengajar kepada orang-orang yang sudah beriman, mendalami agama, dan membacakan Al-Quran. Di Madinah, Mush’ab bin Umair menjadi tamu As’ad bin Zararah yang membantunya berdakwah. Upaya dakwah Mush’ab membuahkan hasil, di antaranya adalah masuk islamnya Sa’d bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair yang merupakan dua tokoh penting di Yastrib. Meskipun pada awalnya Sa’d bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair membentak dan mencela Mush’ab dengan kata-kata yang kurang mengenakkan. Dan pada akhirnya atas hidayah Allah, keteladanan dan kesabaran Mush’ab, lemah lembut lagi berkasih sayang dalam berdakwah, mampu menggugah Sa’d bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair untuk memeluk Islam. Dengan keislaman kedua orang ini, seluruh penduduk Bani Abdul Asyhal pun masuk Islam. Sehingga tidak ada satupun rumah orang Anshar kecuali di sana telah ada lelaki dan wanita yang telah masuk Islam. Setahun kemudian terjadilah peristiwa Baiatul Aqabah kedua yang semakin memperkuat posisi kaum Muslimin menuju kemenangan dakwah.

Titik balik yang terjadi pada seseorang pada umumnya merupakan momentum bersejarah bagi dirinya sendiri. Di mana ia akan bersedia untuk berubah, bertransformasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Maka ketika engkau dikala futur, ingat-ingatlah kembali momentum titik balik di dalam kehidupanmu, agar engkau semakin cenderung pada kebaikan dan termotivasi agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Bagi yang belum berkesempatan mengecap momentum titik balik di dalam hidupnya, banyak-banyaklah ber-istighfar dan meminta kepada Allah agar suatu saat akan memasuki titik balik di dalam hidupnya, berdoalah kepada Allah agar momentum bersejarah dalam hidup itu dipercepat kedatangannya, karena penyesalan selalu terjadi belakangan.

Tentang dakwah kampus, penulis pernah menjadi orang yang paling sering membantah senior-senior, padahal itu adalah kesalahan yang fatal dan hanya menimbulkan banyak kerugian serta memperlambat gerak. Dalam beberapa momen penulis pernah sering terpukau dengan retorika dan kepandaian seseorang dalam berbicara, padahal yang paling penting adalah track record orang tersebut, apakah sudah menjadi teladan sebelum berucap. Karena Dakwah bil hal lebih utama dari Dakwah bil lisan. Ketika meretas kembali jejak dakwah kampus, penulis pernah menjadi orang yang bergerak atas intuisi dan inisiatif sendiri, padahal Intervensi dan arahan senior-senior dalam hal kaderisasi masih sangat dibutuhkan, Karena Dakwah Kampus adalah tentang pewarisan Visi dan Misi.

Terkhusus bagi para pejuang dakwah kampus, berusahalah untuk senantiasa istiqamah di jalan dakwah ini, agar semakin menginspirasi dan memotivasimu, ingat-ingatlah kembali momentum titik balik di dalam hidupmu yang memberi pesan bahwa betapa Allah SWT masih amat sangat menyayangi dirimu. Mungkin dulu engkau adalah sang inisiator dosa dan maksiat, sampai engkau tersentuh oleh dakwah kampus Allah SWT berkehendak mengubah hidupmu agar lebih bermanfaat. Lihatlah di sekitarmu, mungkin saja begitu banyak orang-orang yang memilih untuk tak bergabung, begitu banyak orang-orang yang berguguran di jalan dakwah, ambil pelajaran dari fenomena itu. Luruskan niat dan capai kemenangan dakwah kampus secara berjamaah. Titik balikku adalah dakwah kampus, menuju kemenangan dakwah kampus, menuju kampus madani.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Memperluas Jaringan Lembaga Dakwah