Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kesempurnaan yang Menuntut Pengorbanan

Kesempurnaan yang Menuntut Pengorbanan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: bernaaltay.com)
Ilustrasi. (Foto: bernaaltay.com)

dakwatuna.comPada hakikatnya, manusia memang dilahirkan sebagai makhluk mukallaf, yaitu makhluk yang harus menjalankan kewajiban agamanya, serta menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh agamanya. Sifat mukallaf ini menghadapkan manusia pada pilihan-pilihan yang selalu muncul dalam setiap detik kehidupan kita, yang notabene hanya terdiri dari dua pilihan: benar atau salah. Dalam aktivitas sehari-sehari, dimulai dari ketika kita membuka mata saat terbangun dari tidur hingga akhirnya kita memejamkan mata kita kembali, maka semua aktivitas tersebut akan menuntut pilihan-pilihan bagi diri kita pribadi. Apakah kita ingin mencukupkan waktu istirahat kita sebelum adzan Subuh berkumandang dan menjalankan kegiatan-kegiatan ibadah yang membawa manfaat, ataukah kita memilih untuk tepat bangun di saat mendekati adzan Subuh saja, atau bahkan kita lebih memilih untuk tetap terlelap tidur hingga akhirnya sang mentari mulai bersinar terik kembali di hari itu dengan gagahnya?

Jika kita meniliknya pada Surah Asy-Syams ayat ke delapan yang berbunyi fa-alhamahaa fujuurahaa wataqwaahaa, maka akan kita dapati bahwa Allah mengilhamkan kepada jiwa-jiwa manusia itu jalan kefasikan dan jalan ketakwaannya. Tentu bukan hal yang mengherankan ketika banyak di antara kita yang sebenarnya sudah dapat membedakan antara segala sesuatunya yang haq dan batil dengan mudah. Namun pada kenyataanya, tak sedikit dari kita yang akhirnya tidak mengambil jalan ketakwaan tersebut dan justru memilih jalan-jalan yang lain.

Mengapa hal seperti itu bisa terjadi? Karena ternyata, segala pilihan yang terbaik itu akan seringkali menawarkan segala sesuatunya yang terlihat berat dan sulit. Ia akan memberikan tuntutan kepada kita untuk keluar dari zona nyaman kita, melepas selimut-selimut penenang dalam kehidupan kita yang dapat dikatakan sangatlah biasa-biasa saja—hanya dipenuhi dengan target ala kadarnya serta segala bentuk kelengahan yang membuat hidup kita penuh dengan kesantaian dan have fun yang tidak pada tempatnya. Memilih jalan ketakwaan tidak mudah dan selalu membutuhkan perjuangan lebih, sampai akhirnya banyak dari kita yang dengan segala kelemahannya memilih untuk tetap bertahan pada zona nyamannya dan tidak pernah melakukan pergerakan dan bertransformasi menjadi insan yang lebih baik.

Hal inilah yang perlu dijadikan refleksi bagi diri kita masing-masing terutama bagi generasi muda penerus bangsa saat ini, di mana banyak dari generasi penerus kita ini yang berleha-leha dengan waktu yang dimilikinya, memilih aktivitas kurang bermanfaat lain yang seringkali dijadikan alasan sebagai media refreshing akibat lelahnya fisik maupun mental setelah berkutat dengan berbagai kesibukan duniawi. Bukankah masih banyak hal-hal bermanfaat lain yang dapat dilakukan untuk mengisi waktu kita sehari-hari, sehingga waktu yang kita miliki ini tidak menusuk kita sendiri seperti halnya pedang yang akan menusuk pemiliknya ketika ia tidak digunakan dengan benar. Kita semua akan selalu dihadapkan pada pilihan, dan pasti pilihan itu akan selalu berakhir pada dua hal: menuju ketakwaan karena kita akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik, sukses, dan matang; atau memilih jalan kefasikan ketika kita memilih untuk menjadi seorang pemuda pemudi yang biasa-biasa saja seperti kebanyakan mereka yang ada di luar sana. Sudah seharusnya kita benar-benar memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya, tidak sekadar kuliah untuk mencari nilai indeks prestasi yang baik saja dan menjalankan rutinitas ala kadarnya, bertarget dan bermimpi dengan berlandaskan ego semata tanpa paham fillah, billah wa lillah yang selayaknya dimiliki oleh setiap muslim di muka bumi ini.

Di manapun manusia itu berada, selama kita selalu berusaha meluruskan niat demi mencari keridhaan Allah dan selalu berikhtiar memperbaiki diri walaupun kita harus terus bergerak melakukan perubahan serta keluar dari zona nyaman kita sebelumnya, insya Allah pertolongan Allah amatlah dekat dan nyata, bahkan melalui hal-hal yang tidak terduga sekalipun. Karena sesungguhnya, bersama kesulitan itu ada kemudahan, persis seperti firman Allah dalam Surah Al Insyirah dengan dua kali penegasan, yaitu ayat ke-5 dan ayat ke-6 dari kalam Allah tersebut. Ketika kita merasa terhimpit dan mulai lelah, percayalah bahwa selama kita selalu meniatkan segala sesuatunya karena Allah dan melepas segala penilaian dari manusia, maka segala proses yang menyertai perjalanan hidup kita ini akan terasa lebih menenangkan dan memberikan hasil yang memuaskan. Untuk menuju kesempurnaan dalam konteks menuju insan yang lebih baik dan bermartabat, konsekuensi berupa pengorbanan untuk meninggalkan segala hal yang membawa mudharat memang perlu dilakoni, sekalipun dengan meninggalkan zona nyaman kita dan menuntut adaptasi tertentu. Walaupun sulit, namun pada akhirnya, kita akan selalu sadar bahwa ternyata diri kita ini jauh lebih kuat dari apa yang pernah kita bayangkan—bukan karena ambisi-ambisi kita yang lain, melainkan karena Allah semata.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Anggita Ratri Pusporini
Mahasiswi aktif Fakultas Teknologi Pertanian UGM yang senang menulis dan membaca, serta selalu ingin meningkatkan kapabilitas dirinya dalam dunia tulis menulis untuk bisa memberikan tulisan-tulisan yang bermutu, menggugah dan menginspirasi.

Lihat Juga

Betapa Sayangnya Allah SWT Kepada Kita, Manusia