Home / Narasi Islam / Politik / Kepemimpinan Profetik

Kepemimpinan Profetik

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Seorang pemimpin, boleh saja berpengaruh. Seorang pemimpin, boleh pula seorang yang efektif. Seorang pemimpin, bisa juga seorang yang mencontohkan kebaikan. Namun sekarang pikirkan seseorang yang mampu menafaskan Islam dalam lingkup kepemimpinannya. Ia resah, gelisah dengan ketidakadilan yang masih menjangkiti umatnya. Ia terjaga di malam hari, memikirkan bagaimana cara melepaskan belenggu ketertindasan dari kehidupan umat. Ia bangkit berdiri membela kebenaran, membela umat, tanpa sedikitpun gentar akan penderitaan yang mungkin akan menyapanya. Ia tak henti-hentinya menanamkan nilai-nilai Islam dalam kepemimpinannya. Di pikirannya hanya satu yang benar ia dambakan, yakni kebaikan dari Tuhannya semata. Dialah, seorang yang seperti itulah yang kemudian layak disebut sebagai seorang pemimpin.

Semua kriteria pemimpin tersebut ada di diri Rasulullah. Beliau benar-benar berhasil mempresentasikan bagaimana pemimpin yang ideal, tidak hanya pada jamannya tapi untuk sepanjang masa. Hal ini dibuktikan dengan estafet kepemimpinan yang terus bergulir setelah Rasul wafat. Islam berjaya di bawah kekhalifahan Bani Umayyah, pun di bawah kekhalifahan Bani ‘Abasiyah. Namun setelah itu pemimpin ideal yang berhasil membumikan Islam seakan hilang peredarannya, walau muncul kembali pada masa Turki Otsmani. Saat ini, di tengah kemerosotan moral yang kian mendera, pemimpin-pemimpin ideal itu kembali dirindukan, didamba-damba untuk kembali merebut kejayaan Islam.

Belajar dari Rasulullah, terdapat tiga hal utama yang menjadi misi kepemimpinan Rasulullah, yakni:

  1. Ta’muru nabil ma’ruf (humanisasi)
    Ta’muru nabil ma’ruf atau mengajak orang kepada kebenaran merupakan hal yang paling mudah untuk dilakukan dari ketiga butir-butir kepemimpinan Rasulullah. Tahap ini dimaksudkan untuk memanusiakan manusia dengan mengangkat harkat hidupnnya dan menjadikan manusia bertanggungjawab atas apa yang telah dikerjakannya.
  2. Tanhauna ‘anil munkar (liberasi)
    Tanhauna ‘anil munkar berarti membebaskan dari keterpurukan dan ketertindasan. Hal ini lebih sulit dilakukan dari pada tu’minu nabil ma’ruf. Seorang pemimpin harus peka, siap berkonflik dan berani bertindak demi membebaskan umatnya
  3. Tu’minu Nabillah (transendensi)
    Kedua hal di atas, tidak akan bertahan lama tanpa Tu’minu Nabillah atau melandaskannya hanya demi Allah semata. Kesadaran Illahiyah akan mampu menggerakkan hati dan bersikap ikhlas terhadap segala yang telah dilakukan. Kesadaran ini kemudian menjadi pondasi untuk membangun kerangka visi misi ke-Ilahiyahan yang kuat. Tanpa visi misi ke-Ilahiyahan yang kuat, keberhasilan seorang pemimpin adalah keberhasilan semu, keberhasilan sementara yang tidak akan meninggalkan kesan dan pengaruh yang kuat untuk generasi selanjutnya. Visi misi ke-Ilahiyahan harus senantiasa diperkuat dengan mendekatkan diri pada Allah, yakni dengan iman, Islam dan ihsan.

Kejayaan Islam, hanya dapat diraih dengan memegang teguh dan menjalankan ketiga misi tersebut. Namun sebelum menjalankan ketiga misi tersebut, seorang pemimpin haruslah memperbesar kapasitas dirinya. Untuk mencapai kapasitas yang dibutuhkan diperlukan beberapa proses, yakni:

  1. Proses pembacaan
    Seorang pemimpin sebenarnya adalah apa yang ia baca. Penguasaan informasi berupa konsep, teori dan paradigma dasar haruslah dimiliki oleh seorang pemimpin. Maka, seorang pemimpin haruslah banyak membaca. Membaca pun tidak hanya sekadar membaca, tapi juga menganalisis bacaan sehingga dapat menalar apa yang dibaca.
  2. Proses penyucian
    Setelah banyak membaca, seorang pemimpin haruslah bisa memilah-milah apa yang telah ia dapat. Proses penyucian ini dimaksudkan untuk menetralisir pemikiran, perasaan dan moral dari muatan-matan negatif.
  3. Proses pengajaran
    Selain menjadi pembelajar, seorang pemimpin haruslah menjadi pengajar. Dengan begitu, ilmu yang ia peroleh bermanfaat bagi umat.
  4. Proses menemukan ilmu-ilmu baru
    Seorang pengajar akan menemukan ilmu-ilmu baru ketika ia telah terjun ke tengah-tengah umat. Ia menjadi peka dengan karakteristik umat sehingga dapat mewujudkan misinya dengan strategi yang tepat.

Keempat hal tersebut tidak akan terlaksana, tanpa adanya kesadaran bahwa setiap diri kita adalah seorang pemimpin, yang akan diminta pertaggungjawabannya di hari kiamat kelak. Sebelum seorang pemimpin membebaskan umatnya, terlebih dulu ia harus membebaskan dirinya sendiri dari belenggu ketidakmampuan, belenggu penghambaan pada diri sendiri dan manusia. Dengan menyadari bahwa setiap diri kita adalah pemimpin, hati kita akan terbangun untuk melepas segala belenggu jiwa yang menghambat munculnya potensi-potensi terpendam. Sehingga potensi-potensi tersebut menjelma menjadi aksi nyata demi terwujudnya misi dan cita.

Disarikan dari training “Kepemimpinan Profetik” oleh Bachtiar Firdaus, S.T

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
COO CV. Dinar Ismail, yang juga calon dokter gigi. Sedang berjuang di PPSDMS angkatan 7.

Lihat Juga

Kepemimpinan Karismatik