Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hati Membuat Cinta dan Sengsara

Hati Membuat Cinta dan Sengsara

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comIkhwan wa akhwatifillah, Sungguh setiap manusia yang Allah ciptakan di bumi ini pada hakikatnya memiliki hati. Dengan hati, manusia dapat merasakan cinta, kasih sayang dan juga merasakan sakit yang luar biasa. Selama hati dalam keadaan hidup, lembut, jernih dan bercahaya maka manusia akan mudah untuk melawan hawa nafsu dan selalu ingat kepada-Nya karena Allah telah menjaga dengan mencintainya. Sedangkan jika hati manusia mulai keras, keruh, gelap apalagi buta, maka manusia itu akan tersesat jauh hingga tak ada kebenaran yang dapat diterimanya kecuali dengan kehendak Allah.

Ali bin abi thalib pernah berkata, “Sesungguhnya Allah SWT memiliki bejana di bumi-Nya, yaitu hati. Maka, hati yang paling dicintai-Nya adalah hati yang paling lembut, jernih, dan kukuh.”

Kemudian ditafsirkanya, bahwa yang dimaksud paling jernih adalah hati yang paling jernih dalam keyakinan, paling lembut adalah paling lembut kepada saudaranya dan paling kukuh adalah yang paling kukuh dalam agama.

Diriwayatkan dalam hadits : “Hati orang beriman itu mulus, di dalamnya terdapat cahaya yang terang. Sedangkan hati orang kafir itu hitam dan terbalik.” (HR. Ahmad dan Thabrani)

Kita juga dapat melihat dalam Al-Quran bagaimana gambaran hati orang-orang yang beriman.

“… adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambah iman mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)

Sementara itu Al-Quran juga telah memberi gambaran hati orang-orang kafir.

“… karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Haj:46)

Kalau begitu keadaannya, yang menjadi pertanyaan adalah ada di manakah hati kita saat ini? Bergetarkah hati itu saat mendengar asma Allah, bertambahkah iman itu saat saudara di sekitar mengingatkan kebaikan dengan ayat-ayat-Nya? Bisa jadi aktivitas kita adalah nampak aktivitas dakwah, tapi tidak menutup kemungkinan ruhiyah kita kosong, dan iman kita dalam keadaan lemah. Karena yang kita pahami bukan hakikat dakwah melaikan sekadar aktivitas dakwah.

Ikhwah, bukankah seperti ini harusnya yang selalu menjadi perhatian para pelaku dakwah? Jangan sampai lidah itu selalu berkata benar tetapi hati tak karuan ke mana arahnya. Ingatkah dengan firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. As-shaff: 2-3)

Jangan sampai yang menjadi pelaku dakwah justru masuk jauh dalam kemunafikan yang keberadaannya sangat dibenci Allah SWT. Mudah-mudahan kita semua termasuk orang-orang yang memiliki hati yang lembut, jernih, dan kukuh. Hingga kelak Allah memanggil kita dengan sebaik-baiknya panggilan dan kita akan memperoleh satu dari dua kebaikan dakwah yaitu “tujuan” atau “mati syahid”. Wallahu a’lam.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nurtiyas
Hidup sederhana dan penuh manfaat || Lembaga Dakwah Fakultas Ekonomi Universitas Mh.Thamrin AKA

Lihat Juga

Geliat Cinta Pejuang