Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Memaknai Sepi

Memaknai Sepi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Hasan Al-Banna. (inet)
Hasan Al-Banna. (inet)

dakwatuna.comDalam banyak kesempatan, menyendiri sering diartikan sebagai kondisi orang yang sedang mengalami kesepian. Tapi tidak dalam benak para pemimpin surgawi. Karena di dalam sepinya, terbentang sekelumit perenungan yang dalam akan makna dan tujuan hidup. Di dalam sepinya; ada nilai introspeksi, ada nilai perencanaan hidup, dan ada pula nilai penambah wawasan. Sehingga yang hadir bukanlah kesia-siaan, melainkan produktivitas.

Mari kita pelajari makna sepi dari seorang pemikir Islam modern, yang pergerakannya menjadi pergerakan Islam paling progresif diabad ke-20. Yang ilmunya, memerangi dekadensi moral umat. Yang tulisannya, membangkitkan kembali semangat berjihad umat muslim. Yang ideologi pergerakannya, banyak diadopsi berbagai kelompok Islam di seluruh belahan dunia. Dialah Hasan Al-Banna.

Hasan Al-Banna, terlahir sebagai pemikir Islam moderen yang memiliki pengaruh besar terhadap percaturan politik global kontemporer. Di dalam sepinya, Hasan Al-Banna banyak menuliskan pemikiran-pemikirannya, yang saat ini banyak dijadikan referensi para dai di seluruh dunia. Dua karya terbesarnya ialah, Majmuatur Rasail (Kumpulan risalah-risalah), dan Mudzakiroh da’watu wad da’iyah (Catatan harian dakwah dan dai).

Dengan latar belakang Islamnya yang kuat, Hasan Al-Banna mendirikan sebuah organisasi yang bernama Ikhwanul Muslimin. Organisasi yang melandaskan ideologi pergerakannya berdasarkan tuntunan Al-Quran dan Sunnah. Sehingga pada perjalannya pun, Ikhwanul Muslimin menjadi salah satu pergerakan Islam yang memiliki kepedulian tinggi terhadap konflik negara Islam, dan negara mayoritas Islam. Dalam sepinya pula, Hasan Al-Banna menjadi seorang dai, dan seorang guru. Tidak hanya masjid yang dijadikan tempat beliau biasa berkhutbah, tetapi juga di tempat-tempat sederhana yang jauh dari sentuhan ilmu pengetahuan.

Memiliki pemahaman Islam yang menyeluruh, membuat Hasan Al-Banna memiliki kepribadian yang kuat. Sehingga seringkali Hasan Al-Banna bertolak belakang dengan keputusan pemerintah Mesir. Apalagi sejak pengaruh Inggris semakin kuat di Mesir, membuat Mesir semakin bernuansa sekuler. Di dalam sepi pula, Hasan Al-Banna menjadi seorang tokoh yang tangkas menentang keberpihakan Mesir terhadap negara barat. Sehingga Ikhwanul Muslimin berhasil mereduksi dominasi pengaruh barat terhadap kebijakan ekonomi, politik, & militer pemerintah Mesir. Karena pada masa kepemimpinan Hasan Al-Banna di Ikhwanul Muslimin, dunia sangat diwarnai dengan berbagai macam perang militer terbuka.

Jadi, di situlah makna sepi itu berlaku pada kepemimpinan surgawi. Bahwa kesendirian, bukan berarti lemah. Bahwa kesendirian, bukan berarti tidak produktif. Sehingga menyepi menjadi salah satu budaya penentu ketajaman pemikiran seseorang. Karena sepi juga menjadi sumber ketenangan hidup, di tengah padatnya rutinitas keseharian. Sepi juga menjadi media pendekatan diri kepada Allah, atas segala kekhilafan dosa yang tidak sengaja dilakukan. Sepi pula yang menjadi media penata ulang rencana hidup, yang dirasa sudah tidak sesuai dengan kebutuhan. Dan yang terpenting, sepi itu menjadi waktu yang tepat untuk menambah wawasan dengan buku bacaan keagamaan, dan ilmu penunjang lainnya. Sehingga pada akhirnya goresan penalah, yang mengabadikan ilmu di atas lembaran-lembaran kertas. Dan menjadi keberkahan untuk umat puluhan, bahkan ratusan tahun setelah diri ini wafat. Di situlah sepi sangat dibutuhkan.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 5,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Belajar Pada Sepi