Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Satir Kehidupan dari Kepulangan Syeikh Munir Muhammad Al-Ghadban

Satir Kehidupan dari Kepulangan Syeikh Munir Muhammad Al-Ghadban

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Syeikh Munir Muhammad Al-Ghadban. (YouTube)
Syeikh Munir Muhammad Al-Ghadban. (YouTube)

dakwatuna.comSelamat Jalan Syeikh, Allah lebih Mencintaimu.. Maafkan kami..

Aku Tulis dalam nada Satir di tengah bayang-bayang bahwa dakwah tidak tegak dengan sindiran..

Mendalami tulisanmu, seolah kau adalah Ayah bagi para mujahid dakwah.. Kau nasehati mereka, kau ayomi pembaca, kau arahkan mereka, kau “ungkap” masa depan dakwah, kau yang paling menginginkan ummat bersatu dalam kesatuan dakwah, kau luruskan yang bengkok, dan kau kokohkan yang pokok.

Allah mengilhami Engkau dengan firasat yang baik, tentang kondisi kekinian dan kedisinian..

Satirku bukan untuk justifikasi, hanya sedikit kabarkan ironi tentang kami yang mulai jauh peduli. Jauh peduli dari kondisi para ulama yang membela kami..

Jauh peduli dari nama-nama yang bahkan dengan kondisi belum tentu kami mencintai mereka, tapi mereka sudah ekspresikan cintanya kepada kami, baik dalam goresan pena, pedang, maupun pancaran darah mereka yang mengalir deras sementara jiwa mereka melayang dan menaruh simpati pada kami yang baru hidup di kemudian hari.

Entah, apakah kami benar-benar mengenalmu. Melihat wajahmu saja baru saat ini. Jangan-jangan kami pura-pura mengenalmu atau bahkan pura-pura peduli.

Engkau hanyalah satu di antara barisan panjang ulama yang kami belum pernah mengenalmu..

Lalu, benarkah pemahaman Islam kami jika kami jauh dari mengenal Ulama seperti engkau?
*sekelebat bisikan hati

Atau kami hanya sekumpulan kepura-puraan yang hidup.

Kami harus akui, kami hidup di tengah gelombang kemalasan berpikir dan bekerja, kami adalah idola dari segala yang instan dan hamba yang malas berproses.. Karenanya maafkan kami jika karyamu tak pernah selesai kami baca, bahas atau aplikasi..

Mulai hari ini akan kami ubah satir menjadi energi taubat.

Tidak akan kami sia-siakan keberadaanmu di muka bumi dan akan kami selalu rindui pertemuan denganmu di kehidupan yang akan datang.

Istaghfirlana ya Rabb.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Hadi Kusumah
Front Aktivis Rawamangun

Lihat Juga

Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)

Sumber Kehidupanku

Figure
Organization