Home / Berita / Opini / Ahok, Dengar dan Renungkanlah!

Ahok, Dengar dan Renungkanlah!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. (wartanews.com)
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. (wartanews.com)

dakwatuna.comSaya yakin para pemilih Ahok pada Pilgub DKI dua tahun lalu itu mayoritas warga DKI yang beragama Islam sedemikian tolerannya terhadap Ahok yang berbeda agama dengan memberikan kepercayaan tinggi, harapan dan mimpi untuk Jakarta lebih baik. Ironi kalau dia membuat kebijakan-kebijakan dan pernyataan-pernyataan yang menyinggung dan melukai umat Islam.

Tanpa banyak kontroversi yang sudah Ahok lakukan seperti sekarang ini, dan tanpa perseteruan dengan berbagai ormas, tidak hanya dengan FPI, FBR dan Muhammadiyah, bahkan dengan MUI, pekerjaan dan tugas Ahok sebagai gubernur itu sudah cukup berat, tidak cukup 5 tahun, apalagi kalau 5 tahun ini dipakai untuk hal-hal kontra produktif. Fakta statistik tidak berpihak pada Ahok, pertumbuhan ekonomi Jakarta sejak dipimpin Jokowi-Ahok menurun anjlok. Tahun 2011 di zaman Foke ekonomi tumbuh 6.77%, 2012: 6.55%. Begitu Jokowi-Ahok pimpin Jakarta, ekonomi Jakarta anjlok menjadi 6.11% pada 2013. Setiap 1% penurunan ekonomi = pengurangan lapangan kerja 40,000.

Ahok seharusnya fokus bekerja untuk Jakarta, jangan bermain-main di wilayah-wilayah “sensitif” seperti masalah peribadatan agama lain, jangan coba menafsirkan hukum-hukum Islam sekenanya, jangankan non-muslim, muslim sendiri yang tidak kompeten dilarang mengutak-atik hukum yang sudah badihiyat (aksiomatik) atau qoth’i. Itulah sebabnya keberadaan ulama dan lembaga MUI yang kompeten menjaga pemahaman agama, seperti komentar “Soal bir itu haram” yang disangkal dengan alasan asal tidak mabok. Kemudian soal “Pemberantasan prostitusi” malah mendukung lokalisasi, Saya tidak tahu motif Ahok apa, orang mulai berspekulasi, sepertinya Ahok sedang mencoba deislamisasi kota Jakarta, secara sistematis, menghilangkan simbol, akhlak dan budaya Islam dari akar masyarakat Jakarta, pelan tapi terencana, senyap tanpa disadari,

Ahok seharusnya tidak melarang siswa-siswa sekolah yang mayoritas beragama Islam melakukan ibadah di lingkungan sekolah yang menjadi hak setiap warga negara yang dilindungi konstitusi. Ataukah benar seperti tuduhan orang-orang: kalau Ahok sedang deislamisasi sekolah-sekolah, pelan dan sistematis. Pergantian kepala sekolah di Jakarta oleh kepala sekolah yang beragama Nasrani, mengganti baju koko atau baju khas umat Islam di hari Jumat dengan baju daerah, kenapa harus hari Jumat? Saya tidak percaya, dan berusaha keras menghilangkan prasangka buruk itu Orang-orang lagi-lagi mulai berspekulasi, tidak hanya pelarangan potong hewan qurban dan baju koko di hari Jumat, Ahok akan menghilangkan ekstra kurikuler atau kegiatan apapun di luar kegiatan sekolah terkait ibadah umat Islam: mulai perayaan hari-hari besar, kegiatan Rohis dan jangan heran jika Ahok nanti melarang shalat Jumat di sekolah bahkan melarang shalat Zhuhur dan Ashar di lingkungan sekolah, it’s the matter of time.

Yang lain berkomentar, “Tidak ada syarat gubernur harus orang Islam!” ah benar, memang tidak ada ketentuan itu, namun bukan tuntutan istimewa jika mayoritas penduduk Jakarta yang beragama Islam menghendaki gubernurnya yang memahami persoalan kehidupan beragama mereka, bagi umat Islam, Hukum dan aturan Islam ada dalam semua aspek kehidupan, mustahil jika itu bisa dipahami gubernur yang bukan muslim. Kalau ada gubernur non-muslim di tanah air yang memahami seluruh aspek pemahaman Islam dengan benar dan toleran, saya pastikan, itu bukan Ahok.

Sebagai warga mayoritas beragama Islam, permintaan dan tuntutan seorang gubernur Jakarta harus muslim tidak berlebihan dan masuk akal menurut saya, ini negara demokrasi, aspirasi rakyat harus didengar, apalagi aspirasi suara mayoritas. Malah kedengarannya aneh menurut saya, jika kepala negara Vatikan Roma seorang haji Benar, ada Seorang muslim bisa menjadi wali kota di Belanda, negara dengan mayoritas umat Nasrani, tepatnya di kota Rotterdam. Adalah sosok Ahmed Aboutaleb, pria keturunan Maroko ini didaulat warga Rotterdam menjadi pemimpin kota mereka, mungkin juga ada di belahan eropa lainnya, ada walikota terpilih seorang muslim di tengah mayoritas beragama Nasrani. Namun perlu diingat Rotterdam adalah kota besar di Eropa salah satu kota dengan populasi muslim terbesar dengan persentase 40% dari 585,000 penduduk Rotterdam (data 2009), Namun pengalaman kita di Jakarta, model gubernur berbeda agama benar-benar mimpi buruk.  Salah satu sebab walaupun 60% penduduk Rotterdam tercatat beragama Nasrani, mayoritas warga Rotterdam, namun tengok siapa yang masih pergi ke Gereja pada hari Minggu di Rotterdam? hal yang sama terjadi di seluruh kota-kota di Belanda. Satu persatu gereja di Eropa ditutup, ada yang jadi museum objek wisata, sebagian dibeli warga muslim untuk dijadikan mesjid, seperti mesjid Al-Hikmah di Den Haag yang menjadi kebanggaan muslim Indonesia. Asal masjid itu adalah gereja yang sudah tutup, lalu dibeli dari donasi Prabosutedjo. Artinya mayoritas warga kota Nasrani di sana jauh dari nilai-nilai religius. Agama bagi mereka hanya sekadar simbol dan warisan, perayaan natal hanya sebatas tradisi yang bersamaan dengan perayaan tahun baru. Apapun agama walikotanya, mereka sama sekali tidak akan terganggu.

Komentar yang terdengar logis, “Lebih baik Ahok daripada pejabat-pejabat muslim yang korupsi dan memperkaya diri sendiri!” Sering saya dengar komentar pembelaan seperti itu. Saya katakan dua-duanya buruk dan dua-duanya pilihan buruk. Dalam Islam hal-hal yang jelas-jelas diharamkan jangan dibandingkan. Kebaikan dalam Islam bernilai absolut bukan relatif terhadap sesuatu. Yang buruk-buruk harus ditinggalkan, dan tetap buruk dan haram, bukan untuk dibanding-bandingkan, dua-duanya harus ditinggalkan. Logika yang menyesatkan! Dengan logika yang sama, “berselingkuh lebih baik daripada membunuh” atau “mencopet lebih baik daripada menggarong” atau “saya tidak shalat tapi saya tidak menipu, lebih baik daripada pak Haji rajin shalat tapi suka menipu”, logika yang kacau, semua perbuatan tadi harus ditinggalkan, tidak ada yang baik. Mengangkat pemimpin seorang kafir bagi untuk masyarakat muslim adalah menentang ketentuan syariah, buruk dan harus ditinggalkan. Memilih pemimpin muslim yang tidak amanah, track record tercela, tersangkut kasus korupsi, sesuatu hal yang buruk, tidak dibenarkan menurut syariah. Dua-duanya hal buruk yang harus ditinggalkan. Solusinya? Cari pemimpin Muslim yang jujur dan amanah dan tidak korupsi untuk gubernur Jakarta! Sulit? Ah yang benar aja, memang kalau kita cari profil pemimpin muslim yang populer di media-media yang konon mainstream memang benar sulit, pemimpin muslim semuanya buruk, pemimpin muslim digambarkan semuanya “TOLEDO”: Tolol, Letoy, Bodoh. Sedangkan pemimpin ideal yang jujur, sederhana, pemberani, populer di media mainstream hanya ada dua nama, Jokowi dan Ahok, sebuah ironi.

Ini pendapat yang paling ekstrim sebagian umat Islam, “Saya tidak peduli mau gubernur itu Cina, Arab, India, pribumi, keturunan, muslim, Budha, Kristen, Islam liberal, sekuler! Yang penting bisa menyejahterakan rakyat Indonesia!”, sepintas pendapat ini ada benarnya namun justru di sinilah masalahnya, jika dia orang yang tidak tahu hukum agama, dia tidak akan peduli halal haram, uang-uang haram dari hasil judi yang dilegalkan, pajak pendapatan dari hotel-hotel tempat-tempat karaoke, mungkin materi bisa saja terpenuhi kesejahteraan warga dengan uang-uang haram, tapi bisa dipastikan warga kota yang demikian akan semakin jauh dari akhlak mulia, kesejahteraan yang penuh berkah, bukan kemajuan materi yang dimurkai Allah swt yang menjadi tujuan berdirinya NKRI. Komentar tersebut keluar dari umat Islam yang putus asa, lemah iman, tidak memiliki harapan dan cita-cita pendahulu-pendahulu pendiri negeri kita yang agung.

Jika demikian, kenapa Ahok masih dipertahankan dan dibela? Saya bukan pembenci Ahok, apalagi rasis, guru-guru kita mengajarkan yang menjadi pembeda itu bukan keturunan atau warna kulit tapi hati dan amal shalih, namun dari apa yang sudah dipertontonkan Ahok selama 2 tahun, Jakarta akan lebih baik tanpa Ahok, tidak harus menunggu sampai habis masa jabatan, lebih cepat lebih baik. Kami sudah lelah dengan isu-isu dan sepak terjang Ahok. Tak ada yang perlu dibela, tak ada yang bisa dipertahankan dari seorang Ahok. Biasakan dalam benak kita bahwa jabatan itu bisa datang dan pergi. Tanamkan ketika menerima jabatan, suatu saat dan kapan saja harus rela dan lapang dada untuk mundur jika masyarakat tidak merasa terwakili. Mungkin kita salah mengerti tentang seorang Ahok, atau mungkin tidak ada orang lain yang bisa memahami Ahok selain dirinya sendiri. Ahok memiliki sisi positif, meninggalkan kebaikan, iya tentu saja saya tidak meragukan itu. Keberanian Ahok membuat terobosan birokrasi, salah satu upaya positif yang harus diapresiasi. Nasionalisme Ahok sebagai anak bangsa yang berdidikasi untuk membangun Jakarta, kita harus hargai sebagai nilai positif. Tapi jika ditimbang, mudaratnya jauh lebih besar daripada maslahatnya.

Terakhir, puncak dari semua kontroversi yang menurut saya tidak akan berakhir sampai di sini, ada satu ucapan Ahok yang merefleksikan perilaku, sikap Ahok pada ajaran Islam (catat! sikap pada ajaran Islam, bukan sikap pada orang Islam) sebagaimana dikatakannya pada suatu kesempatan, “Ayat-ayat kitab suci harus tunduk pada ayat-ayat konstitusi!”. It says it all, kata-kata itu sudah “mengatakan” dan menjelaskan semua perilaku kontroversi Ahok. Kita semakin mengerti kenapa, kata-kata itu seperti sebuah visi atau skenario yang sedang dijalankan tanpa disadari Ahok, namun lidah tidak bisa menutupi apa yang ada di benak pikiran dan hati. Bagus, bagi saya kata-kata tadi membuat clear semuanya, tidak ada dusta di antara kita. Ahok sudah menyatakan dan mendeklarasikan sikapnya. Karakter Dinul Islam yang mengintervensi seluruh aspek kehidupan, maka Ahok secara tegas dan implisit akan menjauhkan, mengeliminir dan menghapus agama dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak ada tafsir lain dari kata-kata Ahok tersebut.

Mungkin saatnya kebersamaan kita dengan Ahok harus berakhir. Tokoh berani dan berkarakter seperti Ahok banyak tempat, panggung, jabatan dan posisi yang membutuhkan, dia akan sukses di manapun dia berada, tapi bukan sebagai Gubernur Jakarta. Wallahu a’lam.(usb/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (49 votes, average: 8,51 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pengelola Yayasan Al-Manaar, yayasan dawah dan bahasa arab dan Yayasan Mitra Insan Madani Bandung. Staf Bidang Kaderisasi DPD Kota Bandung. Terus menerus belajar dalam banyak hal dan minat, menyebarkan firah Islam dalam bentuk tulisan yang bisa diterima berbagai kalangan. Membaca dan menulis adalah proses belajar yang melibatkan mata, pikiran, hati dan imajinasi sekaligus. Suatu kebahagian tersendiri andai bisa menulis sebuah tulisan yang dibangun dengan argumentasi yang baik, mampu menggugah dan mencerahkan fikiran orang lain, memberikan inspirasi dan motivasi bagi pembaca. Terus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain.
  • abu syahdan

    Akibat kebodohan segelintir oknum dari umat Islam khususnya, terpedaya oleh sosok yang menurutnya pemberani dan tegas padahal ada motif ingin mengkerdilkan akidah umat Islam itu sendiri. Cerdaslah dalam bertindak dan menentukan keputusan apalagi kalau menyangkut kemaslahatan umat Islam khusunya.

  • Rizky Yanto

    Saat pemilukada DKI orang terlalu silau oleh popularitas Jokowi sehingga tak begitu memperdulikan siapa wakilnya.Juga tak ada yg menyangka Jokowi kemudian silau oleh kursi presiden sehingga meninggalkan mereka yg dulu sangat berharap padanya.Akhirnya warga DKI sekarang dibuat pusing oleh Ahok.

Lihat Juga

Penyebaran rudah Rusia yang membuat Amerika khawatir. (aljazeera)

AS: Rudal Rusia Ancaman Bagi Stabilitas Eropa