Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Dua Hati yang Mencintai Sunyi

Dua Hati yang Mencintai Sunyi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kawanimut)
Ilustrasi. (kawanimut)

dakwatuna.com Hanya aku yang merasakan.

Aku benci bertemu gerombolan lelaki dalam waktu yang sering. Aku benci berhubungan lepas dengan mereka, seolah mencerabut rasa sunyiku. Duniaku asing bagi mereka, seperti halnya mereka adalah asing dalam duniaku. Aku benci bercengkerama bebas dengan gerombolan lelaki, sebagaimana halnya aku benci tak memiliki teman perempuan. Bukan, jangan kau sangka aku kelainan, aku hanya diajarkan untuk selalu menjaga pergaulan. Aku menyisipkan benciku dalam ketus, dalam senyum terpaksa dan tanggapan kepura-puraanku. Ketika aku berhasil mengikis benci, datang perasaan mereka–gerombolan lelaki itu–menghujaniku dengan keromantisan palsu yang membuatku jijik. Aku telah memulihkan hati dengan menanggapi mereka secara biasa dan wajar, tapi mereka menyelundupkanku kembali ke dalam benci, atas perasaan mereka yang diumbar-umbar tanpa tahu malu. Aku kembali terjengkang dalam lumpur kebencian. Bukan aku tak senang jika disukai, tapi debaranku adalah tentang takutnya aku menjadi fitnah. Aku tidak ingin merusak, tidak ingin mengecewakan, apalagi membuat putus asa. Tidak. Jangan anggap aku berharap dunia ini tanpa lelaki. Aku tidak sejahat itu. Aku hanya memberi pagar panjang berduri untuk diriku sendiri, terhadap gerombolan asing yang hanya kukenal awalnya sebatas nama. Bisakah kalian cukup hanya menjinjing namaku saja? Aku ada bukan untuk diselami dalam-dalam. Tak kuikhlaskan suara tawaku, jeritanku, paniknya aku, atau semburat kebahagiaan yang sering refleks menyemaiku. Iya, aku ekspresif. Dan ke-ekspresif-anku, jika bisa, hanya kupersembahkan pada ia yang melebur masuk ke dalam jiwaku. Tenang saja, semua akan berjalan sewajarnya meski aku harus terperosok sementara ke dalam sepi yang tawar. Asalkan suci yang kukejar tak tergores kapur bernoda.

Jangan berharap apapun dariku. Berharaplah kepada Penciptaku. Sebab boleh jadi sekarang aku membenci kalian, dan di akhir senja aku mencintai salah satu dari kalianyang teguh mencintai kesucian dalam keindahan yang dijanjikan-Nya.

***

Hanya aku yang merasakan.

Aku jatuh kasihan sekaligus muak sedalam-dalamnya pada tawa yang berderai angkuh yang merajai hati teman-temanku. Tak hanya tawa, tapi juga senyum menggoda, lirikan mata yang mengguncang dada, suara yang dihaluskan, dan segala macam tingkah yang membuatku mesti merunduk dan tiba-tiba meneliti jalinan benang-benang yang mengerat di sepatuku. Keramaian yang asing ini mencekikku bulat-bulat. Aku ingin berlari tergesa, membanting pintu dan bersimpuh di atas karpet hangat kamarku. Memekikkan bahwa keramaian ini adalah dunia asing bagiku. Lalu lalang tawa panjang dari mulut-mulut mungil para perempuan itu, disambut nakal celetukan kawan-kawan lelakiku. Dan aku semakin mengkerut menyaksikan itu semua. Diamku tak mengisyaratkan aku bisu, tapi jauh dari itu, aku ingin bisu, tuli dan buta dari segala gejala asing yang me-neraka-kan hari sedemikian rupa ini. Aku selalu ingin memberontak dari berhadapan dengan hawa percampuran tak terhindarkan antara manusia lawan jenis yang tentu saja gaduh. Para perempuan itu seolah tak peduli padaku. Sungguh ketidakpedulian itu membuatku bisa sedikit bernapas lega. Awalnya mereka menganggapku aneh, kemudian menganggapku tak ada. Aku tidak peduli, asalkan hawa ceriwis mereka yang mestinya tak diumbar sembarangan itu tak menggangu hidupku. Jangan anggap aku jijik dengan perempuan, sungguh tidak, Demi Tuhan yang Maha Esa. Aku mencintai perempuan dengan segala indera yang kumiliki. Jika perempuan itu meliputi dirinya dengan malu yang indah. Malu yang mencakup keseluruhan. Meski sampai kini, aku tak jua menyaksikan perempuan yang menyelimuti dirinya dengan malu yang indah itu, entah di mana ia sang putri malu. Izinkan aku bersembunyi dalam derap kesucian yang kujaga. Adapun tentang sunyi, aku lebih mencintai sunyi yang hambar daripada keramaian yang mencakar.

***

Mereka bertemu dalam keramaian di suatu dingin yang beku.

Sama-sama mengerutkan kening dan menundukkan kepala. Meredam rasa benci yang sama, di tengah keramaian yang sama. Hanya sedetik ketika tiba-tiba mata yang mereka jaga itu berjumpa dalam satu titik kehangatan.

Ada yang berbeda.

Mereka yang sama dalam luapan menghiba yang mereka jeritkan kepada-Nya.

Beginilah cara Tuhan menjodohkan pikiran dan jiwa.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pelajar di Arab Community College, Jordan. Selalu berharap bisa berada di jejeran ahlullah.

Lihat Juga

Geliat Cinta Pejuang