Home / Berita / Nasional / Denny JA: Jokowi Terancam Menjadi Presiden Terlemah Dalam Sejarah Indonesia

Denny JA: Jokowi Terancam Menjadi Presiden Terlemah Dalam Sejarah Indonesia

 Joko Widodo.  (infonews)
Joko Widodo. (infonews)

dakwatuna.com – Jakarta.  Pengamat politik Denny JA mengingatkan Jokowi-JK untuk hati-hati dalam menjalankan roda pemerintahan selama lima tahun ke depan. Itu setelah posisi ketua DPR dan MPR direbut kubu Koalisi Merah Putih (KMP) yang notabene menjadi oposisi Jokowi-JK.

“1) Akhirnya Koalisi Merah Putih menang telak atas Koalisi Indonsia Hebat, 5;0, dgn terpilihnya ketua MPR Zulkifli Hasan,” katanya melalui akunTwitter, DennyJA_WORLD.

“2) Untuk pertama kali dalam sejarah, pemerintahan Indonesia terbelah. Eksekutif dan Legislatif dikuasai oleh koalisi partai yg berbeda.”

Menurut dia, kondisi yang terjadi di Indonesia sebenarnya mirip dengan situasi demokrasi di Amerika Serikat. Hanya saja, kultur politik di sini dan di negeri Paman Sam berbeda sekali.

“3) Di AS, misalnya, pemerintahan yg terbelah itu bisa baik karena kultur politiknya yang terbuka dan mengutamakan kepentingan publik.”

“4) Tapi kultur politik di Indonesia, masih didominasi oleh money politics dan ‘politik balas dendam’.”

Pendiri Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) itu menyebut posisi Jokowi sedang dalam bahaya.

“5) Jokowi terancam menjadi presiden terlemah dalam sejarah Indonesia. 3 hal yg membuatnya terlemah.”

“6) Satu, Jokowi tidak mengontrol legislatif. Sebaliknya legislatif sangat beroposisi padanya.

7) Dua, Jokowi tidak mengontrol satupun partai politik. PDIP didominasi oleh Megawati, bukan Jokowi.

8) Tiga, Jokowi bahkan di pemilu pilpres hanya unggul satu digit dibandingkan Prabowo. Berbeda misalnya dgn SBY di 2009, 2004.”

Karena itu, kalau Jokowi ingin menaikkan harga BBM, saran dia, maka dapat dipastikan popularitasnya bakal melorot tajam.

“9) Dengan naiknya BBM nanti, sangat mungkin di opini publikpun, Jokowi akan kalah karena popularitasnya merosot.

10) Saatnya Jokowi harus merangkul sebanyak mungkin kekuatan civil society, opinion maker untuk membantu kelemahannya.”

(ROL/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Wakaf Sebagai Solusi Pengembangan Infrastruktur di Indonesia