Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sebuah Harapan untuk Anak Negeri

Sebuah Harapan untuk Anak Negeri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Anak-anak (Yudi/Primair)
Ilustrasi – Anak-anak (Yudi/Primair)

dakwatuna.com Pernah terbesit sebuah pertanyaan, “Saat fasilitas mencari ilmu tersedia di depan mata, masih pantaskah kami malas dalam belajar, sementara saudara-saudara kami di sana berjuang bertaruh nyawa hanya untuk pergi ke sekolah?”

Kondisi anak-anak negeri saat ini menjadi sebuah kenyataan yang begitu memprihatinkan. Sebagian dari mereka tak lagi mempunyai semangat belajar. Anak-anak yang pergi ke sekolah pun tidak memahami betul apa tujuan mereka ke sekolah. Kecintaan mereka kepada ilmu telah memudar. Hal ini disebabkan kurangnya penanaman pemahaman kepada anak tentang tujuan mencari ilmu yang sebenarnya. Sebagian sekolah hanya membuat ilmu pengetahuan mereka bertambah tanpa diimbangi dengan bertambah baiknya moral dan perilaku mereka. Sebagai contoh banyak anak-anak di bawah umur yang terlibat dalam kasus pornografi dan/atau pornoaksi. Ini sungguh peristiwa yang mengiris hati. Belum lagi jika kita lirik anak-anak di perkotaan yang tidak sekolah karena alasan tidak adanya biaya. Keadaan mereka jauh memprihatinkan. Mereka hidup di sebuah dunia yang rawan kriminalitas. Tak jarang mereka terpaksa melakukan perbuatan yang tidak dapat dibenarkan hanya untuk mengobati rasa lapar. Bangku sekolah tak menyentuh mereka. Ilmu agama pun mereka tak punya. Semua itu memang bukan sepenuhnya salah mereka. Keadaan dan lingkungan yang memaksa mereka menjadi seperti itu.

Fakta lain yang juga membuat prihatin adalah masih banyak anak-anak di daerah terpencil yang kesulitan untuk menuntut ilmu. Jalan yang rusak, jauhnya jarak, bahkan tak jarang dari mereka yang harus bertaruh nyawa menyebrangi sungai yang berarus cukup deras, hanya untuk sampai ke sekolah. Tak hanya jalan menuju sekolah yang menjadi hambatan, kurang mendukungnya fasilitas sekolah juga makin memperburuk keadaan. Kondisi kelas yang memprihatinkan, terbatasnya buku-buku pelajaran, kurangnya sarana pendukung, seperti internet tak sampai kepada mereka, bahkan hal paling utama dan mendasar juga tidak terpenuhi, yaitu jumlah guru yang mengajar di sekolah tersebut. Tak jarang di satu Sekolah Dasar (SD) di desa terpencil hanya terdapat satu atau dua guru saja.

Kenyataan-kenyataan tersebut membuatku berpikir bahwa masalah ini harus segera terselesaikan. Sebuah harapan besar pun tumbuh di dalam hati ini. Harapan tentang meningkatnya kualitas pendidikan di Negara Indonesia. Berharap agar pemerintah benar-benar serius memperbaiki sistem pendidikan saat ini. Meratakan pendidikan ke seluruh pelosok negeri agar semua anak dapat merasakan indahnya menuntut ilmu. Tak dapat kita pungkiri bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Apabila sebuah negara telah menjamin terpenuhinya pendidikan di seluruh pelosok negerinya, maka sebenarnya negara tersebut telah memiliki “investasi” besar, yakni anak-anak yang terpelajar. Karena pada kenyataannya mereka yang akan meneruskan perjuangan serta kelak menjadi pemimpin di negeri tersebut.

Di samping terpenuhinya fasilitas pendidikan di seluruh pelosok negeri, hal selanjutnya yang tak kalah penting adalah tersedianya para pengajar dan pendidik yang berkualitas. Guru/pengajar yang berkualitas adalah guru yang tidak hanya mengajarkan suatu ilmu kepada muridnya (transfer ilmu), tetapi juga dapat mendidik murid-murid dalam akhlak dan perilakunya (transfer karakter). Para guru/pengajar harus mendidik moral anak menjadi lebih baik. Dengan demikian, tak hanya nilai tinggi dalam akademik yang bisa mereka raih, tetapi juga akhlak yang mulia. Guru/pengajar harus dapat menanamkan kecintaan terhadap ilmu kepada mereka sehingga tujuan mereka sekolah tak hanya sekadar mendapat ijazah lalu bisa bekerja nantinya, tetapi lebih dari itu. Mereka harus memahami tujuan mereka menuntut ilmu, yakni mendapat ridha Tuhan dan memberi manfaat untuk orang lain.

Harapan besar ini tentu bukanlah sebuah mimpi yang hanya akan menjadi angan-angan belaka. Masyarakat dan pemerintah perlu bekerja sama untuk dapat mencapai cita-cita besar ini. Pemerintah harus menyediakan anggaran yang cukup guna terpenuhinya fasilitas pendidikan di seluruh pelosok negeri. Mahasiswa sebagai civitas akademika juga dapat berkontribusi dengan menyampaikan ide/gagasan kepada pemerintah atau mengadakan sebuah gerakan kampus yang bergerak di bidang sosial dengan program mengajar di desa terpencil. Tak lupa masyarakat juga harus memberikan dukungannya dengan cara memberikan pemahaman tentang pentingnya menuntut ilmu kepada anak-anak mereka. Dengan kerja sama yang sinergis seperti ini, tentu bukan hal yang mustahil bahwa negara ini dapat menjadi “Indonesia Cerdas dan Berakhlak Mulia”.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Suci Wulandari
Suci Wulandari, mahasiswa Teknik Fisika 2013 Universitas Gadjah Mada. Peserta Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis Nurul Fikri (PPSDMS NF) Regional 3 Yogyakarta angkatan 7.

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial