Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jelajah Sayap-Sayap Elang Lebaran Qurban di Rantau Utsmani; Sebuah Narasi

Jelajah Sayap-Sayap Elang Lebaran Qurban di Rantau Utsmani; Sebuah Narasi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Evi Marlina)
Ilustrasi. (Evi Marlina)

Jadilah seperti elang, kepak dan tatapnya tajam, kuat, tinggi dan mencengkeram, menembus tingginya lorong-lorong penjuru langit

dakwatuna.comMenjalani hari raya “berlebaran” memiliki nilai tersendiri di setiap hati-hati para umat Islam. Duduk di tengah bersama keluarga dan menunaikan shalat Idul adha secara berjamaah bersama orang-orang terdekat adalah nikmat yang demikian besar. Namun tidak demikian dengan sebagian lainnya, khususnya bagi para pelajar yang tengah menuntut ilmu di negeri rantau. Dan betapa akan bertambah-tambah kali lipat nikmat syukur jika Allah memberi kesempatan merayakan kedekatan secara spesial dengan bercakap-cakap secara langsung bersama Allah sang Maha Pencipta di tanah suci-Nya, Baitullah. Meski demikian, ada banyak cara bagaimana kami merayakan dan mensyukuri setiap detik hari raya, melewati waktu meski harus menahan rindu pada keluarga dan tanah air.

***

Matahari belum akan genap tenggelam. Bahkan hari masih panas dengan sempurna. Saya terburu-buru meninggalkan ruang perpustakaan di lantai tiga yang berliku tinggi tangganya. Sepi sekali, wajar saja besok sudah masuk lebaran Idul Adha. “Jadi mana ada yang ke kampus.” Sesak betul rasanya menghitung berat langkah dari gerbang depan mencapai gedung perpustakaan yang lokasinya lumayan jauh. Jalanan sepi, hanya ada suara daun menguning yang berjatuhan dan duduk rapi bersenda gurau di sekitar pepohonan. Jika tidak mengingat harus mengembalikan dan meminjam buku tentu alangkah lebih baiknya memilih menghabiskan waktu dengan mengetik cerpen, browsing atau membaca buku-buku materi psikologi dı sudut ruang belajar di kamar asrama.

***

“iyi günler hocam.” “selamat siang guru.”

Sepasang suara menahan langkah kaki hujan akhir musim panas. Segaris senyum wajah remaja berdiri tepat hanya berjarak 3 langkah di depan kelopak mata. Sejenak saya terdiam, mematung. “What…hocam?” bisik-bisik tanya kecil suara dalam hati. Meski akhirnya semburat senyum saya hadiahkan pada gadis remaja 20 tahunan yang rambutnya bergelombang berwarna pirang. Seorang mahasiswi METU (Medle East Technical University). “iyi günler.” Jawab saya singkat dengan sepotong senyum sonbahar, senyum musim fall terindah yang saya miliki siang itu.

Sepanjang jalan menekuni langkah otak saya tidak berhenti berpikir, senyum-senyum sendiri. “Memang wajah dan penampilan saya sudah mirip guru Turki? Apa barangkali sudah mirip wajah profesor Turki kali yah sampai dikira hocam begitu, hoho.” Saya batuk-batuk kecil menghibur jalanan yang sepi seorang diri di sepanjang jalan menyusuri trotoar menuju perpustakaan.

03 Oktober 2014, meski kata penanggalan dan teman-teman maya di facebook itu hari kelahiran saya namun tetap saja hari itu saya harus menghabiskan waktu ke perpustakaan seorang diri. Mengangkat kantong-kantong besar berisi buku-buku dengan ketebalan sebesar dan seberat “gedebok pisang.” Melupakan dan merelakan sejenak hingar bingar doa “Happy Milad” yang bertebaran di dinding FB dan whatsapp.

***

Jum’at, 03 Oktober 2014.

Pukul 13.00 Turki, saya memutuskan untuk segera mengakhiri pencarian buku-buku. Segera shalat di mushalla kampus dan bersiap untuk menuju ke sebuah perkampungan yang berada di tepi kota Ankara. Temelli, sebuah perkampungan dengan lahan perkebunan gandum yang luasnya berhektar-hektar. Perkampungan yang memiliki mesjid di sisi lereng bukit dengan sisa-sisa reruntuhan rumah akibat bencana bah yang masih terlihat jelas batu-bata reruntuhannya—rumah perkampungan rakyat Turki masa lalu.

Perkampungan Temelli letaknya tidak jauh dari pusat kota Ankara, lebih pasnya tidak cukup jauh dari asrama saya. Meski untuk sampai ke perkampungan tersebut membutuhkan jarak dan waktu tempuh 1-2 jam perjalanan. Terlebih jika harus menempuhnya dengan menggunakan kereta dan melanjutkan dengan bis kota, plus waktu menunggu bis. Bisa cukup waktu untuk melepas penat dengan tidur nyenyak beberapa menit.

Namun demi mengingat sebulan yang lalu saya sudah berjanji akan merayakan hari raya Qurban di rumah keluarga angkat Turki —meski sesungguhnya tugas perkuliahan sudah mulai cukup padat— baiklah, dengan gembira ria sore itu saya memacu langkah menuju perkampungan ke rumah keluarga Turki yang saya maksud bersama 3 orang adik tingkat. Kami menembus lorong-lorong bawah tanah dengan mengendarai kereta dan melanjutkan perjalanan dengan bis yang padat antri. Sempurna! Siang dengan matahari terik namun berhawa dingin membuat kulit menjadi kering dan pecah-pecah. Udara pancaroba pergantian musim dari panas menuju dingin seperti ini membuat ketahanan tubuh sering ikut serta menggalau sakit, sulit diajak beradaptasi.

***

Karena kelelahan perjalanan dan tertidur selama di bis saya tidak menghiraukan handphone yang ternyata berdering berkali-kali, panggilan dari keluarga yang akan kami kunjungi. Alhamdulillah, Kami sampai di Temelli pukul 17:30 Turki. Sepasang keluarga menyambut kedatangan kami berempat, senyum keramahan dan hangat memancar dari wajah—wajah mereka.

Petang itu kami berpisah tinggal di rumah masing-masing keluarga angkat kami. Saya dan satu orang adik tingkat tinggal di rumah Anne Kismet (Seorang Ibu Turki), sementara dua orang lainnya tinggal di rumah Baba hoca (seorang guru yang sudah pensiun), saudara dari Anne Kismet. Rumah Baba hoca tidak jauh dari rumah keluarga tempat saya tinggal. Hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk berjalan kaki ke rumah mereka.

Gelap turun perlahan mengintai lorong-lorong langit Turki. Saya menyempatkan ikut serta membantu Baba Ghofur —suami Anne Kismet— yang tengah menggembalakan kambing-kambing di bukit, pada sebuah tanah lapang sisa panen perkebunan gandum. Rumput mulai mengering, sedikit-sedikit saja yang tumbuh di sela—sela rumput yang berwarna kuning kering, tidak hijau penuh seperti rumput di tanah air. Meski demikian anehnya kambing-kambing tetap bertubuh besar dan gemuk-gemuk penuh dagingnya.

Terlihat sekali Baba Ghofur sangat terlatih menghalau dan membuat kambing-kambing berbaris rapi memanjang dan menurut. Sementara kami sibuk berjingkat-jingkat menghindari rumput duri yang menempel di rok atau kaus kaki. Memperhatikan dan menebak nama-nama gulma yang tidak kami jumpai di tanah air. Hingga gelap petang datang sempurna, kambing-kambing sudah siap di dalam kandang. Beberapa dari mereka akan dipersembahkan sebagai hewan Qurban. Baba Ghofur bilang pada kami, bahwa dua buah ekor kambing akan dipotong untuk Qurban esok hari dan 2 ekor akan dipotong untuk keluarga. “Oh Masha Allah,” tentu saja saya terkejut mendengarnya. Itu jumlah yang sangat banyak sekali, menurut ukuran saya.

***

Perkampungan Temelli gelap sempurna. Malam Idul Adha dı tengah perkampungan yang jauh dari suara mobil-mobil kota Ankara yang riuh padat. Tidak ada suara takbir seperti di tanah air. Ada yang kurang rasanya. Biasa di Indonesia malam-malam seperti ini kampung-kampung akan penuh suara takbir dari masjid-masjid dan mushalla tidak lupa pula suara petasan dari anak-anak desa. Penuhlah malam itu kami menikmati channel tv yang memutar siaran langsung prosesi aktivitas di tanah suci Mekkah. Pikiranku jauh terbang melayang, membayangkan bagaimana rasanya turut serta berada di antara milyaran manusia.

“Coba kalian perhatikan, mungkin ada terlihat Jamaah Indonesia di sana. Saya bisa mengenali wajah-wajah Indonesia dengan baik.“ Suara Anne dipenuhi kegembiraan. Meminta kami mengamati siaran langsung dan memastikan bahwa kami juga melihat jamaah haji Indonesia dari channel itu.

“Jamaah Haji İndonesia betapa baiknya mereka.” Suara Anne memulai percakapan. Kami menyimak. “Dulu ketika berhaji saya mau duduk dan tidak mendapat tempat, di sana banyak jamaah dari beberapa negara. Ada Afghanistan, Arab dan banyak lainnya. Tapi mereka tidak membagikan tempat duduk bagi saya. Namun ketika jamaah haji Indonesia melihat saya tidak mendapat tempat duduk mereka berlomba-lomba memberikan dan berbagi tempat duduk di lantai, meski mereka pun saling berhimpitan. Saya sungguh terharu sekali.”

Malam beranjak kian petang dalam sunyi musim gugur. Tidak ada kanvas suara petikan deru mobil. Di tambah kultur malam lebaran di Turki tidak sama dengan di Indonesia. Tidak ada takbir ria sebagaimana di tanah air. Benar-benar hening dan sunyi. Saya menekuni dengan teliti apa yang diucapkan oleh Anne. Mungkin itulah sebabnya mereka menjadi demikian sayang pada kami, putra-putri Indonesia. Sungguh Allah Maha Pemberi Rahmat dan kasih sayang.

***

Sabtu, 04 Oktober 2014.

Pagi turun memenuhi perkampungan yang hening. Kicau burung ladang gandum memenuhi langit hari kebesaran. Perkampungan mulai penuh satu dua oleh mobil-mobil para jamaah yang berdatangan guna melaksanakan ibadah shalat Idul Adha di Masjid yang terletak di sisi lereng bukit Temelli. Kebanyakan dari jamaah yang datang adalah warga Temelli yang tengah pulang berlibur. Dan para jamaah shalat adalah para kaum lelaki, sementara kaum perempuan melaksanakan shalat di rumah masing-masing. Namun karena kami menyampaikan bahwa di Indonesia kami terbiasa shalat berjamaah di saat Idul Adha, baba Ghofur pun menyetujui membawa kami shalat berjamaah dengan menyediakan tempat shalat khusus bagi jamaah perempuan. Pagi itu kami shalat berjamaah Idul Adha bersama beberapa jamaah perempuan keluarga Turki. Demikian keluarga ini menghormati cara kami beribadah.

Dalam khutbah shalat İdul Adha terdapat pesan penting yang diucapkan 3 kali berulang-ulang oleh sang imam pemberi khutbah. Pesan yang membuat pikiran saya terbang teringat tanah air “Jika dalam suatu negeri atau tempat banyak yang berkurban, maka tidak akan ada lagi perang.” Kalimat ini menghentak lamunan saya yang larut mencoba memahami makna yang disampaikan oleh sang pemberi khutbah, diulang sebanyak tiga kali. Mengingatkan pada kisah masa kekhalifahan Umar, di mana tidak ada lagi rakyat yang berstatus sebagi penerima zakat. “Jika dalam suatu negeri atau tempat banyak yang berkurban, maka tidak akan ada lagi perang.” Demikian masyarakat Turki meyakini kekuatan berkurban.

Serampung shalat, jamaah bersalaman dan duduk membentuk lingkaran dengan tertib. Kemudian seorang petugas datang membagikan kotak berisi permen, ini adalah bagian dari tradisi masyarakat Turki di saat lebaran. Mereka biasa membagikan permen atau semacam manisan khas Turki kepada sanak keluarga. Setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing. Ternyata proses penyembelihan hewan Qurban dilaksanakan di rumah, beberapa ekor diserahkan kepada petugas Qurban dan beberapa ekor disembelih di rumah dan dibagikan kepada keluarga, para guru dan imam, serta tetangga sebagai bentuk kasih sayang mereka. Siang itu saya menyaksikan bagaimana masyarakat Turki berlomba-lomba memotong hewan Qurban di rumah masing-masing. Mulai dari seekor kambing, dua ekor, empat ekor hingga seekor kerbau di rumah mereka. Masha Allah. Sementara anak-anak kecil berdatangan ke rumah, ramai sekali. Sang pemilik rumah membagi-bagikan permen. Demikian unik sekali bagaimana cara mereka merayakan dan memaknai lebaran İdul Adha.

Hingga malam hari ramai keluarga besar saling berkunjung. Desa menjadi padat dan ramai. Makanan dan manisan Turki menjadi menu utama. Kami berkesempatan mengenalkan menu sup Indonesia, meski memasaknya dengan penuh cemas, khawatir tidak enak rasanya. İtu adalah malam yang penuh, tamu ramai sekali saling berkunjung. Kami membantu menyiapkan hidangan untuk keluarga yang saling berdatangan. Saling berbagi kisah bagaimana berlebaran haji di tanah air yang dipenuhi nuansa kesederhanaan. Terobati pulalah kerinduan kami pada tanah air. Hati kami menjadi gembira. Teringat pula pada pesan sang gurunda İmam besar, “Pergilah (merantau) dengan penuh keyakinan, niscaya akan engkau temui lima kegunaan, yaitu ılmu pengetahuan, adab, pendapatan, menghilangkan kesedihan, mengagungkan jiwa, dan persahabatan.” (Imam Syafi’i).

Sungguh, betapa Allah Maha mendekatkan hati-hati, mempertemukan kami dengan keluarga-keluarga baru, meski sebelumnya belum pernah berjumpa, terpisah oleh jarak, ruang dan tidak saling mengenal satu sama lain, meneguhkan keberanian dalam hati-hati kami dalam menuntut ilmu. Demikianlah Allah pastikan dalam janji-Nya “…dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.” (Q.S. Al-Hujarat: 13). Jadilah seperti elang, kepak dan tatapnya tajam, kuat, tinggi dan mencengkeram, menembus tingginya lorong-lorong penjuru langit.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alumni Departemen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Jambi. Menekuni bidang konseling, parenting dan education khususnya psychology anak dan remaja. Founder bidang pemberdayaan masyarakat dan entrepreneurship Suku Anak Dalam Jambi. Menghabiskan waktu dengan menulis, membaca, belajar, musik, photography, bahasa dan travelling. Saat ini tercatat sebagai pengurus pusat MITI Mahasiswa [Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia] Hubungan Luar Negeri dan pengurus Hubungan Masyarakat Lembaga Kajian Masyarakat Indonesia Turki. Inisiator dari FLP Turkey ini juga tercatat sebagai sekretaris umum FLP wilayah Turki yang saat ini tercatat sebagai Master Student Education of Psychology Ankara Universitesi, Turkey.

Lihat Juga

Erdogan Kembali Kecam As-Sisi, Hubungan Mesir-Turki Kian Menegang