Home / Berita / Opini / Bukti Kemenangan KMP

Bukti Kemenangan KMP

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ketua-Ketua Partai Pendukung Koalisi Merah Putih (KMP).  (asatunews.com)
Ketua-Ketua Partai Pendukung Koalisi Merah Putih (KMP). (asatunews.com)

dakwatuna.comBerpikir secara realistis akan mengantarkan kita kepada sebuah pemikiran (apa yang membuat pak Joko Widodo menang) jikalau orang yang mewakili, mengusung serta mengkampanyekannya tanpa henti menelan kekalahan demi kekalahan di parlemen maka suara rakyat yang mana yang memilih mereka. Ulasan ini bukan ingin membuka luka lama atau masalah lama yang sama-sama kita saksikan di MK akan tetapi ingin mengajak kita beripikir siapa sebenarnya yang dipilih rakyat Indonesia.

Dua peristiwa besar yang baru saja kita saksikan yaitu pemilihan ketua DPR dan MPR adalah representatif pilihan rakyat karena wakil-wakil rakyat itu dipilih langsung oleh rakyat Indonesia yang sudah mempunyai hak untuk menentukan pilihan maka suara rakyat yang mana yang mengantarkan pak Joko Widodo menjadi presiden Indonesia ke 7 jikalau para pengusungnya yang dipilih rakyat menelan kekalahan.

Secara logika kita bisa menghitung suara yang mewakali pak Jokowi dan suara yang mewakili pak Prabowo Subianto melalui voting yang dilakukan tadi pagi untuk memilih ketua MPR periode 2014-2019, jikalau yang mendukung KIH hanya 330 orang dan yang mendukung KMP 347 maka semua orang akan mengatakan secara matematis bahwa dalam kalkulasi sebenarnya pak Prabowo Subianto adalah pemilihan murni rakyat Indonesia.

Kemenangan KMP memberikan nuansa positif kepada rakyat Indonesia karena tidak akan terjadi persekongkolan eksekutif dan legislatif dalam merampas hak rakyat Indonesia karena akan ada pengawasan. Ini semua menjadi harapan baru Indonesia karena cermin politik Indonesia telah berubah dari kebiasaan lama menuju tradisi baru. Menurut saya perseteruan antara KIH dengan KMP sama sekali tidak merugikan rakyat Indonesia akan tetapi malah sebaliknya. Adapun golongan yang selalu berpandangan negatif akan perseteruan ini dan selalu mengatakan bahwa hak rakyat terampas maka pertanyaan yang mesti mereka jawab adalah, hak rakyat yang mana yang telah dirampas? Karena dalam lingkup kompetisi suasana sekarang lebih bermanfaat kepada rakyat, analoginya adalah jikalau suatu pekerjaan atau permainan tidak diwarnai dengan kompetisi dan persaingan maka pekerjaan dan pertandingan tersebut akan memberikan suguhan yang membosankan tidak menghibur dan tidak mengasyikkan.

Ada harapan baru dalam dunia perpolitikan Indonesia jikalau hal yang saat ini terjadi berlanjut dan berkembang ke arah yang lebih urgen dan kita sebagai rakyat bangga Indonesia bangga dengan suguhan yang dipertontonkan para wakil rakyat kita.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Alumni Ma'had Ali An-Nuaimy Jakarta angkatan ke3. Guru bahasa Arab di Pondok Pesanteren Khalid bin Walid Rokan Hulu Riau.

Lihat Juga

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. (harianterbit.com)

Siap Berhadapan dengan Koalisi Gemuk, Ahok: Kumpulin Semua Partai, Gue Gak Takut