Sakit

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
darah mujahid (ilustrasi).  (www.dailymotion.com)
darah mujahid (ilustrasi). (www.dailymotion.com)

dakwatuna.com – 

 

Rasa sakit adalah teman
Bahkan sekutu

Jika pagi kau temui bahagia
Pasti ratusan malam pernah singgah
Dan ceritakan tentang sakit
Ada satu malam
Bercerita tentang rasa sakit
Perih dan pedih
Ada muka masam
Penuh kebencian membuat pisau bermata dua
Ia ingin kekejamannya dimalam itu
Menjadi perbincangan barat dan timur
Ia lumuri pisau bermata dua dengan racun
Kebengisannya ingin pastikan rasa sakit terdalam
Sang lawan mati karena kekuatan tusukan pisau
Atau karena racun
Tiga tusukan bersarang
Di tubuh pria penggengam sejarah
Di dada
Di perut
Dan yang terakhir dibawah pusar
Rintihan luka menggema
Ia roboh
Masih sempat ia ulang-ulang firman Allah
“Dan ketentuan Allah adalah takdir yang pasti terjadi” ( al-Ahzab:38)
Abdurahman bina Auf r.a.
Maju menjadi imam untuk menggantikan beliau
Untuk menyelesaikan salat berjamaah
Ada tiga belas orang terkena pisau pada malam itu
Tujuh diantaranya berpisah dengan dunia seketika itu juga
Masih ingatkah dengan yang kuucapkan?
“Rasa sakit adalah teman, bahkan sekutu”
Baik…kulanjutkan kisahnya!
Abdullah bin Umar anak amirul mukminin
Berkata,”Demi Allah, aku mencoba menutupi luka itu dengan jariku, namun darah terus mengalir. Hingga akhirnya kami ikat lukanya dengan sorban.”
Demikianlah Umar r.a. menunaikan salat subuhnya

Umar bin Khathab: Siapa yang berusaha membunuhku?
Sahabat: Budak majusi, beberapa orang di serangnya, lalu ia bunuh diri.
Umar bin Khathab: Segala puji bagi Allah yang menjadikan pembunuhku tidak dapat memusuhiku dihadapan Allah dengan satu sujud pun.

Tiba-tiba datang seorang pemuda dan berkata; “Berbahagialah wahai amirul mukminin. kau menjadi sahabat Rosululloh, kemudian menjadi khalifah yang adil, lalu syahid.”
Umar menjawab: “Aku merasa cukup senang ketika keluar dari dunia, dalam keadaan telah melaksanakan semua tugas. Tak perlu tambahan pujian bagiku.”

Umar berujar kembali: “Celakalah Umar, celakalah ibunya. Jika Allah tidak mengampuninya.”
Tubuh Umar semakin lemah
Sakaratul maut berada disisinya
Umar wafat dan dikubur disamping dua sahabat tercinta
(Rosululloh saw. dan Abu Bakar r.a.)

Rasa sakit adalah teman, bahkan sekutu
Bahkan ketika kematian menjemput
Rasa sakit itu masih dampingi
Saking sakitnya
Rosululloh meminta rasa sakit saat sakaratul maut
Ditumpahkan pada dirinya saja
Umatnya tak perlu merasakan sakit yang teramat sangat ini
Begitu pinta idola dunia akherat
Rosululloh saw.

(joy/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Tri Joyo Adi
Memberi tanpa kehilangan, dengan berbagi makin membuat bertambah...

Lihat Juga

Ilustrasi. (Mukri Nasution)

“Ternyata Kamu Muslim, Ya?” Pertanyaan Paling Menyakitkan Bagi Muslim di Papua

Organization