Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Gurat Kerinduan di Wajahmu, Ibu

Gurat Kerinduan di Wajahmu, Ibu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comSungguh tak pernah habis tinta dan kata, jika kita terus membahas sosok yang satu itu. Ia yang mulai beruban lagi mulai merenta namun penuh sikap lembut nan perhatian. Terkadang bagi beberapa orang, ia pun hadir dalam sosok perempuan tua cerewet nan penuh petuah panjang berlapiskan logat perkataan orang tua tempo doeloe. Namun di balik panjangnya kata-kata yang tertuang darinya, ada saja hal menarik yang senantiasa membuat hati gemas sehingga kedua tangan dapat tiba-tiba memeluknya erat penuh mesra.

Dialah Ibu. Sosok yang kala sepertiga malam tiba sangat syahdu dan pandai melafalkan doa-doa selepas shalat. Semuanya terluncur dari hati tanpa harap balas budi. Sangat harapkan kebaikan bagi anak-anaknya. Maka siapapun pasti, sangat harapkan doa yang langsung terluncur dari lisannya. Tapi yang tentu paling dinanti dari sosok itu adalah bahwa hanya ialah yang mampu membuat kita tenang saat pijakan kaki terhenti dan mata tertuju padanya, kala rasa kembali untuk menarik diri pulang menuju persinggahanya hadir. Membasahi segenap rindu yang selama ini terpendam meski sederai air mata mengiba. Tertumpahkan karena adanya sosok istimewa itu.

Dialah Ibu. Boleh jadi kala dirimu jauh darinya. Kala kesibukan mulai menyita waktu guna menata segala mimpi dan mulai mengejar segala yang diharapkan, cita-cita dan cinta, sosok itu sebenanrnya tengah menengadahkan tangan dan hatinya hanya untukmu. Mendoakan segala kebaikan pada Dzat Ar-Rahman dan amat mengharapkan dirimu sempurna dan bahagia sebagaimana yang kau damba. Ia bahagia saat dirimu bahagia, dan ia sedih saat dirimu sedih.

Dialah Ibu. Aku rasa dirimu tahu benar bahwa hanya dialah yang sejak kecil mengasuh dan membimbingmu. Sejak terlahir ke atas muka bumi ini dengan susah payah dan segala rasa sakit serta peluh darah. Kemudian seiring waktu tumbuh dan berkembang, dirimu menjadi sosok muda energik berpendidikan penuh pesona. Hingga akhirnya kemandirian itupun terasa dan batas kemampuan untuk melangkah tak jadi halangan guna mencapai segalanya. Ini menjadi penting untuk terus dikenang. Agar jangan sampai terlupa bahwa segala kebaikan yang ada, bermula dari sosok bertangan renta yang kini semakin menua.

Rasulullahpun dalam sebuah percakapan menyebut kata ibu sampai tiga kali. “ibumu, ibumu, ibumu” untuk menyadarkan kita bahwasannya amat penting sekali memberikan perhatian dan kasih sayang lebih di sisa usianya. Setiap detik pasti menjadi berharga bersamanya karena perlu disadari, esok atau lusa boleh jadi wajah itu tak mampu lagi kau tatap seperti biasa untuk selama-lamanya. Sungguh hanya akan ada kesedihan dan penyesalan manakala perhatian yang seharusnya kau berikan, retas sudah tak wujud sebab ia berpulang keharibaan Allah SWT.

Semakin menua, merenta, melemah dan kekuatan tubuhnya tak secekat kala ia muda. Ibu, di balik segala keriput yang mulai nampak di wajahnya. Gurat-gurat yang menandakan bahwa usianya semakin tua, ada segenggam harapan dan kerinduan yang ia simpan. Ia rindu kala masa kecilmu penuh kekanak-kanakan. Ia rindu kala masa kecilmu penuh kedekatan. Ia rindu kala masa kecilmu sangat ingin diperhatikan. Ia sangat merindukan kehadiran buah hatinya ada senantiasa dekat di sisinya. Tak berharap jauh dari itu. Namun kini seiring waktu panjang yang mungkin terhabiskan di luar, boleh jadi, hanya ada kerinduan yang terus ia pendam menanti kedatanganmu duhai anak-anaknya yang semakin jauh.

Kemudian untukmu yang jauh dari ibu, kala dirimu selesai membaca tulisan ini hubungilah ia di sana dan tanyakanlah keadaannya. Karena boleh jadi di sisa masa tuanya yang entah sampai kapan kan tersisa, yang hadir dari salah satu garis keriput di wajahnya adalah gurat kerinduan yang selama ini ia pendam dan kemudian muncul karena besarnya kasih sayang ibu padamu. Ia yang senantiasa mengharapkanmu amat bahagia meskipun mungkin, ia sangat tak harap balas kasih darimu karena rasa cintanya jauh melebihi rasa cintamu padanya. Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Rabbighfirlii waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayanii shagira. Ampuni dosa hamba-Mu ini ya Rabb kala baktiku selama ini belum mampu membuatnya bahagia.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Azies Rachman, S.E.I
Seorang hamba Allah yang sangat ingin menginjakan kaki di syurga tertinggi. S2 Magister Ekonomi Islam Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Program Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) DDII-BAZNAS. Sharia Financial Planner.

Lihat Juga

Kontributor dakwatuna.com dr. Rosaria Indah (tengah). (ist)

7 Tips Membangun Hubungan Mesra Antara Ibu dan Putri Remaja