Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Islam, Antara Impian dan Harapan

Islam, Antara Impian dan Harapan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comMerekahnya cercah cahaya Islam di atas bumi persada bukanlah sebuah rekayasa ataupun kebetulan semata, ia datang sebagai solusi atas keluh kesahnya kehidupan hingga akhir zaman, meskipun banyak yang menentang kebenarannya hingga sekarang. Islam datang melalui lisan mulia sang aktor terbaik sepanjang zaman, yaitu baginda Habibil Mustafa Muhammad ibnu Abdillah yang merupakan mega super suri tauladan yang dahsyat bagi segenap umat dalam segala sektor kehidupan, meskipun hingga sekarang masih banyak yang menebarkan rekayasa sesat tentang baginda rasul guna melumpuhkan cinta umat kepada sang baginda, bahkan mereka mencari seribu cara dan sejuta tipu daya serta menebarkan fitnah hingga kepada sistem adu domba sesama umat Islam untuk mencabut ruh Islam dari jasad Muslim, kalau sudah ruh Islam tercabut dari setiap insan maka akan tiba saatnya nanti di mana mereka akan tersenyum melihat keberadaan Islam laksana tubuh tanpa jiwa, hanya sebagai bangkai yang tanpa daya dan upaya.

Islam lahir dengan perjuangan, Islam berkembang dengan tetesan keringat, Islam menjulang tinggi dengan tetesan darah para pasukan yang mencintai kematian seperti halnya banyak orang mencintai kehidupan. Tentu sebuah fenomena yang sangat memilukan bila pada akhirnya Islam ini ibarat buih di lautan yang terombang ambing dibawa oleh ombak dan pada akhirnya dihempaskan ke tepian pantai tanpa punya arti dan makna.

Baginda Rasul pernah bersabda: ”Pada suatu saat nanti, akan datang di tengah-tengah kamu wahai umat Islam, di mana orang-orang lain di sekeliling kamu bersatu mengerubungimu, seperti bersatunya orang mengerubungi hidangan di atas meja makan, kemudian sahabat bertanya, “apa jumlah kami sedikit ketika itu ya Rasulullah,” ? maka rasul menjawab: ” tidak!, jumlah kamu ketika itu mayoritas bukan minoritas, akan tetapi kamu seperti buih yang terombang ambing di lautan, dan ketika itu akan dicabut kehebatanmu dimata musuh-musuhmu, karena kalian terlalu mencintai dunia, dan takut akan kematian.”

Dewasa ini, kita masih malu dan minder untuk menunjukkan identitas kita sebagai muslim sejati, apalagi di kalangan remaja dan pemuda yang dengan bangga memakai budaya luar agar kelihatan ngetren dan beken, padahal di pundak merekalah agama dan bangsa ini dipertaruhkan. Itu dikarenakan opini yang berkembang bahwa orang yang berpenampilan dengan busana Islam dan melaksanakan syariat Islam dengan sempurna sudah tidak mengikuti zaman dan kelihatan kolot, kalau semua remaja dan pemuda Islam sudah terpedaya dengan asumsi ini, maka impian untuk membangkitkan Ruh Islam hanyalah tinggal harapan kosong. Dan ini peluang besar bagi para pembenci Islam untuk terus merekayasa segala opini guna menghancurkan Islam dari dalam dan dari luar. Namun seiring dengan berjalannya waktu, semua realita terungkap, bahkan tuduhan mereka malah menjadi fitnah bukan fakta, bagaimana tidak, jika kita mau menelusuri ajaran Islam dengan baik dan cermat, bahwa Islam tidak cuma mengajarkan kita ranah aqidah dan Ibadah saja, namun Islam memberi tuntunan kepada pemeluknya dalam segala aspek dan sisi kehidupan. misalnya dari segi ekonomi, pada saat terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1977, ternyata system ekonomi Islam adalah satu-satunya solusi untuk menangani krisis tersebut. (DR.Syafii Antonio). Dan sistem ekonomi Islam juga sudah mulai banyak di terima baik di negara berkembang meskipun negara maju sekalipun, dan kini sistem ekonomi Islam sudah mulai tumbuh di seantero jagat, mulai dari timur tengah, kawasan asia hingga negara-negara barat seperti Inggris. (artikel: Riset Ekonomi Islam: Aam slamet Rusydiana). Itu semua tidak lain karena sistem ekonomi Islam dapat mengatasi problematika ekonomi masa kini. Bila kita mencermati dari sisi lain bahwa penelitian abad modern telah membuktikan bahwa perintah dan aturan Islam tentang kehidupan manusia itu tidak lain karena bukti kecintaan sang khaliq kepada makhluknya, di mana semua perintah tersebut untuk menjaga keseimbangan hidup manusia itu sendiri. Dan bila kita sorot dari sisi medis, bahwa perintah agama ini justru untuk kemaslahatan penganutnya. Misalnya saja, Islam memerintahkan umatnya untuk berpuasa, dan menurut penelitian medis bahwa puasa adalah cara terjitu untuk menyeimbangkan proses pencernaan manusia. Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ilmuan berkebangsaan Rusia yang bernama Vladimir Nikitin, awalnya ia tertarik kepada umat Islam di mana agama Islam merupakan satu-satunya agama yang mengajarkan puasa begitu banyak, mulai dari puasa nabi daud, puasa senin kamis dan lainnya. kemudian dalam eksperimennya ia mencoba membuat tiga kelompok tikus.

kelompok pertama: dipuasakan senin kamis,

kelompok kedua: dipuasakan nabi daud,

kelompok ketiga: dipuasakan setiap hari tanpa buka dan sahur,

kelompok keempat: diberikan makan setiap hari.

kemudian apa yang terjadi?

tikus kelompok 3 ternyata kurus kering umurnya juga pendek-pendek, dan tikus kelompok empat umurnya 2 tahun setengah, sedangkan tikus kelompok 1 dan 2 rata-rata umurnya 4 tahun, dari percobaan ini kemudian ia menarik kesimpulan ternyata puasa dapat memanjangkan umur (dr.Agus rahmadi). Tentu ini bukan sebuah kebetulan, dan masih banyak pembuktian kebenaran Islam di sektor lain yang terungkap satu demi satu, dan ini akan mematahkan fitnah yang menyebar selama ini tentang kejelekan dan kekolotan Islam.

Akan hancur sebuah bangsa dan agama, apabila kehabisan stok penerus masa depan. jangan harap ada penganut agama lain membangkitkan syiar Islam kalau bukan umat Islam itu sendiri. Hilangkan permusuhan sesama umat, tinggalkan perdebatan khilafiah yang tidak berujung pada garis finish, mari kita didik remaja dan pemuda sebagai aset paling berharga untuk masa depan bangsa dan agama dengan menanamkan ruh Islam hingga berakar kuat di jiwa mereka. Berimplikasi dari itu maka peran para Ibu sangatlah urgensi dalam mendidik anak-anaknya dengan mengenalkan kepada mereka tentang Islam sejak dini. Anak itu ibarat botol kosong, jika mereka dikenalkan tentang Islam sebelum mereka mengenal budaya luar, tentu Islam akan memfilter mereka dari budaya luar, namun bila budaya luar lebih dahulu mereka kenal daripada Islam maka ditakutkan budaya luar akan memfilter mereka dari Islam, dan itu tidak hanya menjadi malapetaka untuk orang tuanya saja tapi juga akan menjadi musibah untuk bangsa dan agamanya. Bila kedua orang tuanya telah mendidik anak dengan cara Islam dan membiasakan anak-anaknya dengan budaya Islam serta menjauhkan mereka dari budaya asing baik dari segi bacaan, tontonan, maupun tingkah laku, seiring dengan pertumbuhan si anak maka Islam sudah menjadi harga mati dalam diri dan hidupnya. Dengan demikian maka ikon rumah sebagai pendidikan pertama bagi anak benar terwujud adanya, tidak hanya selogan semata. Sebagaimana kata rasul” Setiap anak terlahir dalam keadaan suci, maka orangtuanyalah yang menjadikannya yahudi atau nasrani atau majusi.” berarti peran orang tua dalam menanamkan pendidikan kepada anak tidak bisa di pandang sebelah mata.

Untuk itu pembinaan pembelajaran wanita pranikah sangatlah amat penting, di mana mereka dibina untuk membangun rumah tangga seindah syurga dan menjaga anak sebening mata. Bila budaya mendidik anak dengan cara Islam sudah merebak di setiap keluarga, maka akan tercipta lingkungan dan masyarakat Rabani. Tidak cukup sampai disitu, salah memilih sekolah juga dapat menghancurkan etika si anak. Pilihlah sekolah yang di dalamnya terdapat para guru yang dapat mencontohkan suri tauladan yang baik bagi anak-anak, dan di dalamnya tidak terdapat ajaran yang dapat meleburkan aqidah. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sekolah kita di era ini krisis akan tenaga pendidik yang tidak hanya bisa mentransfer ilmunya tapi juga mampu menjadi contoh bagi murid-muridnya dari segi berbicara, beretika, dan mendidik dengan penuh kesabaran dan keuletan. kalau semua itu sudah kita waspadai, maka ini merupakan langkah dini untuk mewujudkan impian dalam membangkitkan masa depan bangsa yang rabani. Para orang tua memiliki peran yang amat besar dalam memberi kontribusi demi masa depan bangsa dan agama.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Arrisyadi Mursal
Nama : Mursal M.Jafar Mahasiswa program studi "Islamic Studies", sedang menyelesaikan program strata 1 di negeri ratu Balqies, Republik Yaman. Mohon kiranya doa pembaca untuk kesuksesan studi penulis.

Lihat Juga

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini